Keguguran Bisa Memicu Wanita Mengalami Gangguan Stress dan Trauma

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 April 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Imperial College London, 4 dari 10 wanita berisiko mengalami gangguan trauma dan stress akibat keguguran yang dialaminya. Selain keguguran, wanita yang memiliki kehamilan ektopik (hamil di luar kandungan) yang juga cenderung berisiko mengalami stress dan trauma, meski risikonya tidak sebesar wanita yang keguguran.

Risiko gangguan mental PTSD pada wanita yang keguguran

Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh jurnal BMJ Open tersebut, tim peneliti mensurvei 113 wanita yang baru saja mengalami keguguran maupun kehamilan ektopik. Mayoritas wanita dalam penelitian ini mengalami keguguran pada usia kehamilan sekitar 3 bulan, sementara sekitar 20 persennya lagi, mengalami kehamilan ektopik di mana bayi mulai tumbuh di luar rahim.

Kasus keguguran telah memengaruhi 1 dari 4 kehamilan yang terjadi. Keguguran sendiri didefinisikan sebagai hilangnya janin sebelum berusia 24 minggu, meskipun kebanyakan kasus keguguran terjadi sebelum usia janin 12 minggu. Keguguran bisa terjadi karena berbagai alasan termasuk usia, perubahan hormonal, gaya hidup, kondisi rahim atau masalah fisik lainnya. Sedangkan kehamilan ektopik jauh lebih jarang memengaruhi, kira-kira terjadi pada 1 dari 90 kehamilan.

Hasil survei juga menunjukkan, empat dari sepuluh wanita dilaporkan mengidap gejala post traumatic stress disorder (PTSD) tiga bulan setelah kehilangan calon bayinya. Gangguan trauma dan stress akibat keguguran ini, juga dilandasi oleh peristiwa penuh tekanan yang menakutkan dan menyedihkan. Sehingga tidak jarang menyebabkan seseorang teringat kembali kejadian tersebut lewat mimpi buruk, kilas balik, pikiran atau gambaran di saat-saat tidak diinginkan.

Gejalanya bisa mulai berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah kejadian sampai  bisa menyebabkan masalah tidur, kemarahan, dan bahkan berubah menjadi depresi.

Wanita yang keguguran membutuhkan dukungan psikologis untuk mengatasi trauma

Para periset dari Imperial College  London mengatakan bahwa temuan tersebut menyarankan agar perempuan secara rutin dipantau perihal kondisi tersebut, dan mendapat dukungan psikologis spesifik setelah kasus hilangnya kehamilan.

Ada anggapan dan sebuah mitos tertentu juga di masyarakat yang ikut memengaruhi. Katanya, kehamilan belum boleh dipublikasikan kalau kehamilan itu sendiri belum berusia minimal 3 bulan. Parahnya lagi, hal itu juga berlaku apabila terjadi keguguran dalam kurun waktu 3 bulan kehamilan. Nah, sayangnya hal yang dipendam ini bisa mengakibatkan rasa sakit yang mendalam pada wanita. Efek psikologis kehilangan ini harusnya dibicarakan dan dicurahkan, bukan malah dipendam sendirian bersama suami.

Lebih jauh lagi, hampir sepertiga dari para peserta mengatakan bahwa gejala trauma dan stress berdampak pada kehidupan kerja mereka, dan sekitar 40 persennya melaporkan bahwa hubungan mereka dengan teman dan keluarga ikut terpengaruh. Dr Jessica Farren, penulis utama penelitian dari Departement of Surgery and Cancer di Imperial mengatakan bahwa penelitian ini menunjukkan bahwa wanita harus memiliki kesempatan untuk mendiskusikan emosi yang mereka rasakan dengan seorang ahli medis profesional.

Tips mengatasi stres dan trauma setelah keguguran

Berikut ini, ada beberapa cara atau langkah yang bisa Anda ikuti jika sedang berjuang melawan efek pasca keguguran yang ingin dilewati:

  • Anda bisa memulainya dengan melakukan konseling pada dokter psikiater atau ahli psikologi. Mereka dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang mungkin membuat pikiran dan hati Anda tenang, dan juga dapat merekomendasikan tahap-tahap konseling untuk lebih lanjutnya.
  • Cari teman serta keluarga Anda yang sekiranya dapat menjadi seseorang yang diandalkan dalam mendukung proses memulihkan perasaan Anda. Coba bicarakan dengan kerabat yang berpengalaman untuk mencurahkan isi hati Anda secara mendalam.
  • Jika gejala trauma atau stress akibat keguguran berlangsung lebih dari 2 bulan, minta tindak lanjut pengujian untuk PTSD. Karena banyak penelitian yang menemukan bahwa 25% korban keguguran memenuhi risiko kriteria mengalami PTSD sebulan setelah keguguran.

Bila memang Anda mengalami PTSD,  tidak perlu malu untuk meminta bantuan kepada psikiater (dokter pakar kejiwaan). Penyakit terkait psikis dan kejiwaan pun memerlukan penanganan yang sama pentingnya dengan penyakit fisik. Anda pun tetap berhak menjalani hidup sehat dan bahagia.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pahami Faktor Penentu Persalinan Caesar sebagai Persiapan Sambut si Kecil

Apakah Ibu sudah menentukan metode persalinan yang akan dilakukan? Simak tentang persalinan normal, alasan di balik keputusan operasi caesar dan prosesnya.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
potret pasangan diskusi tentang persalinan normal dan caesar
Melahirkan, Kehamilan 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Kenali Gejala dan Bahaya Tekanan Darah Tinggi Setelah Melahirkan

Hipertensi atau tekanan darah tinggi setelah melahirkan dikenal dengan istilah postpartum preeklampsia. Apa saja gejala dan bahayanya? Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hipertensi, Kesehatan Jantung 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Muncul Garis Hitam di Perut Saat Hamil, Apa Sih Artinya?

Saat hamil, Anda mungkin akan menemukan garis hitam di perut pada usia kehamilan yang mulai besar. Tapi, tidak semua ibu hamil punya garis ini. Mengapa?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Awas! Ini Bahayanya Jika Ibu Kekurangan Yodium Saat Hamil

Tidak sedikit wanita hamil yang belum mengetahui pentingnya yodium. Padahal, kekurangan yodium saat hamil memiliki dampak yang buruk bagi janin.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 7 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ibu hamil makan daging kambing

Bolehkah Ibu Hamil Makan Daging Kambing?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
pekerjaan rumah tangga saat hamil

Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
manfaat metode kangguru untuk bayi prematur dan berat lahir rendah

Metode Kangguru untuk Bayi Prematur atau Berat Lahir Rendah

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Apa yang Terjadi Pada Bayi Jika Ibu Stres Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit