Periode Perkembangan

Apakah Minum Antibiotik Saat Hamil Menyebabkan Cerebral Palsy dan Epilepsi?

Oleh

Hasil studi terbaru menunjukkan bahwa wanita yang menggunakan antibiotik macrolide sedikit lebih mungkin melahirkan anak dengan kedua kondisi ini (atau salah satu di antaranya), dibandingkan dengan wanita yang menggunakan penisilin.

Tapi tidak ditemukan hubungan antara minum antibiotik selama kehamilan, dan cerebral palsy (kondisi yang menyebabkan kelainan pergerakan) atau kejang. Hasil penelitian yang yang dilakukan belum bisa diandalkan. Bisa saja terdapat faktor lainnya, seperti jenis dan keparahan infeksi.

Studi ini tidak membuktikan bahwa macrolide menyebabkan cerebral palsy atau kejang. Infeksi dalam kehamilan mungkin adalah faktor yang meningkatkan risiko kondisi ini, bukan pengobatan itu sendiri. Tidak ada pengobatan yang 100% bebas risiko. Artinya, orang-orang harus menggunakan bukti terbaik untuk membuat keputusan antara manfaat dan risiko pilihan yang beragam.

Banyak ahli akan setuju bahwa manfaat mengobati infeksi bakteri dalam kehamilan jauh melebihi potensi risiko antibiotik. Jika infeksi tidak kunjung terobati, infeksi dapat menular ke bayi, atau lebih serius lagi yaitu keguguran atau bayi yang lahir meninggal.

Dari mana asal dugaan ini?

Ini merupakan studi penelitian berkelompok retrospektif di University College London dan Farr Institute of Health Informatics Research, London, yang melibatkan 195.909 wanita untuk mencari tahu apakah antibiotik yang digunakan selama kehamilan terkait dengan risiko cerebral palsy atau kejang yang lebih tinggi pada anak mereka.

Penelitian berkelompok sering digunakan untuk menemukan apakah kejadian tertentu berhubungan dengan hasil kesehatan tertentu. Keuntungan jenis studi ini adalah dapat mengikuti kelompok besar orang sepanjang periode yang lama, tapi tidak dapat membuktikan sebab dan akibat.

Para peneliti tersebut mengatakan bahwa antibiotik adalah salah satu obat yang paling sering diresepkan selama kehamilan.

Namun, dikatakan bahwa Randomized Controlled Trial (RCT) yang ditemukan dalam antibiotik tertentu untuk wanita yang telah melahirkan secara prematur dikaitkan dengan meningkatnya risiko cerebral palsy atau kejang pada anak berumur 7 tahun.

Kedua antibiotik yang digunakan dalam percobaan sebelumnya adalah erythromycin, macrolide, dan co-amoxiclay, sejenis penisilin.

Para peneliti menggunakan data pada 195.909 wanita yang telah mendaftar pada operasi umum sebelum kehamilan dan telah melahirkan bayi pada atau setelah 37 minggu.

Bagi wanita dengan kehamilan beberapa kali (sekitar satu seperempat kelompok), satu kehamilan dipilih secara acak untuk analisis. Wanita dengan anak yang terlahir prematur tidak termasuk, karena bayi prematur memang lebih berisiko terkena cerebral palsy dan kejang.

Mereka melihat apakah wanita telah diobati dengan antibiotik oral apapun selama hamil, dan jika demikian, dicatat kelas antibiotiknya, jumlah konsumsi obat, dan timing pengobatan selama hamil.

Anak diawasi sampai berusia 7 tahun untuk didiagnosis cerebral palsy atau kejang apapun, seperti yang tercatat dalam catatan perawatan anak primer.

Peneliti menganalisis data dengan metode statistik standar. Mereka menyesuaikan hasilnya untuk melihat faktor risiko dengan rentangan luas.

Ini termasuk umur ibu saat melahirkan; komplikasi kehamilan; kondisi kronis seperti obesitas; perawatan kondisi medis kronis selama hamil; merokok dan minum alkohol; kurang bersosialisasi; dan infeksi yang berpotensi menyebabkan kerusakan otak janin.

Hasil penelitian

Total ada 64,623 (33%) wanita diresepkan antibiotik dalam kehamilan, dan 1,170 (0.60%) anak memiliki catatan dengan indikasi mengalami cerebral palsy atau kejang, atau keduanya.

Ketika peneliti menyesuaikan hasilnya, mereka menemukan bahwa:

  • Tidak ada hubungan antara antibiotik dengan cerebral palsy maupun kejang
  • Dibandingkan dengan penisilin, antibiotik macrolide berhubungan dengan 78% meningkatnya risiko cerebral palsy atau kejang
  • Anak yang ibunya menerima lebih dari 3 resep antibiotik selama hamil memiliki 40% risiko dibandingkan dengan ibu yang tidak mendapatkan resep

Para peneliti mengatakan bahwa penemuan ini mengindikasikan resep macrolide dalam kehamilan terkait dengan meningkatnya risiko cerebral palsy atau kejang dalam masa kanak-kanak.

Mereka berspekulasi mengapa macrolide mungkin berhubungan dengan bahaya. Misalnya, bahwa jika wanita berhenti minum obat karena efek samping, infeksi yang sebagian terobati mungkin memperpanjang paparan otak janin terhadap radang.

Namun, mereka menambahkan bahwa terdapat bukti yang bertumbuh bahwa menggunakan macrolide selama hamil membahayakan, dan obat ini mungkin memiliki efek buruk tertentu bagi janin.

Kesimpulan

Penemuan dari studi besar ini mengindikasikan bahwa penggunaan antibiotik dalam kehamilan tidak terkait dengan meningkatnya risiko cerebral palsy atau kejang. Peningkatan risiko macrolide yang dibandingkan dengan penisilin tidak bisa diandalkan.

Perbandingan langsung antara wanita yang menggunakan setiap jenis antibiotik tidak akurat karena tidak memperhitungkan potensi faktor berbahaya, termasuk:

  • Jenis dan keparahan infeksi, yang mungkin telah mempengaruhi bayi, daripada antibiotik
  • Apakah wanita menghabiskan antibiotiknya ataukah ini hanya efek samping antibiotik yang dihentikan terlalu awal. Jika antibiotik tidak dihabiskan, infeksi mungkin tidak sepenuhnya sembuh, dan dapat membahayakan bayi.
  • Faktor tidak terukur lainnya yang mempengaruhi jenis antibiotik yang diberikan, seperti pengobatan atau kondisi kesehatan lainnya

Selain itu, analisis macrolide dilakukan berdasarkan sejumlah kecil wanita, sehingga hasilnya juga muncul secara kebetulan.

Penting untuk ditekankan bahwa dokter hanya akan meresepkan antibiotik dalam kehamilan jika mereka berpikir ada kebutuhan klinis yang jelas, di mana ibu dan bayi berpotensi terinfeksi. Risiko kehamilan apapun karena antibiotik mungkin jauh dilampaui oleh manfaat pengobatan.

Share now :

Direview tanggal: Mei 2, 2016 | Terakhir Diedit: Oktober 2, 2019

Yang juga perlu Anda baca