home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Hipertensi dalam Kehamilan

Hipertensi dalam Kehamilan
Definisi|Jenis|Tanda-tanda dan gejala|Penyebab|Faktor-faktor risiko|Komplikasi|Diagnosis dan pengobatan|Pengobatan di rumah

Definisi

Apa itu hipertensi dalam kehamilan?

Hipertensi dalam kehamilan adalah kondisi tekanan darah meningkat saat hamil. Tekanan darah tinggi yang tidak segera diatasi dapat mengakibatkan terjadinya komplikasi kesehatan pada ibu dan janin.

Seseorang didiagnosa memiliki hipertensi bila tekanan darahnya terukur tinggi, yang mencapai 140/90 mmHg atau lebih. Sementara tekanan darah normal berada di bawah 120/80 mmHg.

Hipertensi adalah masalah medis yang paling umum ditemui pada saat kehamilan. Sekitar 10 persen dari ibu hamil disebut telah mengalami tekanan darah tinggi selama kehamilannya.

Untungnya, kondisi ini masih dapat diatasi dengan cara melakukan perubahan gaya hidup serta konsumsi obat-obatan tertentu.

Seberapa umumkah hipertensi saat kehamilan terjadi?

Hipertensi adalah kondisi yang umum terjadi dalam kehamilan. Menurut Medscape, diperkirakan terdapat sekitar 10 persen kasus tekanan darah tinggi yang ditemukan selama kehamilan.

Hipertensi dalam kehamilan adalah kondisi yang dapat diatasi dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kondisi ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

Jenis

Apa saja jenis-jenis hipertensi yang terjadi saat kehamilan?

Hipertensi yang terjadi selama masa kehamilan dapat dibagi menjadi empat jenis. Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing jenis yang ada:

1. Hipertensi gestasional

Hipertensi gestasional biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu dan hipertensi ini bisa hilang setelah melahirkan.

Pada kondisi ini, tidak ada kelebihan protein di dalam urin atau tanda-tanda lain dari kerusakan organ penderitanya.

University of Rochester Medical Center menyebut, kondisi ini tidak diketahui penyebab pastinya. Pasalnya, hipertensi gestasional bisa dialami oleh ibu yang tidak pernah menderita tekanan darah tinggi sebelum masa kehamilannya.

2. Preeklampsia

Preeklampsia atau keracunan kehamilan adalah gangguan tekanan darah serius yang dapat mengganggu kerja organ. Biasanya hal ini terjadi pada usia kehamilan ke-20 minggu dan akan menghilang setelah Anda melahirkan bayi Anda.

Preeklampsia ditandai dengan tekanan darah tinggi dan proteinuria (adanya protein dalam urin).

Anda berisiko tinggi mengalami preeklampsia jika ibu kandung dan ibu dari suami mengalami hal yang sama pada masa kehamilannya.

Anda pun berisiko tinggi mengalami hipertensi jenis ini bila pernah mengalami preeklampsia pada kehamilan sebelumnya.

Penyebab preeklampsia belum diketahui secara pasti. Namun, preeklampsia tampaknya disebabkan oleh gangguan pada pertumbuhan plasenta sehingga aliran darah pada plasenta tidak berjalan dengan baik.

3. Hipertensi kronis

Kondisi tekanan darah tinggi kronis merupakan jenis yang paling umum terjadi pada ibu hamil. Sebanyak 90-95 persen kasus hipertensi dalam kehamilan tergolong dalam jenis ini.

Hipertensi kronis terjadi ketika kehamilan belum memasuki usia 20 minggu. Tidak seperti hipertensi gestasional, tekanan darah terkadang tidak akan kembali normal setelah melahirkan.

Ibu hamil yang mengalami hipertensi kronis sudah memiliki penyakit hipertensi sebelum kehamilan.

Jenis hipertensi ini terjadi tanpa proteinuria, tapi ebanyak 1 dari 4 wanita dengan hipertensi kronis bisa mengalami preeklampsia.

4. Hipertensi kronis dengan preeklampsia

Hipertensi kronis juga terkadang dapat terjadi dengan preeklampsia. Kondisi ini ditunjukkan dengan adanya kenaikan tekanan darah yang parah serta adanya protein di dalam urin.

Umumnya, kondisi ini menimpa ibu hamil dengan hipertensi kronis yang sudah ada sejak sebelum kehamilan.

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala dari hipertensi dalam kehamilan?

Tanda-tanda dan gejala hipertensi dalam kehamilan, tergantung pada jenisnya. Tentu yang paling terlihat adalah tekanan darah di atas 140/90 mmHg.

Namun secara umum, berikut tanda-tanda hipertensi pada ibu hamil melansir dari Primaya Hospital:

  • Sakit kepala yang parah
  • Nyeri pada perut bagian atas di bawah tulang rusuk sisi kanan
  • Mual dan muntah
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah
  • Sesak napas
  • Kelebihan protein dalam urin (proteinuria) atau tanda-tanda tambahan masalah ginjal
  • Bengkak di wajah, tangan, dan kaki.
  • Berat badan naik secara drastis dalam 1-2 hari.
  • Penglihatan buram atau berbayang.

Maka itu, memeriksa dan mengontrol tekanan darah selama kehamilan wajib untuk dilakukan. Setiap calon ibu harus menyadari bahwa tekanan darah berisiko meningkat sebelum, selama, bahkan setelah kehamilan.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda perlu waspada apabila muncul tanda-tanda dan gejala di atas. Jika mengalaminya, ada kemungkinan hipertensi yang dialami mungkin sudah memasuki tahapan yang lebih parah, seperti preeklampsia.

Namun, bila muncul tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas selama masa kehamilan, Anda tetap harus waspada. Selalu periksakan apapun kekhawatiran yang Anda miliki ke dokter.

Penyebab

Apa penyebab hipertensi dalam kehamilan?

Belum diketahui apa yang menjadi penyebab pasti dari hipertensi dalam kehamilan. Namun, beberapa kondisi kesehatan dapat memicu terjadinya kenaikan tekanan darah selama masa kehamilan.

Beberapa di antaranya adalah:

  • Berat badan berlebih atau obesitas
  • Merokok
  • Minum alkohol

Anda perlu hati-hati bila memiliki faktor penyebab di atas.

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor yang dapat meningkatkan risiko hipertensi dalam kehamilan?

Hipertensi dalam kehamilan adalah kondisi kesehatan yang dapat terjadi pada hampir setiap wanita. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kondisi ini.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu terjadinya hipertensi dalam kehamilan:

  • Hamil di atas usia 35 tahun
  • Hamil pertama kali
  • Hamil kembar
  • Pola hidup tidak sehat (mengonsumsi banyak garam dan makanan berlemak, berat badan berlebih)
  • Hamil hasil program bayi tabung

Mengutip American Society for Reproductive Medicine, menggunakan alat bantu kehamilan (seperti fertilisasi in vitro atau bayi tabung) juga memperbesar kesempatan calon ibu untuk menderita tekanan darah tinggi.

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang diakibatkan oleh hipertensi dalam kehamilan?

Apabila tekanan darah tinggi dalam kehamilan tidak segera ditangani, terdapat beberapa masalah kesehatan yang dapat mengancam ibu dan bayi di dalam kandungan. Berikut adalah komplikasi-komplikasi yang berpotensi terjadi:

1. Solusio plasenta

Tekanan darah yang meningkat selama kehamilan berisiko menyebabkan putusnya plasenta atau ari-ari bayi dari dinding rahim. Kondisi ini dinamakan dengan solusio plasenta.

Pada kasus yang parah, dapat terjadi pendarahan berat yang berisiko mengancam nyawa ibu dan bayi di dalam kandungan. Bahkan, ada kemungkinan bayi dapat meninggal di dalam kandungan (stillbirth).

2. Bayi lahir prematur

Dalam beberapa kasus, peningkatan tekanan darah pada ibu mengharuskan bayi lahir secara prematur. Kelahiran dapat dikategorikan sebagai prematur apabila usia janin belum mencapai 37 minggu.

Bayi yang terlahir prematur umumnya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami berbagai masalah kesehatan

3. Tumbuh kembang dan kesehatan bayi terganggu

Tekanan darah tinggi mengakibatkan plasenta tidak mendapat asupan darah yang cukup. Kondisi ini berpotensi menyebabkan bayi terlahir dengan berat badan rendah (BBLR).

Selain itu, beberapa masalah pada tumbuh kembang dan kesehatan bayi akan muncul, seperti penurunan kemampuan belajar, epilepsi, cerebral palsy, serta gangguan penglihatan dan pendengaran.

4. Sindrom HELLP

HELLP adalah singkatan dari hemolisis, elevated liver enzyme (peningkatan enzim pada hati), dan low platelet count (penurunan kadar trombosit).

Sindrom HELLP termasuk kondisi kesehatan yang berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa. Bila dibiarkan, kondisi ini dapat memicu terjadinya preeklampsia.

Sindrom ini dapat merusak organ-organ penting dalam tubuh, penderita perlu mendapatkan penanganan medis darurat.

5. Eklampsia

Eklampsia adalah bentuk preeklampsia yang lebih parah. Kondisi ini terjadi pada 1 dari 200 penderita preeklampsia. Meskipun jarang terjadi, kondisi ini sangat berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa.

Hal yang membedakan dengan preeklampsia adalah eklampsia disertai dengan kejang. Dalam beberapa kasus, penderita dapat mengalami penurunan kesadaran, bahkan koma.

6. Posterior reversible encephalopathy syndrome (PRES)

Sindrom ini ditandai dengan gejala-gejala kelainan saraf, seperti sakit kepala, kesadaran menurun, gangguan penglihatan, kejang, bahkan koma.

Selain disebabkan oleh peningkatan tekanan darah, sindrom ini juga dapat dipicu oleh masalah kesehatan lainnya, seperti fungsi ginjal yang bermasalah, penyakit autoimun, serta obat-obatan tertentu,

7. Penyakit jantung dan pembuluh darah

Seperti halnya hipertensi biasa, hipertensi dalam kehamilan juga dapat meningkatkan risiko ibu hamil menderita berbagai jenis penyakit jantung dan pembuluh darah.

Tekanan darah yang meningkat menyebabkan pembuluh darah rusak dan fungsi jantung menurun dalam jangka panjang. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya gagal jantung dan serangan jantung.

8. Kerusakan pada organ tubuh penting lainnya

Selain merusak jantung dan pembuluh darah, hipertensi juga dapat mengurangi suplai darah pada organ-organ tubuh vital, seperti otak, paru-paru, dan ginjal.

Apabila dibiarkan, kondisi ini dapat memicu munculnya penyakit-penyakit seperti stroke dan gagal ginjal.

Diagnosis dan pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana dokter mendiagnosis hipertensi dalam kehamilan?

Tekanan darah dapat dikatakan tinggi apabila berada di angka sistolik dan diastolik tertentu.

Angka sistolik merupakan angka yang menunjukkan tekanan saat jantung memompa darah, sedangkan angka diastolik menunjukkan tekanan ketika jantung beristirahat dan tidak memompa darah.

Apabila mengalami hipertensi dalam kehamilan, angka tekanan sistolik mencapai 140 milimeter air raksa (mmHg) atau lebih. Sementara itu, angka tekanan diastolik berada di kisaran 90 mmHg atau lebih.

Penghitungan tekanan darah biasanya dikategorikan sebagai berikut:

  • Tekanan darah naik (prehipertensi): Angka sistolik berada di kisaran 120-129 mmHg, dan angka diastolik di bawah 80 mmHg. Kondisi ini belum tergolong dalam hipertensi.
  • Hipertensi tahap 1: Jika angka sistolik berada di kisaran 130-139 mmHg atau diastolik berada di angka 80-89 mmHg, kemungkinan Anda menderita hipertensi tahap 1.
  • Hipertensi tahap 2: Jika angka sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, dan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, Anda mungkin menderita hipertensi tahap 2.

Apabila Anda hamil lebih dari 20 minggu dan tekanan darah meningkat setelah diperiksa sebanyak 2 kali dalam rentang waktu 4 jam, ada kemungkinan Anda mengidap hipertensi gestasional.

Bagaimana hipertensi dalam kehamilan diobati?

Umumnya, dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan perubahan pada pola makan dan gaya hidup terlebih dahulu sebelum memberikan obat-obatan.

Beristirahat yang cukup dapat membantu menurunkan tekanan darah, pembuangan cairan berlebih dari ginjal (diuresis), serta mengurangi risiko kelahiran prematur.

Pemberian obat-obatan biasanya berfokus pada hipertensi yang sudah parah serta berisiko menimbulkan komplikasi, baik pada ibu dan bayi.

Selama pemberian obat-obatan antihipertensi, dokter akan rutin mengawasi kondisi kesehatan janin Anda.

Berikut adalah obat-obatan antihipertensi yang dapat diberikan pada ibu hamil:

1. Alpha-adrenergic agonist

Jenis obat alpha-adrenergic agonist yang sering diberikan pada ibu hamil adalah methyldopa. Penggunaan obat ini tidak berpotensi menimbulkan masalah kesehatan maupun tumbuh kembang pada bayi, bahkan setelah bayi lahir dan tumbuh.

Obat ini bekerja pada saraf-saraf Anda, sehingga Anda mungkin akan mengalami beberapa efek samping, seperti terganggunya waktu tidur Anda. Selain itu, terdapat pula kemungkinan naiknya enzim hati.

Namun, konsumsi obat ini secara sendirian umumnya kurang efektif. Biasanya, obat methyldopa akan dikombinasikan dengan obat antihipertensi lainnya, seperti diuretik.

Selain methyldopa, obat alpha-adrenergic agonist lain yang dapat diresepkan adalah clonidine. Obat ini memiliki efek samping yang lebih kuat apabila dibanding dengan methyldopa, serta terdapat potensi mengganggu pertumbuhan janin.

2. Beta-blocker

Obat beta-blocker umumnya aman dikonsumsi oleh ibu hamil. Jenis beta-blocker yang sering digunakan untuk mengatasi hipertensi dalam kehamilan adalah labetalol.

Efek samping yang mungkin timbul adalah tubuh mudah lelah, serta gangguan pernapasan.

3. Calcium channel blocker

Obat calcium channel blocker, terutama jenis nifedipine dan verapamil, biasanya diberikan pada ibu hamil untuk mengatasi hipertensi. Namun, terdapat beberapa efek samping yang timbul, terutama apabila obat ini dikonsumsi dalam jangka panjang.

Beberapa di antaranya adalah gangguan pernapasan, masalah pada saraf-saraf otot, serta terpengaruhnya tumbuh kembang janin.

Obat-obatan antihipertensi yang umumnya tidak boleh dikonsumsi untuk ibu hamil adalah angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor, angiotensin II receptor blocker, serta renin inhibitor.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan di rumah yang dapat dilakukan untuk mengatasi hipertensi dalam kehamilan?

Cara paling mudah untuk mengatasi hipertensi dalam kehamilan serta mencegah terjadinya komplikasi adalah dengan menjaga gaya hidup yang sehat. Berikut cara-caranya:

  • Rutin memeriksakan diri ke dokter kandungan selama masa kehamilan.
  • Meminum obat-obatan antihipertensi yang telah diresepkan oleh dokter.
  • Aktif berkegiatan fisik sesuaikan dengan kodisi kehamilan
  • Menjalani pola makan rendah garam.

Bila ada pertanyaan, konsultasikan dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Chronic Hypertension in Pregnancy | Circulation. (2020). Circulation. Retrieved from https://www.ahajournals.org/doi/full/10.1161/CIRCULATIONAHA.113.003904

High Blood Pressure During Pregnancy. (2020). Retrieved 1 September 2020, from https://www.cdc.gov/bloodpressure/pregnancy.htm

Hypertension and Pregnancy: Overview, Chronic Hypertension, Differential Diagnosis. (2020). Retrieved 1 September 2020, from https://emedicine.medscape.com/article/261435-overview

Kattah, A., & Garovic, V. (2013). The Management of Hypertension in Pregnancy. Advances In Chronic Kidney Disease20(3), 229-239. doi: 10.1053/j.ackd.2013.01.014

High blood pressure and pregnancy: Know the facts. (2020). Retrieved 1 September 2020, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/pregnancy/art-20046098

Gestational Hypertension | American Pregnancy Association. (2018). Retrieved 1 September 2020, from https://americanpregnancy.org/pregnancy-complications/gestational-hypertension-859

Gestational Hypertension – Health Encyclopedia – University of Rochester Medical Center . (2020). Retrieved 1 September 2020, from https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=90&ContentID=P02484

Preeclampsia and High Blood Pressure During Pregnancy. (2020). Retrieved 1 September 2020, from https://www.acog.org/patient-resources/faqs/pregnancy/preeclampsia-and-high-blood-pressure-during-pregnancy

Preeclampsia & Eclampsia Symptoms, Signs & Causes. (2020). Retrieved 1 September 2020, from https://www.medicinenet.com/pregnancy_preeclampsia_and_eclampsia/article.htm

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Shylma Na'imah
Tanggal diperbarui 03/01/2021
x