7 Bahaya Induksi Persalinan yang Mungkin Dialami Ibu dan Bayi

    7 Bahaya Induksi Persalinan yang Mungkin Dialami Ibu dan Bayi

    Tidak semua ibu hamil tahu bahaya induksi saat proses persalinan. Prosedur ini umumnya ditargetkan untuk merangsang kontraksi rahim dari ibu hamil yang tak kunjung memperlihatkan tanda-tanda melahirkan. Induksi melahirkan sebenarnya terbilang aman, tapi tetap ada bahaya atau efek samping yang sebaiknya Anda ketahui berikut ini.

    Apa saja bahaya induksi persalinan?

    induksi persalinan melahirkan

    Pada beberapa kasus persalinan, induksi persalinan perlu dilakukan untuk merangsang kontraksi pada rahim agar dapat melahirkan normal.

    Sebelum prosedur ini dilakukan, ibu hamil bisa berdiskusi dengan dengan dokter obgyn terkait manfaat dan bahaya dari induksi persalinan.

    Selain itu, proses ini juga tidak dapat dilakukan dengan cepat. Lama proses induksi persalinan berkisar 1—2 hari sampai waktu melahirkan tiba.

    Observasi induksi diperlukan maksimal dilakukan selama 2 × 24 jam.

    Apabila ibu dan janin berisiko mengalami kondisi yang berbahaya setelah proses induksi gagal, maka prosedur operasi caesar mungkin perlu dilakukan.

    Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk mengetahui kemungkinan efek samping atau bahaya induksi persalinan berikut ini.

    1. Meningkatkan risiko melahirkan caesar

    Proses induksi persalinan alami akan merangsang rahim untuk berkontraksi sehingga air ketuban pecah. Sayangnya, tidak semua ibu mampu melewati proses ini dengan mulus.

    Ya, ada ibu yang tetap sulit untuk melahirkan normal sehingga operasi caesar mau tidak mau harus menggantikannya.

    Operasi caesar dalam induksi persalinan juga sering dipilih ketika posisi bayi tidak memungkinkan untuk dilahirkan normal karena bisa berakibat buruk bagi bayi.

    2. Risiko timbulnya masalah kesehatan pada bayi

    Induksi persalinan yang dilakukan lebih awal dari hari perkiraan lahir (HPL) bisa membawa efek samping induksi persalinan berupa masalah kesehatan pada bayi.

    Misalnya, kesulitan bernapas dan organ hati yang belum cukup matang untuk melakukan tugasnya sehingga justru akan meningkatkan kadar bilirubin dalam darah bayi.

    Akibatnya, kulit dan mata bayi jadi menguning atau yang dikenal sebagai penyakit kuning.

    Kondisi ini masih bisa diobati sampai sembuh, tapi si Kecil harus menghabiskan waktu lebih lama di rumah sakit.

    3. Meningkatkan risiko infeksi pada bayi

    Bayi terinfeksi COVID-19

    Selama di dalam perut ibu, bayi dilindungi oleh air ketuban.

    Itu sebabnya, jika setelah air ketuban pecah tapi bayi tidak kunjung keluar, maka akan membuat bayi rentan terkena infeksi dalam kandungan.

    Tidak ada lagi yang dapat melindungi bayi dari paparan lingkungan luar sehingga kuman penyebab infeksi akan mudah masuk.

    4. Perdarahan usai melahirkan

    Dalam beberapa kasus, risiko proses induksi persalinan dapat mengarah pada otot-otot rahim yang sulit berkontraksi dengan baik setelah melahirkan (atonia uteri).

    Kondisi ini akhirnya mengakibatkan ibu mengalami perdarahan serius.

    5. Beriko membuat rahim robek

    Rangsangan pada induksi persalinan biasanya dilakukan dengan bantuan obat-obatan.

    Pilihan ini dianggap kurang aman untuk ibu yang sebelumnya pernah menjalani operasi caesar ataupun operasi lainnya yang dilakukan pada rahim. Sebab ada risiko untuk mengalami rahim robek (ruptur uteri).

    6. Proses induksi bisa gagal

    biaya cek lab ibu hamil

    Proses induksi persalinan memang terbilang cepat, tapi ada bahaya yang juga mengintai.

    Hasil dari proses ini tidak akan selamanya mulus terkadang ada kondisi yang menjadi penyebab induksi gagal.

    Mengutip Mayo Clinic, terdapat sekitar 75% wanita yang baru pertama kali menjalani induksi persalinan berhasil melahirkan lewat vagina (pervaginam).

    Proses induksi dianggap gagal jika metode yang digunakan tidak segera memberikan tanda-tanda hendak melahirkan melalui vagina setelah 24 jam atau lebih.

    Tentunya, ada faktor lain yang kemungkinan bisa berkontribusi mengakibatkan kegagalan induksi persalinan, meliputi:

    • usia kehamilan lebih dari 41 minggu,
    • ketuban pecah lebih awal atau terlalu sedikit,
    • memiliki riwayat medis, seperti diabetes gestasional atau hipertensi,
    • mengalami preeklampsia, dan
    • usia ibu lebih dari 30 tahun.

    Ibu hamil yang mengalami gagal saat induksi persalinan harus menjalani operasi caesar demi keselamatan diri sendiri dan bayi yang akan dilahirkan.

    7. Menurunan detak jantung bayi

    Bahaya lain yang ditemukan saat memutuskan mengambil prosedur induksi persalinan, yakni dapat menurunkan detak jantung bayi.

    Dilansir dari March of Dimes, oksitosin dan obat-obatan yang digunakan untuk induksi persalinan akan membuat kontraksi lebih sering dan terlalu berdekatan.

    Hal tersebut dapat membuat detak jantung bayi tidak stabil yang dapat membahayakan kondisi janin.

    Oleh karena itu, saat menjalani proses induksi persalinan penting untuk mendapatkan pengawasan dan pantauan langsung dari dokter yang menangani.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Carla Pramudita Susanto

    General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


    Ditulis oleh Adhenda Madarina · Tanggal diperbarui 25/10/2022

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan