Penurunan kekebalan selama kehamilan membuat ibu hamil lebih rentan terpapar infeksi. Infeksi dari ibu juga dapat menyerang janin sehingga penyakit yang umumnya bersifat ringan bisa menimbulkan komplikasi yang lebih buruk.
Infeksi apa saja yang patut diwaspadai selama kehamilan? Bagaimana cara mencegahnya? Simak informasi berikut untuk mengetahui jawabannya.
Berbagai infeksi yang dapat menyerang ibu hamil
Infeksi yang menyerang ibu hamil bisa menular ke janin melalui plasenta atau ketika proses persalinan. Tanpa penanganan yang tepat, kondisi tersebut bisa menimbulkan komplikasi kehamilan dan mengancam janin.
Supaya Ibu bisa lebih waspada, inilah beberapa penyakit infeksi yang biasanya terjadi selama masa kehamilan.
1. Vaginosis bakterialis

Keputihan selama kehamilan sebenarnya merupakan hal yang wajar, tetapi Ibu perlu waspada jika mengalami keputihan yang berbau amis dan berwarna keabuan.
Ini bisa menjadi tanda vaginosis bakterialis (BV), yaitu penyakit infeksi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan flora normal di dalam vagina.
Penyakit ini terjadi ketika bakteri Lactobacillus di dalam Miss V berkurang drastis, sedangkan bakteri Gardnerella vaginallis justru meningkat akibat perubahan hormonal selama kehamilan.
Sebagian besar kasus BV memang tidak membahayakan, tetapi kondisi ini juga bisa meningkatkan risiko kelahiran prematur, berat bayi lahir rendah (BBLR), hingga keguguran. Untuk mengatasinya, dokter akan meresepkan pil antibiotik.
2. Streptococcus grup B
Meski risiko penularannya relatif kecil selama kehamilan, infeksi Streptococcus grup B tetap perlu diwaspadai karena bakteri ini masih bisa menginfeksi selama proses persalinan.
Jika dibiarkan, paparan bakteri Streptococcus pada bayi baru lahir bisa menyebabkan permasalahan serius, seperti meningitis dan pneumonia.
Janin yang terinfeksi Streptococcus grup B biasanya akan mengalami gangguan pernapasan, kesulitan menyusui, hingga tubuh menguning.
Jika ibu hamil diduga terinfeksi Streptococcus tipe B, dokter akan memberikan antibiotik selama persalinan.
3. Trikomoniasis
Jenis infeksi lain yang dapat menginfeksi ibu hamil adalah trikomoniasis. Ini merupakan infeksi yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis.
Penyakit infeksi ini bisa meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah (BBLR), serta bisa menular selama proses persalinan.
Gejala trikomoniasis antara lain keputihan berbau amis, keputihan berwarna kuning kehijauan, dan rasa gatal di area Miss V.
Untuk meminimalkan risiko penularan, dokter akan meresepkan metronidazole dan melarang ibu hamil berhubungan intim sampai dinyatakan sembuh.
4. Infeksi jamur vagina
Kadar estrogen yang lebih tinggi selama kehamilan membuat Miss V menghasilkan lebih banyak glikogen yang sumber makanan bagi jamur Candida.
Ketika sudah menginfeksi, jamur Candida akan menimbulkan rasa gatal, sensasi terbakar, ruam-ruam, dan keputihan tidak normal.
Sebagian besar kasus infeksi jamur vagina saat hamil memang tidak membahayakan janin. Akan tetapi, ada pula infeksi vagina yang bisa meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah (BBLR).
Menurut laman UT Southwestern Medical Center, dokter mungkin meresepkan antijamur seperti miconazole, clotrimazole, atau terconazole untuk ibu hamil selama 3–7 hari.
5. Cacar air

Chickenpox atau cacar air yang terjadi di luar masa kehamilan memang bisa dibilang tidak membahayakan. Namun, infeksi virus Varicella-zoster yang menyerang ibu hamil dapat berdampak buruk bagi janin.
Cacar air yang terjadi pada trimester pertama atau kedua bahkan dikhawatirkan bisa menimbulkan sindrom varicella kongenital (CVS).
Kondisi ini ditandai dengan pertumbuhan jaringan parut pada kulit, masalah saraf, hingga gangguan perkembangan fisik serta mental bayi yang lahir.
Untuk mengurangi risiko komplikasi cacar air saat hamil, Ibu akan diberi suntikan varicella zoster immune globulin (VZIG).
6. Herpes genital
Jika ibu hamil terkena herpes genital yang berlangsung hingga mendekati waktu persalinan, dokter mungkin menyarankan ibu untuk menjalani persalinan caesar.
Hal ini bertujuan untuk mencegah penularan herpes dari ibu ke janin. Virus herpes dikhawatirkan menyebar ke saraf pusat dan organ tubuh bayi yang baru lahir.
Ciri-ciri utama ibu hamil terkena infeksi virus herpes adalah munculnya lenting di area Miss V. Untuk menentukan pengobatan, dokter perlu menyesuaikannya dengan usia kehamilan.
7. Rubella
Menurut laman National Health Services, rubella adalah salah satu jenis infeksi yang patut diwaspadai selama kehamilan.
Pasalnya, infeksi rubella pada empat bulan pertama kehamilan bisa meningkatkan risiko bayi lahir cacat hingga keguguran.
Sebagian besar kasus rubella memang tidak bergejala. Akan tetapi, Ibu perlu waspada jika mengalami pembengkakan di beberapa sendi, mata kemerahan, dan sakit kepala.
Demi meminimalkan risiko penularan ke janin, dokter mungkin memberikan terapi antibodi imunoglobulin.
8. Hepatitis
Sama-sama menyerang hati, hepatitis B dan C selama kehamilan juga berisiko menular dari ibu ke janin.
Kedua penyakit ini pun sering kali tidak menunjukkan gejala sehingga ibu hamil yang berisiko mungkin diminta untuk melakukan pemeriksaan.
Jika Ibu mengalami penyakit ini selama hamil, pengobatan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan dan kondisi janin.
Namun, karena ibu hamil tidak disarankan untuk mengonsumsi obat hepatitis C, dokter mungkin menanganinya dengan melakukan pemantauan ketat.
Cara mencegah infeksi selama kehamilan
Selain menjaga jarak dengan seseorang yang sedang sakit, berikut adalah beberapa langkah sederhana untuk mengurangi risiko paparan infeksi selama kehamilan.
- Mencuci tangan dengan teratur menggunakan air mengalir dan sabun, terutama setelah dari toilet.
- Menghindari daging setengah matang atau mentah, termasuk pada sushi, telur, dan olahannya.
- Menghindari susu dan produk olahannya yang belum dipasteurisasi.
- Menggunakan sarung tangan ketika berkebun atau bercocok tangan.
- Menghindari berbagi peralatan makan dengan orang lain.
- Memastikan bahwa ibu hamil sudah mendapat vaksin yang diperlukan, seperti hepatitis, meningitis, dan tetanus.
- Menghindari kontak dengan hewan peliharaan, terutama saat hewan tersebut sakit.
Kehamilan memang membuat Ibu lebih berisiko mengalami berbagai jenis penyakit, termasuk infeksi. Namun, bukan berarti setiap ibu hamil akan mengalaminya.
Jangan lupa untuk melakukan upaya pencegahan yang diperlukan serta memeriksakan diri secara rutin ke dokter kandungan agar kesehatan Ibu dan janin selalu terjaga.
Kesimpulan
- Ibu hamil lebih mudah terkena infeksi karena kekebalan tubuhnya cenderung menurun. Ini juga menjadi alasan mengapa beberapa infeksi bisa berdampak lebih buruk selama kehamilan, terutama bagi janin.
- Beberapa infeksi yang patut diwaspadai selama kehamilan adalah trikomoniasis, infeksi jamur vagina, cacar air, herpes genital, rubella, dan hepatitis.
- Demi meminimalkan risiko infeksi, Ibu bisa menerapkan pola hidup sehat. Selain itu, hindari mengonsumsi makanan mentah atau setengah matang.
[embed-health-tool-pregnancy-weight-gain]