home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bayi Terlambat Lahir Padahal Hari Perkiraan Sudah Tiba, Apa Penyebabnya?

Bayi Terlambat Lahir Padahal Hari Perkiraan Sudah Tiba, Apa Penyebabnya?
Kapan bayi dikatakan terlambat lahir?|Apa penyebab bayi terlambat lahir padahal sudah waktunya?|Adakah risiko bila bayi lahir melewati HPL?|Penanganan untuk mengatasi penyebab bayi terlambat lahir|Tak perlu khawatir, Anda perlu sedikit lebih rileks

Hari perkiraan lahir (HPL) biasanya dijadikan acuan kapan Anda akan melahirkan. Sayangnya, kadang HPL bisa saja sudah tiba, tetapi bayi tampaknya masih betah di dalam perut Anda. Kalau sudah begini, sebenarnya apa penyebab bayi terlambat lahir lewat dari HPL? Simak penjelasannya di bawah ini.

Kapan bayi dikatakan terlambat lahir?

Ada kekhawatiran tersendiri mengapa hari perkiraan lahir atau HPL sudah tiba, tetapi bayi belum juga lahir.

Pertanyaan ini kerap diutarakan para ibu hamil yang sudah saatnya melahirkan, entah melahirkan normal maupun melalui operasi caesar.

Melansir dari laman Pregnancy Birth and Baby, kehamilan biasanya berlangsung kurang lebih 40 minggu atau 280 hari dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT).

Namun, HPL mungkin saja jatuh lebih cepat atau lebih lambat sedikit dari 40 minggu, yakni sekitar minggu ke-38 hingga minggu ke-42 usia kehamilan.

Jadi, usia kehamilan 40 minggu sebenarnya tidak menjadi patokan utama kelahiran bayi.

Ini karena bayi bisa saja lahir sedikit lebih cepat atau lebih lambat, tetapi tidak berbeda terlalu jauh.

Ibu mungkin kerap merasa cemas saat usia kehamilan sudah 39 minggu tapi belum juga merasa mulas (mules) mau melahirkan.

Kelahiran yang jauh lebih cepat ketimbang perkiraan dikenal dengan nama prematur. Bayi dikatakan prematur bila lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu.

Sementara kelahiran yang lewat dari usia kehamilan 42 minggu terbilang terlambat lahir atau kehamilan serotinus (atau kehamilan postterm).

Bayi yang lahir terlambat ini tentu tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi didasari oleh beberapa penyebab.

Apa penyebab bayi terlambat lahir padahal sudah waktunya?

Selama kehamilan hingga menjelang melahirkan, tidak ada satupun yang mengira bahwa si kecil membutuhkan waktu lebih lama untuk menetap di dalam rahim.

Ibu mungkin saja khawatir ketika waktu melahirkan seharusnya sudah tiba, tetapi nyatanya tanda-tanda melahirkan belum kunjung muncul.

Biasanya, tanda mau melahirkan meliputi kontraksi, pembukaan lahiran (serviks), air ketuban pecah, perdarahan, dan lainnya.

Ada beberapa hal umum yang menjadi penyebab bayi lahir terlambat atau belum kunjung lahir padahal sudah waktunya:

  • Ibu pertama kali hamil.
  • Ibu hamil di usia yang sudah cukup tua, misalnya hamil saat berusia lebih dari 35 tahun.
  • Ibu pernah melahirkan melewati batas HPL di kehamilan sebelumnya.
  • Ibu sedang mengandung bayi laki-laki.
  • Ibu memiliki indeksi massa tubuh (IMT) yang tergolong obesitas.
  • Ibu belum pernah mengalami terlambat melahirkan, tetapi ada anggota keluarga yang sebelumnya pernah mengalami ini.

Penyebab bayi lahir terlambat atau belum kunjung lahir padahal sudah waktunya juga bisa dikarenakan kesalahan perhitungan HPL ibu hamil.

Hal ini mungkin terjadi dikarenakan sulit menentukan usia kehamilan awal atau HPL ditentukan berdasarkan USG di akhir trimester kedua maupun trimester ketiga kehamilan.

Bahkan, menurut Mayo Clinic, keterlambatan kelahiran bayi ini bisa dikarenakan adanya komplikasi kehamilan atau masalah dengan plasenta bayi.

Meski jarang, hal tersebut terkadang menjadi penyebab mengapa bayi lahir terlambat atau belum kunjung lahir padahal sudah waktunya.

Adakah risiko bila bayi lahir melewati HPL?

Risiko akibat kelahiran yang terlambat bisa dialami ibu dan bayi. Berikut penjabarannya:

Risiko terlambat lahir pada bayi

Ada beberapa risiko masalah kesehatan bayi yang lahir lewat dari waktu yang seharusnya, meliputi:

  • Bayi kesulitan bernapas.
  • Bayi mengalami keterlambatan perkembangan atau terhenti karena masalah plasenta.
  • Bayi mengalami penurunan cairan ketuban.
  • Bayi berada dalam bahaya karena perlambatan detak jantung dan masalah kesehatan lainnya.
  • Bayi berisiko menghirup feses pertamanya dalam kandungan (aspirasi mekonium).
  • Bayi berukuran lebih besar dari rata-rata saat lahir (makrosomia janin).
  • Cairan ketuban bayi sedikit (oligohidramnion) yang berisiko memengaruhi detak jantung bayi dan menekan tali pusat saat kontraksi.
  • Kematian bayi pada saat lahir.

Risiko terlambat melahirkan pada ibu

Sementara itu, bayi yang terlambat lahir juga bisa membawa risiko komplikasi persalinan bagi ibu hamil.

Risiko yang mungkin Anda alami karena bayi terlambat lahir seperti infeksi postpartum, perdarahan postpartum, serta mengalami robekan vagina yang parah saat melahirkan.

Penanganan untuk mengatasi penyebab bayi terlambat lahir

Apabila sudah HPL tetapi bayi belum lahir sebaiknya segera konsultasikan ke dokter, misalnya saat perkembangan janin sudah 41 minggu.

Semua tindakan atau penanganan dari penyebab bayi terlambat lahir tergantung dari tanggal jatuh tempo kelahiran.

Biasanya, dokter akan mempertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan guna memancing kelahiran bayi.

Di sisi lain, dokter juga mungkin memutuskan untuk menunggu sedikit lebih lama sampai bayi siap lahir pada waktunya.

Tindakan yang biasanya disarankan untuk mengatasi bayi terlambat lahir, yakni:

  • Kelahiran harus segera dilakukan bila ada indikasi oligohidramnion.
  • Obat prostaglandin dapat diberikan untuk memancing leher rahim (serviks) dan menginduksi persalinan.
  • Kelahiran segera juga direkomendasikan bila bayi terlambat lahir meskipun kondisi serviks ibu sehat dan tidak ada komplikasi.

Dokter juga akan meminta Anda untuk kembali memeriksakan diri, paling tidak dua kali setiap minggu untuk memastikan bayi tetap sehat.

Ada beberapa tes yang biasanya dilakukan untuk bayi yang belum lahir walaupun sudah lewat HPL, yaitu:

  • Tes melalui monitor untuk mengetahui detak jantung bayi.
  • Pemeriksaan USG untuk mengetahui pertumbuhan dan pergerakan bayi.
  • Memeriksa cairan ketuban.
  • Melakukan tes pada serviks untuk melihat apakah sudah ada pembukaan persalinan.

Salah satu penanganan bayi belum lahir tapi sudah lewat HPL adalah dengan induksi. Hal ini dilakukan dalam beberapa kasus untuk memancing munculnya kontraksi kehamilan.

Percayakan segala hal yang terbaik pada dokter, terutama bila ia memberikan induksi persalinan. Dokter akan membantu meresepkan obat untuk mematangkan leher rahim atau serviks.

Selain itu, dokter mungkin mempercepat kelahiran melalui operasi caesar. Namun, hal ini biasanya dipertimbangkan dokter berdasarkan kondisi kehamilan Anda.

Jika kehamilan Anda dirasa masih dalam kondisi yang baik, dokter biasanya menyarankan untuk menunggu sampai waktu melahirkan tiba.

Tak perlu khawatir, Anda perlu sedikit lebih rileks

Kecemasan yang dirasakan ibu saat bayi terlambat lahir atau belum kunjung lahir padahal sudah waktunya tentu wajar adanya, terlebih bila Anda memiliki penyebab tertentu.

Selama dokter mengatakan bayi dan ibu sehat, tak ada salahnya menunggu lebih lama sampai waktu melahirkan tiba.

Normal juga bila Anda merasa khawatir saat usia kehamilan sudah 39 minggu tapi belum juga merasa mulas (mules) mau melahirkan.

Nikmati waktu kehamilan ini sedikit lebih lama. Percaya saja, kehamilan tidak akan berlangsung selamanya dan Anda akan segera melihat wajah si kecil lahir ke dunia.

Tetaplah bahagia dan lakukan aktivitas kesukaan selama kehamilan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Overdue Pregnancy: What to Do When Baby’s Overdue. Retrieved 21 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/overdue-pregnancy/art-20048287

Pregnancy and Birth: When Does Labor Need to be Induced?. Retrieved 21 December 2020, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279570/

Overdue Baby – What Happens If My Baby Is Late?. Retrieved 21 December 2020, from https://www.nct.org.uk/labour-birth/getting-ready-for-birth/overdue-baby-what-happens-if-my-baby-late

Overdue. Retrieved 21 December 2020, from https://www.pregnancybirthbaby.org.au/overdue

When Your Baby Is Overdue. Retrieved 21 December 2020, from https://raisingchildren.net.au/pregnancy/week-by-week/third-trimester/baby-is-overdue

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Tanggal diperbarui 14/01/2020
x