Anda sedang hamil? Ayo ikut komunitas Ibu Hamil kami sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Minum Minuman Berenergi Saat Hamil, Boleh atau Tidak?

Minum Minuman Berenergi Saat Hamil, Boleh atau Tidak?

Masa kehamilan membuat ibu lebih cepat lelah dan haus. Hal ini mungkin membuat ibu ingin minum minuman berenergi saat hamil agar tubuh lebih segar. Namun, sebagian ibu merasa bingung dengan aturan ini. Bahaya atau tidak minuman berenergi untuk ibu hamil? Ini penjelasannya.

Kandungan dalam minum minuman berenergi

Mengutip dari Pregnancy, Birth, & Baby, minuman berenergi tidak baik untuk ibu hamil karena kandungan kafein yang tinggi.

Selain itu, minuman energi juga tinggi kalori, gula, dan natrium. Keempat hal ini dapat berdampak buruk untuk tubuh ibu dan janin.

Pada dasarnya, ibu hamil tidak membutuhkan minuman energi. Justru sebaiknya menghindari minuman ini.

Daripada minum minuman energi saat hamil, lebih baik ibu banyak minum air putih.

Kalau kelelahan, bisa minum air kelapa untuk mengurangi rasa haus pada masa kehamilan.

Dampak minum minuman berenergi saat hamil

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, minuman berenergi mengandung 4 hal yang bisa berdampak buruk pada kesehatan ibu dan janin.

Berikut efek samping bila ibu hamil minum minuman berenergi.

Kelebihan berat badan

Ibu hamil memang membutuhkan banyak asupan kalori saat hamil untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan janin.

Namun, kelebihan kalori yang ibu dapat dari minuman energi tidak baik bagi masa kehamilan. Kalori dalam minuman berenergi dapat membuat ibu hamil kelebihan berat badan.

Kelebihan berat badan bisa meningkatkan risiko mengalami komplikasi kehamilan, seperti diabetes gestasional dan tekanan darah tinggi.

Ibu bisa mendapatkan kalori tambahan dari makanan bergizi, seperti buah alpukat atau pisang.

Kafein memicu keguguran

Efek samping minum minuman berenergi saat hamil adalah mengganggu pola tidur bayi sampai memicu keguguran.

Mengutip dari March of Dimes, minuman berenergi mengandung kafein sebanyak 242 mg per porsi.

Ini merupakan jumlah yang lebih tinggi daripada dengan kopi pada umumnya. Padahal, batas atas konsumsi kafein pada ibu hamil adalah 200 mg per hari.

Kafein dapat melewati plasenta dan masuk ke dalam tubuh bayi. Padahal, tubuh bayi belum bisa sepenuhnya mencerna kafein.

Ibu hamil boleh mengonsumsi minuman berkafein, tetapi dalam jumlah sangat sedikit. Ambil contoh 1 gelas sehari dalam satu bulan.

Meningkatkan risiko diabetes gestasional

Kalau ibu sering minum minuman berenergi saat hamil, sangat rentan terkena diabetes karena mengandung kadar gula yang tinggi.

Ibu hamil memang membutuhkan banyak energi dari gula, tetapi kalau terlalu banyak bisa memicu mengalami kenaikan berat badan yang berlebih.

Gula tambahan juga tidak baik bagi ibu hamil dengan diabetes gestasional karena harus menjaga kadar gula darahnya.

Minuman ini justru dapat membuat kondisi ibu hamil dengan diabetes gestasional bertambah buruk.

Memicu penumpukan cairan dalam tubuh

Minum minuman berenergi saat hamil bisa membuat ibu kelebihan natrium.

Pasalnya, minuman berenergi mengandung lebih dari 300 mg natrium. Tentu ini adalah jumlah yang cukup tinggi.

Sementara, ibu hamil mungkin harus membatasi asupan natrium atau garamnya. Kelebihan asupan natrium dapat menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh ibu.

Penumpukan cairan ini bisa membuat kaki dan tangan ibu hamil mudah bengkak.

Jadi, penting bagi ibu untuk mengurangi atau bahkan menghindari minum minuman energi saat hamil.

health-tool-icon

Penambahan Berat Badan Kehamilan

Perhitungan ini dapat digunakan untuk perempuan yang ingin melihat kisaran kenaikan berat badan yang sehat selama kehamilan berdasarkan berat badan mereka sebelum hamil.

28
Punya cerita soal kehamilan?

Ayo gabung dengan komunitas Ibu Hamil Hello Sehat dan temukan berbagai cerita menarik seputar kehamilan.


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Riska Herliafifah Diperbarui 20/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita