Penasaran dengan jenis kelamin janin Anda? Untungnya, saat ini sudah ada banyak cara untuk mengetahui jenis kelamin bayi sebelum dilahirkan.
Penasaran dengan jenis kelamin janin Anda? Untungnya, saat ini sudah ada banyak cara untuk mengetahui jenis kelamin bayi sebelum dilahirkan.

Biasanya, calon orang tua berusaha mengetahui jenis kelamin lebih cepat supaya bisa segera mempersiapkan perlengkapan bayi baru lahir.
Selain tebak-tebakan, beberapa orang mungkin masih memercayai mitos tentang cara mengetahui jenis kelamin janin, seperti melihat bentuk perut ibu hamil.
Padahal, pada masa modern ini, sudah banyak metode medis yang bisa dilakukan untuk mengetahui jenis kelamin bayi secara lebih akurat.
Berikut adalah beberapa cara untuk mengetahui jenis kelamin janin Anda.

Biayanya yang relatif terjangkau dan prosedurnya yang mudah membuat USG masih menjadi metode paling banyak digunakan untuk mengetahui jenis kelamin janin.
Sebenarnya, USG bukan hanya dilakukan untuk mengetahui jenis kelamin janin, tetapi memeriksa area perut secara umum, seperti cairan ketuban, posisi janin, hingga detak jantung janin.
Dokter biasanya bisa mengetahui jenis kelamin janin melalui USG setelah usia kehamilan memasuki 14 minggu.
Untuk mendapatkan gambaran bayi dalam kandungan yang lebih jelas, Anda bisa mencoba USG 4D.
Meski begitu, posisi tertentu mungkin membuat alat kelamin janin Anda tertutupi sehingga sulit terdeteksi melalui USG.
Selain itu, perlu diingat bahwa USG hanya menilai jenis kelamin dari penampilannya. Artinya, dokter bisa saja salah mengira penis sebagai garis vagina, dan sebaliknya.
Non-Invasive Prenatal Test atau NIPT adalah pemeriksaan jenis kelamn dengan cara mengambil sampel darah ibu untuk diperiksa kromosomnya.
Pemeriksaan ini juga disebut sebagai tes DNA sel bebas atau tes prenatal non-invasif.
NIPT dikatakan non-invasif karena prosedurnya yang sederhana dan tidak memerlukan tindakan pembedahan atau pengambilan jaringan.
Selain itu, NIPT juga tidak menimbulkan risiko terhadap kehamilan dan memiliki akurasi lebih tinggi dibandingkan USG.
Menurut studi yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association, tingkat akurasi NIPT untuk bayi laki-laki bisa mencapai 95,4% dan 98,6% untuk perempuan.
Dengan NIPT, Anda bisa mengetahui berbagai hal berikut.
Dokter biasanya menyarankan tes NIPT jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan kelainan genetik.

Cara lain untuk mengetahui jenis kelamin bayi adalah dengan metode amniosentesis. Ini dilakukan dengan cara memeriksa cairan ketuban ibu hamil.
Untuk mengambil sampel cairan ketuban, dokter akan menusukkan jarum suntik ke perut ibu hamil. Supaya tidak sakit, dokter akan memberikan obat bius terlebih dulu.
Amniosentesis biasanya dilakukan saat kandungan sudah berusia 15–20 minggu karena melakukannya lebih cepat bisa menimbulkan komplikasi kehamilan.
Sebenarnya, amniosentesis bukanlah pemeriksaan yang dikhususkan untuk mengetahui jenis kelamin janin, melainkan kondisi genetis secara umum.
Oleh karena itu, tes ini biasanya hanya disarankan bagi ibu hamil yang mengalami kondisi berikut.
Cara lain yang bisa Anda pertimbangkan untuk mengetahui jenis kelamin bayi adalah chorionic villus sampling (CVS).
CVS dilakukan dengan cara mengambil sampel vilus korionik, sejenis jaringan pada plasenta. Dengan cara ini, dokter dapat mengetahui kondisi kromosom janin.
Sebenarnya, tujuan utama CVS adalah deteksi dini kelainan genetis tertentu. Namun, tes ini juga dapat mengetahui jenis kelamin janin sejak kandungan berusia 11 minggu.
Seperti halnya amniosentesis, CVS disarankan jika Anda hamil di atas usia 35 tahun dan memiliki riwayat kelainan genetis dalam keluarga atau kehamilan sebelumnya.
Selain jenis kelamin bayi, tes ini juga dapat menunjukkan kelainan gender, seperti interseks. Ini adalah kondisi saat bayi lahir dengan dua alat kelamin.
Sampai saat ini, masih cukup banyak mitos tentang pengecekan jenis kelamin janin. Karena merupakan mitos, pastikan Anda tidak memercayai berbagai hal berikut.
Setiap janin bisa memiliki kecepatan detak jantung yang berbeda-beda. Detak jantung biasanya lebih cepat seiring dengan bertambahnya usia janin.
Itu artinya, detak jantung janin yang lebih cepat tidak selalu berarti bahwa janin Anda berjenis kelamin laki-laki.
Selama ini, perut ibu hamil yang menonjol ke depan dikaitkan dengan anak laki-laki. Sementara itu, perut yang melebar ke samping identik dengan anak perempuan.
Faktanya, bentuk perut ibu hamil bisa berubah-ubah karena dipengaruhi oleh pergerakan janin, bukan jenis kelamin.
Mitos lain yang beredar seputar kehamilan adalah bahwa perut yang tinggi menandakan jenis kelamin janin perempuan.
Nyatanya, perbedaan tinggi perut saat hamil mungkin dipengaruhi oleh elastisitas kulit ibu hamil.
Posisi kandungan mungkin lebih tinggi karena elastisitas kulit masih baik. Elastisitas yang berkurang pada kehamilan kedua mungkin membuat perut ibu hamil terlihat lebih turun.
Perubahan warna puting merupakan kondisi yang umum terjadi pada ibu hamil, padahal ini tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin janin.
Penyebab puting yang menghitam saat hamil adalah peningkatan hormon melanosit yang berpengaruh pada warna kulit.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Committee opinion No. 640. (2015). Obstetrics & Gynecology, 126(3), e31-e37. Retrieved 28 August 2024, from https://doi.org/10.1097/aog.0000000000001051.
Prenatal genetic diagnostic tests. (n.d.). value is what Coveo indexes and uses as the title in Search Results.–> ACOG. Retrieved 28 August 2024, from https://www.acog.org/womens-health/faqs/prenatal-genetic-diagnostic-tests?utm_source=redirect&utm_medium=web&utm_campaign=otn.
Resources for patients & families. (n.d.). Johns Hopkins All Children’s Hospital. Retrieved 28 August 2024, from https://www.hopkinsallchildrens.org/Patients-Families/Health-Library/HealthDocNew/Old-Wives-Tales.
Bianchi, D. W., Chudova, D., Sehnert, A. J., Bhatt, S., Murray, K., Prosen, T. L., Garber, J. E., Wilkins-Haug, L., Vora, N. L., Warsof, S., Goldberg, J., Ziainia, T., & Halks-Miller, M. (2015). Noninvasive prenatal testing and incidental detection of occult maternal malignancies. JAMA, 314(2), 162. Retrieved 28 August 2024, from https://doi.org/10.1001/jama.2015.7120.
Versi Terbaru
03/09/2024
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita
Diperbarui oleh: Diah Ayu Lestari