Anda sedang hamil? Ayo ikut komunitas Ibu Hamil kami sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

5 Kemungkinan Risiko Induksi Persalinan Bagi Ibu dan Bayinya

5 Kemungkinan Risiko Induksi Persalinan Bagi Ibu dan Bayinya

Tidak semua ibu hamil butuh diinduksi saat persalinan. Prosedur ini umumnya ditargetkan untuk merangsang kontraksi rahim dari calon ibu yang tak kunjung memperlihatkan tanda-tanda melahirkan lewat dari 2 minggu tanggal perkiraan, atau bagi yang kehamilannya berisiko tinggi sehingga persalinan harus dipercepat. Cara ini sebenarnya terbilang aman, tapi tetap ada efek samping induksi persalinan yang sebaiknya Anda ketahui dan diskusikan bersama dokter kandungang Anda.

Apa saja efek samping induksi persalinan?

induksi persalinan melahirkan

Meski dinilai aman bahkan bisa mencegah risiko bahaya bagi ibu dan bayi, prosedur ini tetap memiliki efek samping yang harus Anda perhatikan.

1. Meningkatkan risiko melahirkan caesar

Proses induksi akan merangsang rahim untuk berkontraksi sehingga air ketuban pecah. Sayangnya, tidak semua ibu mampu melewati proses ini dengan mulus. Ya, ada ibu yang tetap sulit untuk melahirkan normal sehingga operasi caesar mau tidak mau harus menggantikannya.

Operasi caesar dalam induksi persalinan juga sering dipilih ketika posisi bayi tidak memungkinkan untuk dilahirkan normal karena bisa berakibat buruk bagi bayi.

2. Risiko timbulnya masalah kesehatan pada bayi

Umumnya, induksi persalinan dilakukan lebih awal dari hari perkiraan lahir (HPL). Kondisi ini bisa membawa efek samping induksi persalinan berupa masalah kesehatan pada bayi. Misalnya kesulitan bernapas dan organ hati yang belum cukup matang untuk melakukan tugasnya sehingga justru akan meningkatkan kadar bilirubin dalam darah bayi.

Akibatnya, kulit dan mata bayi jadi menguning atau yang dikenal sebagai penyakit kuning. Kondisi ini masih bisa diobati sampai sembuh, tapi si kecil harus menghabiskan waktu lebih lama di rumah sakit.

3. Meningkatkan risiko infeksi pada bayi

Selama di dalam perut ibu, bayi dilindungi oleh air ketuban. Itu sebabnya, jika setelah air ketuban ibu pecah tapi bayi tidak kunjung keluar, maka akan membuat bayi rentan terkena infeksi dalam kandungan. Tidak ada lagi yang dapat melindungi bayi dari paparan lingkungan luar, sehingga kuman penyebab infeksi akan mudah masuk.

4. Perdarahan usai melahirkan

Dalam beberapa kasus, proses induksi melahirkan dapat mengarah pada otot-otot rahim yang sulit berkontraksi dengan baik setelah melahirkan (atonia uteri). Kondisi ini akhirnya mengakibatkan ibu mengalami perdarahan serius.

5. Beriko membuat rahim robek

Rangsangan pada induksi persalinan biasanya dilakukan dengan bantuan obat-obatan. Pilihan ini dianggap kurang aman untuk ibu yang sebelumnya pernah menjalani operasi caesar ataupun operasi lainnya yang dilakukan pada rahim. Sebab ada risiko untuk mengalami rahim robek (ruptur uteri).

health-tool-icon

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir-Hello Sehat

Gunakan kalkulator ini untuk menghitung hari perkiraan lahir (HPL) Anda. Ini hanyalah prediksi, bukan sebuah jaminan pasti. Pada umumnya, hari melahirkan sebenarnya akan maju atau mundur seminggu dari HPL.

Durasi siklus haid

28 days
Punya cerita soal kehamilan?

Ayo gabung dengan komunitas Ibu Hamil Hello Sehat dan temukan berbagai cerita menarik seputar kehamilan.


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What Are the Risks of Inducing Labor? https://www.webmd.com/baby/qa/what-are-the-risks-of-inducing-labor Diakses pada 2 Oktober 2018.

Labor Induction. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/labor-induction/about/pac-20385141 Diakses pada 2 Oktober 2018.

The Risks of Inducing Labor. https://www.verywellfamily.com/reasons-to-avoid-induction-of-labor-2758959 Diakses pada 2 Oktober 2018.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri Diperbarui 16/08/2021
Fakta medis diperiksa oleh Hello Sehat Medical Review Team