ADHD

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 September 2020 . Waktu baca 13 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu ADHD?

Attention-deficit hyperactivity disorder atau ADHD adalah gangguan perkembangan saraf masa kanak-kanak yang paling umum. Kondisi ini biasanya didiagnosis pertama kali saat anak-anak dan bisa bertahan hingga dewasa. 

Anak dengan kondisi ini biasanya punya masalah mencari perhatian, mengendalikan perilaku impulsif (dapat bertindak tanpa memikirkan konsekuensinya), atau terlalu aktif

Tiga subtipe dari ADHD adalah:

  • Dominan hiperaktif-impulsif

Orang dengan ADHD yang lebih dominan hiperaktif-impulsif biasanya memiliki masalah hiperaktivitas dan perilaku impulsif.

  • Dominan inatensi

Orang dengan ADHD yang lebih dominan inatensi biasanya memiliki gejala tidak dapat memperhatikan dengan baik.

  • Kombinasi hiperaktif-impulsif dan inatensi

Kelompok ini memiliki gejala hiperaktif, impulsif, dan tidak dapat memperhatikan.

Seberapa umum ADHD?

ADHD sangat umum ditemui dan termasuk salah satu kelainan paling umum terjadi pada anak-anak. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dengan usia berapapun. ADHD dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala ADHD?

American Psychiatric Association menyebut gejala kondisi ini adalah kurang perhatian (tidak bisa tetap fokus), hiperaktif (terlalu banyak pergerakan hingga tidak bisa diam), dan impulsivitas (tindakan tergesa-gesa yang terjadi tanpa dipikirkan). 

Banyak gejala anak hiperaktif, seperti aktivitas tinggi, kesulitan untuk tetap diam dalam waktu yang lama, dan rentang perhatian yang terbatas, umumnya terjadi pada anak kecil.

Perbedaan anak hiperaktif dengan anak lain adalah tingkat hiperaktif dan kurang perhatian mereka lebih tinggi daripada anak-anak kebanyakan. Perilaku itu juga bisa menyebabkan kesusahan atau masalah di rumah, di sekolah, atau lingkungan pertemanan.  

Berdasarkan jenisnya, gejala yang ditimbulkan orang dengan ADHD adalah:

Dominan inatensi

Orang dengan kondisi ini biasanya merasakan:

  • Tidak memperhatikan hal detail atau membuat kesalahan ceroboh pada tugas sekolah atau pekerjaan. 
  • Bermasalah dalam fokus terhadap tugas atau aktivitas, seperti dalam kelas, percakapan, atau bacaan panjang.
  • Seperti tidak mendengarkan lawan bicara (seperti berada di tempat lain). 
  • Tidak mengikuti arahan dan tidak menyelesaikan tugas sekolah atau kantor (mungkin sudah mulai mengerjakan, tapi tidak fokus). 
  • Punya masalah mengatur tugas dan pekerjaan (contohnya, tidak bisa mengatur waktu dengan baik, pekerjaan berantakan, dan melewatkan deadline). 
  • Menghindari atau tidak menyukai tugas yang melibatkan upaya mental berkelanjutan, seperti menyiapkan laporan dan mengisi formulir. 
  • Sering kehilangan barang yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas atau menjalani keseharian, seperti lembaran tugas sekolah, buku, kunci, dompet, ponsel, atau kacamata. 
  • Mudah terdistraksi. 
  • Melupakan tugas sehari-hari. Remaja dan orang dewasa mungkin lupa untuk menelpon balik, membayar tagihan, dan menepati janji.

Dominan hiperaktif/impulsif

Orang dengan kondisi ini biasanya merasakan:

  • Gelisah dengan mengetukkan tangan atau kaki, atau menggeliat di kursi. 
  • Tidak bisa duduk diam (di kelas, atau ruang kerja). 
  • Lari atau memanjat di tempat yang tidak seharusnya. 
  • Tidak bisa bermain atau melakukan aktivitas di waktu luang dengan tenang. 
  • Selalu “dalam perjalanan”, seakan digerakan oleh motor. 
  • Terlalu banyak bicara. 
  • Menjawab sebelum pertanyaan selesai dilontarkan (misalnya memotong kalimat orang lain dan tidak sabar untuk berbicara dalam percakapan). 
  • Kesulitan menunggu giliran saat mengantri. 
  • Melakukan interupsi terhadap orang lain (misalnya dalam percakapan, permainan, atau aktivitas, menggunakan barang orang lain tanpa permisi). Remaja atau orang dewasa mungkin akan mengambil alih aktivitas orang lain.  

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Perkembangan anak dan ADHD

Mayo Clinic menyebut sebagian besar anak yang sehat bersikap inatensi, hiperaktif, atau impulsif dalam satu waktu. Biasanya anak-anak prasekolah memiliki rentang perhatian yang pendek dan tidak dapat bertahan dengan satu kegiatan dalam waktu yang lama. Bahkan pada remaja, rentang perhatian sering tergantung pada minat masing-masing. 

Hal yang sama berlaku pada hiperaktivitas. Anak kecil biasanya energetik secara alami, mereka sering berada pada energi maksimal dalam waktu yang lama, meski sudah diperingatkan oleh orangtua. 

Selain itu, beberapa anak secara alami memiliki tingkat aktivitas yang lebih tinggi daripada yang lain. Anak-anak tidak boleh disebut mengidap ADHD hanya karena mereka berbeda dari teman atau saudara kandungnya. 

Anak-anak yang punya masalah di sekolah, tapi bersikap baik-baik saja di rumah atau lingkungan temannya cenderung mengalami hal lain selain ADHD. Hal yang sama berlaku pada anak hiperaktif atau inatensi di rumah, tapi tidak di lingkungan sekolah dan teman. 

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter bila perilaku anak Anda mempengaruhi hidup Anda. Ingatlah bahwa ADHD dapat dikendalikan dengan bantuan pengobatan dan dukungan.

Penyebab

Apa penyebab ADHD?

Belum ditemukan banyak informasi mengenai penyebab ADHD. Namun, para ilmuwan masih mempelajarinya. Penyebab dan faktor risiko kondisi ini tidak diketahui, tapi penelitian menunjukkan genetik berperan penting. 

Selain genetik, ilmuwan juga mempelajari kemungkinan penyebab dan faktor risiko yang lain, seperti:

  • Cedera otak
  • Paparan lingkungan dalam masa kandungan atau usia dini
  • Penggunaan alkohol dan tembakau saat kehamilan
  • Kelahiran prematur
  • Berat badan lahir yang rendah

Tidak ada penelitian yang mendukung anggapan populer di masyarakat soal penyebab anak hiperaktif, seperti terlalu banyak konsumsi gula, terlalu banyak menonton TV, atau faktor sosial dan lingkungan seperti kemiskinan dan kekacauan keluarga. 

Banyak hal, seperti yang disebutkan di atas, mungkin memperparah gejala kondisi tersebut. Namun, tidak bisa dijadikan bukti yang kuat untuk menyimpulkan bahwa hal itu menjadi penyebab anak hiperaktif. 

Diagnosis

Bagaimana mendiagnosis ADHD?

Memutuskan apakah seorang anak mengalami ADHD harus melalui beberapa tahap. Tidak ada satu tes pun yang bisa mendiagnosis ADHD, dan banyak masalah lain, seperti kecemasan, depresi, masalah tidur, dan jenis ketidakmampuan belajar tertentu, dapat memiliki gejala yang mirip. 

Tahap-tahap yang mungkin dilakukan untuk melakukan diagnosis ADHD adalah:

  • Pemeriksaan medis, dokter dapat melakukan beberapa tes gambar dan tes laboratorium untuk mengeliminasi kemungkinan penyebab lainnya
  • Pengumpulan informasi: seperti isu medis, sejarah medis personal dan keluarga, serta catatan sekolah
  • Wawancara atau kuesioner yang dilakukan terhadap anggota keluarga, guru anak atau orang lain yang mengenal baik anak, seperti pengasuh
  • Kriteria ADHD dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders
  • Skala penilaian ADHD untuk mengumpulkan dan mengevaluasi informasi mengenai anak Anda. 

American Center for Disease Control and Prevention menyebutkan bahwa orang dengan ADHD menunjukkan pola lalai yang terus-menerus dan mengganggu fungsi atau perkembangan. Berikut kriteria yang dapat membantu dokter melakukan diagnosis kondisi tersebut, berdasarkan publikasi American Psychiatric Association.

  • Jenis inatensi

Menemukan enam atau lebih gejala inatensi untuk anak-anak hingga usia 16 tahun, dan lima atau lebih gejala pada remaja berusia 17 tahun atau lebih tua. Gejala kondisi ini diperlihatkan paling tidak selama enam bulan. 

  • Jenis hiperaktivitas atau impulsivitas 

Menemukan enam atau lebih gejala hiperaktivitas atau impulsivitas untuk anak-anak hingga usia 16 tahun, dan lima atau lebih gejala pada remaja berusia 17 tahun atau lebih tua. Gejala kondisi ini diperlihatkan paling tidak selama enam bulan. 

Kriteria tambahan

Selain itu, kondisi tersebut harus memenuhi kriteria berikut ini: 

  • Beberapa gejala inatensi atau hiperaktif-impulsif muncul sebelum usia 12 tahun. 
  • Beberapa gejala muncul dalam dua lingkungan atau lebih, seperti di rumah atau sekolah; dengan teman atau kerabat; dalam kegiatan lain. 
  • Ada bukti yang jelas bahwa gejala mengganggu atau mengurangi kualitas fungsi di sosial, sekolah, atau kerja. 
  • Gejala tidak terjadi hanya selama skizofrenia atau gangguan psikotik lainnya. 

Pengobatan

Bagaimana cara mengobati ADHD?

Terapi perilaku dan obat-obatan dapat mengatasi gejala ADHD. Penelitian telah menemukan bahwa kombinasi dari dua cara itu bekerja paling baik di sebagian besar orang, khususnya mereka yang mengidap ADHD sedang hingga parah. Pengobatan untuk ADHD adalah:

Terapi

Terapi perilaku dilakukan untuk mengatur gejala dari kondisi tersebut. Pada anak, perawatan biasanya termasuk mengajari orangtua dan guru untuk memperlihatkan timbal balik positif terhadap keinginan melakukan hal negatif. 

Meskipun terapi sikap membutuhkan koordinasi yang hati-hati, itu bisa membantu anak dalam mengatur perilakunya dan memutuskan pilihan yang baik. Orang dewasa dengan ADHD dapat mengambil manfaat dari psikoterapi

Obat

Ada dua jenis obat untuk anak hiperaktif, yaitu yang stimulan dan non-stimulan. Obat-obatan stimulan merupakan pengobatan yang sangat efektif dan sudah digunakan selama bertahun-tahun. Obat tersebut termasuk methylphenidate dan ampheetamin.

Dua obat non-stimulan, yaitu atomoxetine dan guanfacine, juga efektif untuk menangani gejala anak hiperaktif. Obat-obatan tersebut merupakan alternatif bagi mereka yang tidak merespon dengan baik obat stimulan, atau mereka lebih memilih obat non-stimulan. 

Beberapa anak mengalami penyembuhan gejala yang dramatis dengan obat-obatan dan pemulihan itu berlanjut dengan perawatan lainnya. Anak-anak lain mungkin hanya mengalami kelegaan sebagian atau efek obat berhenti sama sekali. 

Perubahan atau penyesuaian dosis mungkin berpengaruh pada responnya. Beberapa anak dan keluarga lain mungkin bisa pulih dengan terapi yang spesifik menangani masalah perilaku. 

Obat-obatan dapat membantu tanda-tanda dan gejala inatensi dan hiperaktif, sebagai contoh:

  • Amphetamine seperti dextroamphetamine (Dexedrine), dextroamphetamine-amphetamine (Adderall) dan lisdexamfetamine (Vyvanse)
  • Methylphenidate seperti methylphenidate (Concerta, Metadate, Ritalin, others) dan dexmethylphenidate (Focalin)
  • Atomoxetine (Strattera)
  • Antidepressan seperti bupropion (Wellbutrin, others)
  • Guanfacine (Intuniv, Tenex)
  • Clonidine (Catapres, Kapvay)

Beberapa pengobatan alternatif telah diuji coba, seperti:

  • Yoga atau meditasi membantu anak-anak untuk rileks dan disiplin.
  • Diet khusus, kebanyakan diet untuk ADHD mengeliminasi makanan seperti gula dan alergen seperti gandum, susu dan telur.
  • Campuran yang terbuat dari vitamin, mikronutrien, dan kandungan lainnya yang dijual sebagai suplemen untuk anak hiperaktif.
  • Asam lemak penting seperti minyak omega-3 yang dibutuhkan otak untuk berfungsi dengan baik.
  • Pelatihan neuro-feedback membantu anak-anak menjaga pola gelombang otak tetap aktif pada bagian depan otak.
  • Olahraga memiliki efek positif pada perilaku anak-anak dengan ADHD jika disertai dengan pengobatan.

Pengasuhan anak

Anak hiperaktif cenderung mendapat manfaat dari struktur, rutinitas, dan harapan yang jelas. Cara di bawah ini mungkin bermanfaat:

  • Buat jadwal yang jelas. 
  • Pertahankan rutinitas. 
  • Pastikan arahan mudah dipahami (gunakan bahasa sederhana dan contohkan). 
  • Fokus pada anak Anda ketika berbicara pada mereka. Hindari melakukan banyak hal dalam satu waktu. 
  • Lakukan pengawasan. Anak hiperaktif mungkin membutuhkan lebih banyak pengawasan daripada anak-anak lain. 
  • Berkomunikasilah dengan guru anak Anda. 
  • Contohkan perilaku tenang. 
  • Fokus pada usaha dan hargai perilaku yang baik. 

Pengobatan apa yang sederhana dan bisa saya lakukan sendiri di rumah untuk mengatasi anak ADHD? 

Mengingat ADHD merupakan kondisi yang kompleks dan berbeda di setiap orang, sulit untuk merekomendasikan apa yang terbaik untuk mengatasinya. Namun, beberapa saran di bawah ini mungkin bisa membantu menciptakan lingkungan yang bekerja baik untuk anak Anda. 

Anak di rumah

  • Tunjukan kasih sayang pada anak Anda

Anak butuh mendengar bahwa mereka dicintai dan dihargai. Fokus pada aspek negatif dari perilaku anak Anda yang bisa mengganggu hubungan dan mempengaruhi kepercayaan diri dan penghargaan diri. 

Jika anak Anda kesulitan menerima tanda verbal kasih sayang, senyuman, sentuhan pada pundak, atau pelukan bisa menunjukkan bahwa Anda peduli. Perhatikan juga perilaku anak yang bisa Anda puji. 

  • Cari cara untuk meningkatkan harga diri

Anak hiperaktif biasanya baik dalam kesenian, seperti pelajaran musik atau menari. Pilih aktivitas yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Semua anak punya talenta spesial dan minat yang bisa dimanfaatkan. Pencapaian kecil bisa meningkatkan harga diri. 

  • Gunakan kalimat sederhana dan contohkan ketika Anda memberikan arahan pada anak

Bicaralah secara perlahan dan tenang, serta sangat spesifik. Berikan satu arahan dalam satu waktu. Berhenti melakukan apapun dan tatap mata Anda sebelum dan saat Anda memberikan arahan. 

  • Identifikasi situasi sulit

Cobalah untuk menghindari situasi sulit untuk anak Anda, seperti duduk saat presentasi panjang atau berbelanja di mal atau toko. 

  • Terapkan konsekuensi untuk melatih disiplin

Mulailah dengan latihan disiplin yang tegas dan penuh kasih, yaitu menghargai perilaku baik dan mencegah perilaku negatif. Cara timeout atau waktu habis harus relatif singkat. Tujuannya adalah untuk menyetop dan menjinakkan perilaku tak terkontrol. 

  • Lakukan latihan mengatur

Bantu anak Anda mengatur dan mempertahankan tugas harian dan pastikan anak Anda punya tempat tenang untuk belajar. Kelompokkan benda-benda di kamar anak dan simpan di tempat-tempat yang ditandai dengan jelas. 

Cobalah untuk membantu anak Anda menjaga lingkungannya tetap teratur dan rapi. 

  • Cobalah mempertahankan jadwal makan, istirahat, dan tidur

Anak hiperaktif biasanya kesulitan untuk menerima dan menyesuaikan perubahan. Gunakan kalender besar untuk menandai aktivitas khusus yang akan datang atau kegiatan penting setiap hari. Hindari atau peringatkan anak Anda sebelum melakukan perubahan aktivitas mendadak. 

  • Dorong interaksi sosial 

Bantu anak Anda mempelajari keterampilan sosial dengan membuat model, mengenali, dan menghargai interaksi positif dengan teman sebaya. 

  • Lakukan kebiasaan gaya hidup sehat

Pastikan anak Anda cukup istirahat. Cobalah menjauhkan anak Anda dari kelelahan karena itu bisa membuat gejala anak hiperaktif lebih buruk. 

Penting bagi anak Anda untuk mengonsumsi gizi seimbang. Sebagai tambahan demi kesehatan, olahraga rutin mungkin menyebabkan efek positif pada perilaku.

Anak di sekolah

  • Tanya tentang program sekolah

Sekolah diwajibkan oleh negara untuk memiliki program untuk memastikan anak-anak dengan kondisi tertentu, yang mengganggu proses belajar, mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan. 

Peraturan itu mungkin termasuk evaluasi, kurikulum, penyesuaian, perubahan dalam pengaturan ruang kelas, teknik pengajaran yang dimodifikasi, penggunaan komputer, dan peningkatan kolaborasi antara orangtua dan guru. 

  • Berkomunikasi dengan guru 

Tetaplah berkomunikasi dengan guru Anda dan dukung usaha mereka membantu anak Anda di kelas. Pastikan guru bisa memantau anak Anda, memberikan timbal balik, fleksibel, dan sabar. Pastikan mereka menunjukkan arahan yang jelas pada anak Anda. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Amfetamin

    Amfetamin adalah obat untuk meningkatkan dopamin (zat kimia yang berhubungan dengan rasa senang & tenang) di otak. Obat ini harus dengan resep dokter.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Obat A-Z, Obat-obatan & Suplemen A-Z 27 November 2018 . Waktu baca 7 menit

    Apakah Main Video Games Tingkatkan Risiko ADHD Pada Anak?

    Meski seru dan mengasyikkan, tapi frekuensi bermain video game yang berlebihan telah dikaitkan sebagai ADHD pada anak. Benarkah demikian?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 30 Oktober 2018 . Waktu baca 4 menit

    Stunting pada Anak, Ketahui Penyebab, Ciri, dan Cara Mengatasinya

    Stunting, masalah gizi pada anak yang utama di Indoensia dan harus ditangani sedini mungkin demi tumbuh kembang anak. Lantas apa tanda anak stunting?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Kesehatan Anak, Parenting 19 September 2018 . Waktu baca 14 menit

    Anak Hiperaktif: Penyebab, Ciri-ciri, dan Cara Menanganinya

    Hiperaktif adalah suatu kondisi yang banyak ditakuti orangtua. Yuk, pelajari serba-serbi hiperaktivitas dalam ulasan lengkap berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Riska Herliafifah
    Kesehatan Anak, Parenting 13 Agustus 2018 . Waktu baca 7 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    hubungan asmara penderita adhd

    Selain Hubungan Seks, Ada Masalah Hubungan Asmara pada Penderita ADHD

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 14 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
    anak adhd bisa sembuh

    Apakah Anak yang Mengalami ADHD Bisa Sembuh?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit
    anak ADHD belajar

    5 Kiat Membantu Anak ADHD Mengikuti Pelajaran di Sekolah

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 5 Januari 2020 . Waktu baca 5 menit
    gagal tumbuh pada anak

    Kenali Gagal Tumbuh Pada Anak, Ketika Tumbuh Kembang Si Kecil Terhambat

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Dipublikasikan tanggal: 23 Mei 2019 . Waktu baca 6 menit