Hati-hati, Ibu Rentan Mengalami Anemia Usai Melahirkan!

    Hati-hati, Ibu Rentan Mengalami Anemia Usai Melahirkan!

    Memasuki masa nifas, ibu sering kali merasa lelah karena baru melahirkan dan mengurus bayi yang baru lahir. Namun faktanya, lemah, letih, lesu, lelah, dan lupa merupakan gejala anemia yang bisa terjadi setelah melahirkan, atau disebut postpartum anemia.

    Bagaimana membedakan kelelahan yang normal dan anemia atau kurang darah pada ibu nifas?

    Apa itu postpartum anemia?

    Postpartum anemia adalah kekurangan sel darah merah setelah melahirkan.

    Kondisi ini terjadi ketika kadar hemoglobin kurang dari 110 g/L pada satu minggu setelah melahirkan dan kurang dari 120 g/L pada 8 minggu pascapersalinan.

    Umumnya, anemia setelah melahirkan terjadi akibat kekurangan zat besi yang kronis. Melansir laman Baby Center, kekurangan zat besi dalam jumlah sedikit merupakan kondisi yang normal pada ibu setelah melahirkan.

    Pasalnya, proses melahirkan serta perdarahan vagina yang terjadi saat masa nifas membuat sebagian besar ibu kekurangan zat besi.

    Meski begitu, normalnya, kadar sel darah merah dan zat besi akan kembali normal ketika tubuh Anda kembali pulih pascapersalinan.

    Anda hanya cukup mengonsumsi makanan yang sehat selama masa nifas dengan memperbanyak asupan zat besi.

    Sayangnya pada beberapa wanita, kekurangan sel darah merah dan zat besi ini bisa sangat drastis hingga terjadi anemia.

    Padahal, kadar sel darah merah zat besi yang rendah dapat mempengaruhi suasana hati sehingga ibu sulit membangun bonding dengan bayi.

    Emosi ibu pun menjadi tidak stabil sehingga menjadi mudah marah, tersinggung, serta lebih rentan mengalami depresi pascamelahirkan.

    Kemampuan kognitif ibu pun cenderung menurun, sehingga menjadi mudah lupa.

    Bukan cuma itu, kelelahan akibat anemia pun dapat membuat ibu lebih sulit menyusui.

    Apa penyebab postpartum anemia?

    tanda bahaya masa nifas

    Umumnya, kurang darah atau anemia setelah melahirkan terjadi karena kombinasi dari faktor-faktor berikut.

    1. Anemia saat hamil

    Ibu yang mengalami anemia saat hamil lebih mungkin mengalami postpartum anemia.

    Anemia saat hamil itu sendiri didefinisikan dengan kadar hemoglobin yang kurang dari 110 g/L pada trimester pertama dan terakhir serta kurang dari 105 g/L pada trimester kedua.

    Adapun penyebab paling umum dari anemia saat hamil adalah kekurangan sel darah merah, zat besi, folat, dan vitamin B12.

    2. Perdarahan selama persalinan

    Perdarahan atau keluarnya darah selama persalinan wajar terjadi. Normalnya, darah yang keluar saat melahirkan, yaitu sekitar 300 ml.

    Namun, pada 5-6 persen wanita, darah yang keluar bisa sangat banyak hingga melebihi 500 ml.

    Kondisi inilah yang meningkatkan risiko seorang ibu kekurangan sel darah merah dan zat besi kronis hingga mengalami anemia.

    3. Kurangnya asupan zat besi

    Seperti penjelasan sebelumnya, memperbanyak konsumsi zat besi sangat penting bagi ibu yang sedang memasuki masa nifas. Bila asupan zat gizinya tidak mencukupi, anemia bisa terjadi setelah melahirkan.

    Adapun zat besi dibutuhkan tubuh untuk memproduksi hemoglobin. Hemoglobin itu sendiri berfungsi untuk menyimpan dan membawa oksigen dalam sel darah merah.

    Bagaimana membedakan anemia kekurangan zat besi dan kelelahan normal setelah melahirkan?

    Memang, terkadang sulit untuk mengetahui apakah kelelahan yang terjadi setelah melahirkan merupakan kondisi yang normal atau terjadi karena postpartum anemia.

    Apalagi, beberapa dari Anda juga mungkin merasa lemas karena baby blues atau banyaknya tantangan dalam merawat bayi yang baru lahir.

    Jika begini, bagaimana membedakan kelelahan normal dan gejala postpartum anemia? Ibu bisa mengetahuinya dengan menemukan gejala anemia lainnya.

    Bila Anda merasa lemah, letih, lesu, lelah, dan lupa bersamaan dengan gejala anemia lain, seperti detak jantung cepat atau tidak teratur (palpitasi) atau sesak napas, Anda mungkin mengalami anemia setelah melahirkan.

    Anda mungkin juga terlihat lebih pucat dari biasanya serta sering terkena penyakit infeksi, seperti batuk dan pilek.

    Gejala anemia lain yang lebih jarang juga mungkin terjadi setelah Anda melahirkan, seperti:

    • ngidam makanan yang tak biasa,
    • perubahan selera makan,
    • telinga berdenging (tinnitus),
    • lidah terasa sakit,
    • sakit kepala, dan
    • gatal-gatal.

    Jika Anda memiliki tanda-tanda anemia kekurangan zat besi di atas, sebaiknya periksakan diri ke dokter Anda. Anda mungkin perlu menjalani tes darah untuk mencari tahu penyebabnya.

    Bagaimana cara mengatasi postpartum anemia?

    makan buah dan sayur setiap hari

    Mengatasi kurang darah atau anemia setelah melahirkan harus segera dilakukan untuk mendukung proses menyusui bayi Anda. Adapun cara pengobatannya beragam tergantung pada kondisi masing-masing pasien.

    Pada postpartum anemia ringan hingga sedang, dokter mungkin akan memberikan tablet zat besi oral dengan dosis 100-200 mg setiap hari.

    Pengecekan kadar hemoglobin mungkin akan diperlukan setelah 2 minggu pengobatan untuk memeriksa apakah pengobatan berhasil.

    Sementara pada postpartum anemia yang parah, pemberian zat besi umumnya melalui pembuluh darah (intravena) dengan dosis 800-1.500 mg.

    Pada beberapa kasus, transfusi darah pun mungkin akan dokter sarankan. Namun, umumnya transfusi akan dokter berikan pada wanita yang mengalami perdarahan postpartum.

    Perbanyak asupan zat besi

    Di sisi lain, menyantap makanan kaya zat besi pun dapat membantu tubuh memenuhi kebutuhan zat besi setelah melahirkan.

    Berikut adalah dua macam makanan kaya zat besi yang bisa Anda konsumsi.

    • Daging merah, ikan, dan ayam mengandung zat besi hem, yang dapat digunakan dengan mudah oleh tubuh.
    • Biji-bijian, buah kering, sereal, dan sayuran hijau mengandung zat besi non-hem, yang lebih sulit diserap oleh tubuh.

    Untuk sayuran hijau, ibu bisa pilih brokoli, kangkung, selada air, atau lobak. Sementara bayam bukanlah sumber zat besi yang baik karena mengandung oksalat, yang justru mempersulit penyerapan zat besi.

    Anda pun bisa mengonsumsi makanan atau minuman mengandung vitamin C, seperti jus jeruk, brokoli, paprika, atau buah kiwi. Pasalnya, vitamin C dapat membantu tubuh menyerap zat besi non-hem dari makanan.

    Di sisi lain, Anda perlu menghindari minum teh dan kopi saat makan karena mengandung polifenol yang mempersulit penyerapan zat besi dari makanan.

    Teh juga mengandung tanin yang dapat meningkatkan risiko anemia atau kurang darah.

    Selain itu, obat antasida yang meredakan maag juga mencegah tubuh menyerap zat besi dari makanan yang Anda makan.

    Selain memenuhi kebutuhan zat besi, jangan lupa untuk merawat diri setelah melahirkan. Cukupi kebutuhan istirahat Anda dan cobalah tidur pada siang hari, saat bayi Anda sedang terlelap.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Anaemia and iron deficiency: Management in pregnancy and postpartum. Kemh.health.wa.gov.au. (2021). Retrieved 10 December 2021, from https://www.kemh.health.wa.gov.au/~/media/Files/Hospitals/WNHS/For%20health%20professionals/Clinical%20guidelines/OG/WNHS.OG.AnaemiaManagementduringPregnancyandthePostnatalPeriod.pdf

    How do I know if I am low in iron after having a baby?. BabyCentre UK. (2021). Retrieved 10 December 2021, from https://www.babycentre.co.uk/x1011233/how-do-i-know-if-i-am-low-in-iron-after-having-a-baby

    Iron deficiency anaemia. nhs.uk. (2021). Retrieved 10 December 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/iron-deficiency-anaemia/

    Milman N. (2012). Postpartum anemia II: prevention and treatment. Annals of hematology91(2), 143–154. https://doi.org/10.1007/s00277-011-1381-2

    Milman N. (2011). Postpartum anemia I: definition, prevalence, causes, and consequences. Annals of hematology90(11), 1247–1253. https://doi.org/10.1007/s00277-011-1279-z

    Guideline: Iron Supplementation in Postpartum Women. Geneva: World Health Organization; 2016. BACKGROUND. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK379991/

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Ihda Fadila Diperbarui Dec 13, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Amanda Rumondang Sp.OG