backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Partus Prematurus Imminens (PPI)

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui seminggu yang lalu

Partus Prematurus Imminens (PPI)

Sering merasakan kontraksi rahim sebelum usia kehamilan memasuki 37 minggu? Kondisi ini bisa menjadi pertanda partus prematurus imminens (PPI).

PPI merupakan salah satu penyebab kelahiran prematur. Namun, dengan perawatan yang tepat, dokter bisa membantu mempertahankan bayi sampai usianya mencukupi.

Apa itu partus prematurus imminens?

Partus prematurus imminens (PPI) adalah kondisi ketika ibu hamil merasakan tanda-tanda kelahiran sebelum usia kehamilan menginjak 37 tunggu.

Jika dibiarkan, PPI bisa berujung pada persalinan prematur (partus prematurus). Inilah mengapa PPI juga dikenal sebagai ancaman kelahiran prematur.

Kelahiran prematur masih menjadi salah satu tantangan di dalam dunia kesehatan. Pasalnya, organ vital janin yang belum terbentuk sempurna sebelum usia 37 minggu membuat bayi prematur lebih rentan terkena penyakit.

Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan prevalensi atau angka kelahiran prematur di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 29,5% dari 1.000 kelahiran hidup.

Artinya, pada setiap 1.000 kelahiran ada 29 bayi terlahir prematur. Angka ini membuat Indonesia menempati posisi ke-5 sebagai negara dengan kelahiran prematur tertinggi.

World Health Organization (WHO) pun menyebutkan bahwa komplikasi partus prematurus merupakan penyebab kematian tertinggi pada anak-anak di bawah lima tahun, termasuk bayi baru lahir.

Semakin dini persalinan prematur dilakukan, semakin tinggi pula risiko kematiannya. Oleh karena itu, deteksi dan perawatan terhadap PPI sedini mungkin penting untuk dilakukan.

Dengan begitu, dokter bisa memberikan perawatan sebaik mungkin supaya ancaman yang timbul dari kondisi ini tidak terwujud.

Gejala partus prematurus imminens

Perubahan kulit pada ibu hamil

Ciri utama partus prematurus imminens (PPI) adalah kontraksi rahim atau uterus saat kehamilan berada di rentang usia 20–37 minggu.

Kontraksi karena PPI berbeda dengan kontraksi palsu atau Braxton-Hicks. Pasalnya, kontraksi karena PPI bisa terjadi setiap 5–8 menit atau bahkan lebih sering.

Selain kontraksi, berikut adalah beberapa gejala partus prematurus imminens yang perlu Anda ketahui.

  • Serviks melembut atau memendek.
  • Keluarnya cairan atau lendir yang semakin banyak dari Miss V.
  • Perdarahan dari Miss V.
  • Serviks yang melebar dengan cepat.

Pada dasarnya, gejala PPI sama halnya dengan tanda-tanda ibu akan melahirkan, tetapi muncul jauh lebih awal.

Normalnya, tanda kehamilan mulai muncul sekitar 2–3 minggu sebelum persalinan atau di atas 37 minggu kehamilan.

Penyebab PPI pada kehamilan

Sampai saat ini, penyebab kelahiran bayi prematur belum diketahui secara pasti. Apalagi, beberapa persalinan prematur terjadi secara tiba-tiba tanpa didahului PPI.

Namun, beberapa kondisi berikut dinilai dapat meningkatkan risiko ibu hamil untuk mengalami persalinan prematur.

  • Riwayat persalinan prematur.
  • Preeklamsia.
  • Penyakit infeksi, seperti infeksi cairan ketuban, infeksi saluran kemih, dan infeksi vagina.
  • Riwayat keguguran.
  • Kehamilan kembar.
  • Ketuban pecah dini.
  • Perdarahan saat hamil.
  • Hipertensi.
  • Jarak antarkehamilan terlalu dekat, yaitu kurang dari 18–24 bulan.
  • Inkompetensi serviks atau rahim lemah.
  • Hamil di bawah 17 tahun atau di atas 35 tahun.
  • Berat badan terlalu rendah atau berlebihan.
  • Kelainan pada rahim.
  • Stres.

Risiko melahirkan bayi prematur juga bisa meningkat jika ibu hamil menerapkan pola hidup tidak sehat, seperti kebiasaan merokok, asupan gizi tidak seimbang, dan minum alkohol.

Dampak partus prematurus imminens pada ibu dan janin

bab saat melahirkan

Partus prematurus imminens yang tidak segera ditangani bisa menyebabkan kelahiran prematur. Dari sinilah berbagai komplikasi pada ibu hamil dan janin dikhawatirkan bisa terjadi.

Jika partus prematurus imminens berujung pada persalinan prematur, berikut adalah beberapa risiko komplikasi yang mungkin terjadi.

  • Gangguan pernapasan karena paru-paru belum terbentuk dengan sempurna.
  • Kelainan jantung, seperti patent ductus arteriosus (PDA) atau terbukanya pembuluh darah yang menghubungkan arteri pulmonalis kiri dan aorta desendens.
  • Gangguan otak karena perdarahan dan, pada kasus yang parah, cedera otak permanen.
  • Hipotermia karena bayi tidak mampu mengontrol suhu tubuh.
  • Gangguan darah, seperti anemia dan penyakit kuning.
  • Sistem kekebalan tubuh lemah sehingga bayi mudah terkena berbagai penyakit.

Selain komplikasi yang terlihat sesaat setelah dilahirkan, situs Cleveland Clinic menyebutkan bahwa bayi prematur juga berisiko mengalami masalah perkembangan selama masa kanak-kanak.

Contoh komplikasi kelahiran prematur jangka panjang adalah gangguan penglihatan atau pendengaran, masalah komunikasi atau perkembangan sosial, kecerdasan di bawah rata-rata, hingga kematian mendadak.

PPI juga dapat memberikan dampak emosional bagi ibu dalam bentuk meningkatnya risiko kecemasan berlebih, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma akibat kelahiran prematur berulang.

Perlu diingat bahwa tidak semua kasus persalinan prematur pasti diiringi komplikasi. Namun, angkanya memang jauh di bawah persalinan cukup bulan.

Penanganan partus prematurus imminens

Tujuan utama penanganan partus prematurus imminens (PPI) adalah mencegah kelahiran prematur. Berikut adalah beberapa peran kedokteran dan kebidanan dalam mengatasi PPI.

1. Pemberian antibiotik

Jika kelahiran prematur Anda disebabkan oleh infeksi saluran kemih atau vagina, dokter bisa memberikan antibiotik.

Jenis obat ini juga bisa diberikan saat ibu hamil mengalami ketuban pecah dini. Pasalnya, kebocoran ketuban bisa meningkatkan berbagai risiko infeksi pada ibu dan janin.

2. Pemberian tokolitik

Tokolitik adalah obat yang berfungsi untuk mengurangi kontraksi sehingga persalinan bisa ditunda selama beberapa saat. Dengan begitu, janin memiliki waktu tambahan untuk menyempurnakan pembentukan organ vital.

Salah satu jenis tokolitik yang paling sering diberikan adalah nifedipine. Namun, metode ini biasanya tidak disarankan untuk ibu hamil yang mengalami solusio plasenta.

3. Suntik kortikosteroid

Kortikosteroid berfungsi untuk mempercepat proses pematangan paru-paru janin dan melindungi otak janin. Dengan begitu, berbagai risiko kelahiran prematur juga ikut berkurang.

Jenis kortikosteroid yang paling banyak diberikan adalah betametason. Obat ini biasanya diberikan dua kali sehari dengan selang waktu 12–24 jam.

4. Infus magnesium

Jika PPI sudah muncul sejak kehamilan di bawah 32 minggu, dokter kandungan atau OBGYN bisa memberikan Anda infus magnesium.

Magnesium dapat mengurangi risiko bayi prematur untuk mengalami keterlambatan perkembangan saraf sekaligus memperlambat kontraksi.

Bisa dibilang, partus prematurus imminens adalah tanda-tanda bahwa Anda akan mengalami persalinan prematur. Namun, mengingat kondisi ini merupakan gejala, artinya persalinan prematur masih bisa dicegah. 

Oleh karena itu, jangan ragu untuk segera pergi ke dokter kandungan jika Anda merasa mengalami tanda-tanda dan gejala PPI.

Kesimpulan

  • Partus prematurus imminens (PPI) adalah kondisi ketika tanda-tanda melahirkan sudah mulai terlihat saat usia kehamilan masih di bawah 37 bulan. Mudahnya, PPI adalah gejala kelahiran prematur.
  • Ciri-ciri utama partus prematurus imminens adalah kontraksi rahim yang terjadi setiap 5–8 menit atau bahkan lebih singkat.
  • Penyebab PPI belum diketahui secara pasti. Namun, riwayat persalinan prematur, preeklamsia, dan infeksi saat hamil bisa meningkatkan risiko kondisi ini.
  • Dampak utama dari PPI adalah persalinan prematur. Dari sinilah berbagai risiko persalinan pada ibu dan janin meningkat.
  • Penanganan PPI dilakukan untuk mencegah persalinan prematur. Dokter bisa melakukannya dengan pemberian antibiotik, tokolitik, suntik kortikosteroid, dan infus magnesium.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui seminggu yang lalu

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan