Berbagai Penyebab dan Faktor Risiko Limfoma atau Kanker Getah Bening

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Kanker getah bening atau limfoma merupakan jenis kanker darah yang paling sering terjadi. American Society of Hematology menyebut, sekitar setengah dari kasus kanker darah yang terjadi setiap tahun adalah limfoma. Namun, tahukah Anda apa penyebab dari penyakit ini? Berikut penjelasan mengenai penyebab dan faktor risiko penyakit kanker kelenjar getah bening atau limfoma yang perlu Anda ketahui.

Apa penyebab kanker kelenjar getah bening atau limfoma?

Limfoma merupakan kanker darah yang berkembang di sel darah putih bernama limfosit. Sel ini tersebar di dalam sistem limfatik dan berperan dalam melawan infeksi di tubuh. Adapun sistem limfatik berada di seluruh tubuh manusia yang terdiri dari kelenjar getah bening, limpa, sumsum tulang, dan kelenjar timus.

Penyebab terjadinya limfoma atau kanker kelenjar getah bening ini adalah mutasi atau perubahan genetik pada sel limfosit. Mutasi ini menyebabkan sel limfosit berkembang secara abnormal dan tidak terkendali.

Sel yang abnormal ini akan terus hidup dan berkembang biak, ketika sel normal lainnya akan mati pada jangka waktu tertentu dan digantikan dengan sel normal yang baru.

Dengan demikian, di dalam sistem limfatik akan terdapat penumpukan sel limfosit abnormal (sel kanker), yang bisa menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening atau menimbulkan gejala limfoma lainnya. Sel kanker ini pun dapat menyebar ke sistem limfatik lain atau bahkan hingga ke organ lain dari tubuh.

Sebenarnya, hingga saat ini tidak diketahui apa penyebab pasti dari mutasi genetik pada limfoma tersebut. Perubahan genetik ini mungkin terjadi secara kebetulan atau karena faktor risiko tertentu yang menyebabkannya.

Apa saja faktor yang meningkatkan risiko kanker kelenjar getah bening?

Para ahli meyakini ada beberapa faktor yang mungkin dapat mengembangkan limfoma. Setiap jenis limfoma, baik itu limfoma Hodgkin maupun limfoma non-Hodgkin, mungkin memiliki faktor risiko yang berbeda.

Namun, dilansir dari Lymphoma Action, faktor risiko utama dari kanker kelenjar getah bening adalah masalah pada sistem kekebalan tubuh. Berikut faktor-faktor yang disebut dapat meningkatkan risiko dan bisa menjadi penyebab seseorang terkena penyakit limfoma atau kanker kelenjar getah bening:

1. Penambahan usia

Limfoma dapat terjadi pada siapapun dan usia berapapun. Namun, penyakit ini paling sering ditemukan pada pasien berusia lanjut, yaitu di atas 55 tahun. Dengan demikian, risiko kanker limfoma meningkat seiring dengan pertambahan usia.

2. Jenis kelamin pria

Beberapa jenis limfoma lebih sering terjadi pada pria. Oleh karena itu, pria lebih mungkin terserang penyakit ini dibandingkan dengan wanita.

3. Riwayat keluarga atau genetik

Kanker getah bening bukanlah penyakit yang bisa diturunkan. Namun, bila Anda memiliki keluarga atau saudara dekat (orangtua, kakak, adik, atau anak) yang memiliki kanker getah bening, Anda pun memiliki risiko untuk terkena penyakit ini pada masa depan.

Hal ini tidak dikaitkan dengan genetik tertentu. Namun, peningkatan risiko ini mungkin disebabkan oleh polimorfisme yang sering ditemukan di dalam gen sistem kekebalan tubuh. Selain itu, gaya hidup juga bisa berkontribusi sebagai penyebab limfoma yang terkait dengan riwayat keluarga.

4. Masalah pada sistem kekebalan tubuh

Sistem kekebalan tubuh berperan dalam melawan infeksi dan membantu menyingkirkan sel-sel yang tidak diperlukan tubuh, seperti sel yang rusak atau tidak berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki masalah pada sistem kekebalan tubuh lebih mungkin mengalami kanker kelenjar getah bening daripada yang tidak.

Beberapa kondisi berkaitan sisitem kekebal tubuh yang dapat meningkatkan risiko limfoma, termasuk:

  • Konsumsi obat imunosupresif (obat yang menekan sistem kekebalan)

Obat ini umum digunakan  seseorang yang melakukan transplantasi organ atau transplantasi sel induk alogenik (donor). Tujuan penggunaan obat imunosupresif untuk mencegah tubuh bereaksi buruk terhadap organ atau sel yang didapat dari donor.

  • Gangguan imunodefisiensi

Sebagai contoh, ataxia telangiectasia atau sindrom Wiskott-Aldrich. Namun, kedua penyakit tersebut sangat jarang terjadi, sehingga kasus limfoma yang muncul karena penyebab gangguan imunodefisiensi pun jarang ditemukan.

  • HIV

Seseorang dengan HIV tidak dapat melawan infeksi dengan baik, sehingga berisiko terkena berbagai penyakit, termasuk kanker limfoma. Selain itu, infeksi HIV pun dapat menyebabkan perubahan pada sistem kekebalan tubuh sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. 

  • Gangguan autoimun

Beberapa gangguan autoimun dapat menyebabkan peradangan kronis, yang bisa menjadi penyebab penyakit kanker kelenjar getah bening. Selain itu, seseorang dengan gangguan autoimun pun lebih mungkin mengonsumsi obat  imunosupresif sehingga bisa menyebabkan limfoma. Adapun beberapa gangguan autoimun tersebut, yaitu sindrom Sjögren, lupus, atau penyakit celiac.

5. Infeksi virus tertentu

Bila Anda terinfeksi virus tertentu, seperti Epstein-Barr, HTLV-1, hepatitis C, atau herpes HHV8, Anda bisa berisiko terkena penyakit limfoma. Meski demikian, tidak semua orang dengan infeksi ini pasti akan mengalami limfoma. Bahkan, sebagian besar orang dengan infeksi ini tidak mengalami limfoma pada masa berikutnya.

6. Pernah mengalami kanker

Seseorang yang pernah memiliki penyakit kanker sebelumnya berisiko mengembangkan jenis kanker lain pada  masa mendatang. Hal ini bisa terjadi karena efek dari pengobatan kanker yang pernah dijalani, seperti kemoterapi atau radioterapi. Pasalnya, kedua jenis pengobatan ini dapat merusak sel, termasuk limfosit, yang bisa berkembang menjadi limfoma.

7. Paparan bahan kimia

Tidak hanya berisiko pada leukemia, paparan bahan kimia tertentu, seperti pestisida, juga bisa meningkatkan risiko terjadinya limfoma. Meski demikian, hal ini belum sepenuhnya terbukti. Risiko terjadinya limfoma karena penyebab ini pun kemungkinan hanya kecil. 

8. Pola hidup tidak sehat

Pola hidup yang buruk, seperti merokok, terlalu banyak mengonsumsi daging merah, lemak hewani, dan produk susu, kurang gerak, serta obesitas, disebut dapat meningkatkan risiko seseorang terkena limfoma. Meski demikian, kemungkinannya hanya kecil dan buktinya pun masih terbatas.

Namun, paling tidak, menerapkan pola hidup yang baik dapat meningkatkan kesehatan tubuh dan lebih mungkin terhindar dari berbagai penyakit.

Meski demikian, perlu diingat, memiliki satu atau lebih faktor risiko di atas bukan berarti Anda akan pasti terkena penyakit ini pada masa mendatang. Sebaliknya, seseorang yang mengalami kanker kelenjar getah bening pun mungkin memiliki faktor risiko atau penyebab yang tidak diketahui.

Namun, bila Anda khawatir akan faktor risiko tertentu, tidak ada salahnya untuk menanyakan ke dokter tentang kondisi Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Menggunakan Krim untuk Menghilangkan Bulu, Amankah?

Selain mencukur, waxing, dan laser, ada juga krim untuk menghilangkan bulu yang mudah dan murah. Apa krim perontok bulu aman untuk tubuh?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Perawatan Kulit, Kesehatan Kulit 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Perbedaan Tekanan Darah di Pagi, Siang, dan Malam Hari?

Pengukuran tekanan darah banyak dianjurkan untuk dilakukan pada pagi hari. Apakah akan ada perbedaan tekanan darah, jika dilakukan di lain waktu?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Flat Foot (Telapak Kaki Datar)

Normalnya, bagian tengah telapak kaki akan berlekuk. Namun, orang-orang penderita flat feet memiliki telapak kaki datar. Apa efeknya pada kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

5 Fakta Menarik Seputar Sarapan Bubur Ayam

Sarapan bubur ayam ternyata rendah kalori, namun bikin Anda cepat lapar lagi. Yuk, perhatikan beragam fakta lainnya soal bubur bagi kesehatan berikut ini.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Fakta Gizi, Nutrisi, Hidup Sehat 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pasca operasi usus buntu

Semua Hal yang Perlu Anda Perhatikan Setelah Jalani Operasi Usus Buntu

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 4 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
veneer gigi

Semua yang Perlu Anda Ketahui tentang Veneer Gigi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit
cepat turun berat badan pagi hari

7 Kebiasaan di Pagi Hari yang Bikin Cepat Turun Berat Badan

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
berapa banyak makan nasi saat sarapan

Seberapa Banyak Harusnya Porsi Makan Nasi Saat Sarapan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit