Awas, Kebanyakan Minum Teh Bisa Memperparah Gejala Anemia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Anemia defisiensi besi adalah jenis anemia yang paling umum. Tubuh bisa kekurangan zat besi akibat kekurangan darah, tidak mampu menyerap zat besi dengan baik, atau kurang makan makanan yang mengandung zat besi. Orang yang punya anemia umumnya akan merasa cepat kelelahan, wajahnya memucat, dan sesak napas. Gejala-gejala ini akibat tubuh yang kekurangan hemoglobin, sel darah merah pembawa oksigen ke dalam jaringan tubuh. Lantas, kenapa efek minum teh kebanyakan bisa menjadi penyebab anemia?

Efek minum teh kebanyakan, jadi penyebab anemia

Efek minum teh kebanyakan benar bisa menyebabkan anemia. Pasalnya, tanin dalam teh dapat mengganggu proses penyerapan zat besi. Efek minum teh ini terutama harus lebih diwaspadai oleh orang-orang yang memang sudah memiliki anemia zat besi, masalah penyerapan nutrisi (penyakit Celiac atau Crohn), dan gangguan perdarahan.

Sebuah laporan dari Colorado State University menemukan bahwa minum teh bisa mengurangi penyerapan zat besi hingga 60 persen. Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki kondisi ini dianjurkan untuk tidak mengonsumsi teh bersamaan dengan makanan. Kalau mau, minum teh harus 1-2 jam sesudah makan agar kandungan tanin dalam teh tidak mengganggu penyerapan zat besi dari makanan yang Anda makan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh M Nelson dan J. Poulter, jika Anda tidak memiliki kondisi-kondisi di atas, Anda tidak akan berisiko mengalami anemia jika rutin minum teh.

Efek samping lainnya yang mungkin terjadi jika kebanyakan minum teh

Bagi Anda yang tidak memiliki anemia atau masalah lainnya yang terkait dengan kadar zat besi atau penyerapan nutrisi, minum teh rutin tidak menjadi masalah. Namun ini bukan berarti Anda bisa mengonsumsinya berlebihan.

Minum teh sebaiknya tidak lebih dari lima cangkir setiap hari. Jika kebiasaan minum teh kebanyakan dibiarkan berlangsung selama bertahun-tahun, Anda berisiko mengalami beberapa gangguan kesehatan seperti susah tidur (insomnia), anemia, ketergantungan, hingga osteoporosis.

Perubahan pola hidup untuk mengatasi anemia

Berikut terdapat beberapa tips yang dapat anda lakukan untuk mengurangi dan memperbaiki kekurangan zat besi, antara lain :

  • Anda perlu mencari tahu dahulu apa penyebab dari anemia yang anda alami. Hentikan atau atasi penyebabnya
  • Konsumsilah suplemen besi lalu cek kembali kadar Hb Anda setelah sebulan. Adanya kenaikan kadar Hb sebanyak 1 g/dl sesudah terapi menunjukkan kemajuan yang sangat baik. Lalu, setelah 6 bulan setelah pengobatan, Anda juga perlu melakukan pengecekkan kadar Hb kembali untuk memantau keberhasilan dari terapi yang dilakukan.
  • Selain pengecekan Hb, Anda juga dapat mengecek kadar serum ion (SI), saturasi ferritin dan kadar TIBC anda.
  • Pada orang dewasa pemberian tablet besi dapat dikonsumsi hingga 3 bulan, sedangkan pada bayi dan anak-anak, lama terapi oral dapat diberikan selama 1-3 bulan, dengan waktu maksimal 5 bulan.
  • Anda perlu mengetahui pula kalau obat penambah darah juga memiliki efek samping pada sistem pencernaan seperti sakit perut, mual, muntah dan warna BAB yang kehitaman.
  • Jika Anda tidak dapat mengonsumsi suplemen zat besi oral, maka Anda dapat mendapatkan tambahan zat besi lewat infus. Efek samping terapi infus termasuk mual, nyeri kepala, hipotensi, hingga reaksi anafilaktik.
  • Transfusi darah juga dapat diberikan bila Hb Anda sangat rendah, yaitu di bawah 8 g/dl.
  • Sedangkan untuk mempermudah penyerapan besi, dianjurkan untuk mengonsumsi vitamin C, misalnya mengonsumsi jus jeruk sebagai minuman sesudah makan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perbandingan Jumlah Kafein dalam Kopi, Teh, dan Cokelat

Hampir semua orang menyukai kopi, teh, atau cokelat yang mengandung kafein. Namun, tahukah Anda berapa banyak jumlah kafein dalam kopi, teh, dan cokelat?

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Nutrisi, Hidup Sehat 6 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Osteoarthritis (Pengapuran Sendi)

Osteoarthritis atau pengapuran sendi adalah penyakit yang membuat sendi terasa nyeri dan kaku. Berikut informasi tentang gejala, penyebab dan pengobatannya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Arthritis (Radang Sendi), Kesehatan Muskuloskeletal 6 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit

Apa Pengobatan yang Bisa Dilakukan untuk Thalasemia?

Meski tak ada obat untuk menyembuhkan thalasemia, ada beberapa pilihan pengobatan standar, seperti transfusi darah atau transplantasi sumsum tulang.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Penyakit Kelainan Darah, Thalasemia 5 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Mengenal Jenis-Jenis Thalasemia dan Perbedaan Masing-Masingnya

Thalasemia memiliki beberapa jenis yang dibedakan berdasarkan keparahannya, yaitu mayor dan minor. Apa perbedaan thalasemia minor dan mayor?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Penyakit Kelainan Darah, Thalasemia 5 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

makanan untuk penderita thalasemia

Panduan Makanan Bergizi untuk Orang dengan Thalassemia

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
bmt transplantasi sumsum tulang

Memahami Prosedur Transplantasi Sumsum Tulang Belakang (BMT)

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit
perlukah lansia minum susu

Apakah Lansia Masih Perlu Minum Susu? Berapa Banyak yang Dibutuhkan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
penyakit pada lansia

5 Penyakit yang Banyak Menyerang Lansia di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 12 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit