Jalan Panjang Indonesia dalam Membuat Vaksin COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Para ilmuwan di seluruh dunia sedang bergegas mencari penangkal penyakit akibat coronavirus baru (COVID-19). Sudah banyak lembaga dan negara meneliti untuk mengembangkan vaksin COVID-19, termasuk Indonesia.

Namun, apa yang saat ini menjadi fokus utama Indonesia terkait vaksin COVID-19 ini?

Indonesia membuka jalan mencari vaksin COVID-19 sendiri

Vaksin hepatitis

Dalam upaya pengembangan vaksin COVID-19, pemerintah Indonesia membentuk satu konsorsium (perkumpulan) berisi ilmuwan berbagai bidang kepakaran dari beberapa lembaga penelitian dan universitas. 

Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman menjadi lembaga yang ditugasi pemerintah Indonesia untuk memimpin konsorsium ini.

Pembentukan konsorsium pengembangan vaksin COVID-19 ini sudah dimulai sejak (9/3) atau pekan kedua sejak diumumkannya kasus positif pertama di Indonesia. 

Konsorsium ini ditugaskan untuk mengembangkan seed (bibit) atau bahan pembuat vaksin dalam waktu 12 bulan. Setelah selesai, bibit ini akan diserahkan ke lembaga Biofarma untuk dilakukan rangkaian tahapan uji coba.

Meski begitu pengembangan vaksin adalah tugas sulit. Herawati Sudoyo, Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental LBM Eijkman mengatakan pengembangan vaksin adalah proses panjang dan mahal.

Ada banyak tingkatan dalam pembuatan vaksin, tahapan pertama adalah menyelidiki dan memahami genom virus. Yang dimaksud genom virus adalah keseluruhan informasi genetika dari virus, dalam hal ini virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.  

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

“Membuat seed vaksin kalau bisa dilihat dari data genom virusnya dan jika itu memang (SARS-CoV-2 yang beredar) di Indonesia. Kita akan mencari bagian dari virus tersebut yang spesifik Indonesia. Tapi misalnya kita bandingkan dengan data dunia itu sama maka kita pakai data universal,” jelas Herawati kepada Hello Sehat.

Sebuah studi menunjukkan SARS-CoV-2 ini bermutasi menjadi dua bentuk virus baru. Mutasi menyebabkan perubahan pada susunan genetik virusMutasi ini bisa menjadi salah satu dari banyak hambatan yang dihadapi para ilmuwan Indonesia dalam mempelajari virus dan vaksin COVID-19.

Perlu diketahui, saat ini fokus utama LBM Eijkman adalah deteksi kasus positif COVID-19 di mana pemerintah memberikan target 1.000 deteksi spesimen per hari.

Ilmuwan berbagai negara mencari vaksin COVID-19

vaksin Indonesia COVID-19

Saat ini, banyak lembaga dan negara meneliti vaksin coronavirus. Negara-negara ini, termasuk Indonesia mencoba sesegera mungkin menemukan vaksin COVID-19.

Data World Health Organization (WHO) menyatakan ada 60 kandidat vaksin yang saat ini sedang dikembangkan oleh berbagai lembaga di seluruh dunia. Beberapa di antaranya bahkan telah memasuki tahap uji klinis pertama pada manusia. 

China

Akademi Sains Medis Militer China bekerja sama dengan CanSino Biologics, sebuah perusahaan bioteknologi asal Hongkong untuk menciptakan vaksin.

Mereka sudah memulai tahap uji coba pada manusia sejak 16 Maret lalu. Rencananya uji coba ini akan dilakukan pada 108 orang relawan secara bertahap hingga Desember 2020.

self-limiting disease COVID-19

Amerika Serikat

Pada Maret 2020, Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (National Institute of Allergy and Infectious Diseases atau NIAID) Amerika sudah melakukan uji coba vaksin COVID-19 pertama pada manusia. 

Dalam sebuah konferensi pers, direktur NIAID Anthony Fauci mengatakan vaksin COVID-19 mereka akan memakan waktu 12-18 bulan untuk sampai pada tahap persetujuan penggunaan.

Israel

Ilmuwan Israel dari Galilee Research Institute (Migal) mengklaim tengah memodifikasi vaksin Infectious Bronchitis Virus (IBV) untuk dijadikan vaksin COVID-19. Migal juga merupakan pembuat vaksin IBV, yakni vaksin untuk avian coronavirus atau coronavirus menyerang unggas. 

“Sekarang berupaya menyesuaikan sistem vaksin generik kami dengan  COVID-19. MigVax (institusi afiliasi Migal) sedang mencari bahan yang siap untuk uji klinis dalam beberapa bulan,” ujar CEO Migal, David Zigdon, seperti dikutip dari New York Times (22/4).

Cara Perawatan di Rumah Jika Mengalami Gejala Ringan COVID-19

Kabar estimasi waktu yang diumumkan oleh lembaga-lembaga tersebut seperti membawa angin segar pada kondisi saat ini. 

Tapi banyak ilmuwan skeptis vaksin bisa selesai secepat itu. 18 bulan terdengar waktu yang lama. Namun, 18 bulan sesungguhnya terasa hanya sekedipan mata untuk menemukan sebuah vaksin. 

Menjadi skeptis bukan berarti pesimis. Tidak terlalu menaruh harapan besar pada janji ketersedian vaksin COVID-19 mungkin bisa membuat masyarakat Indonesia tetap siaga dan melakukan physical distancing dalam beberapa waktu ke depan.

Bagaimana jika ada negara yang selesai mengembangkan vaksin?

vaksin covid-19 indonesia

Para peneliti sudah memperingatkan bahwa jika vaksin COVID-19 sudah berhasil dikembangkan, kemungkinan besar kemampuan produksinya tidak akan cukup untuk semua orang.

Setiap negara yang belum berhasil mengembangkan vaksin akan berusaha membeli. Sedangkan negara yang punya vaksin belum tentu melepas stoknya karena harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan negara mereka.

“Meskipun ada industri yang punya kelebihan dia akan jual dengan harga pandemi. (Yang artinya) bisa sepuluh kali dari harga normal,” kata Direktur LBM Eijkman, Amin Soebandrio.

Itulah kenapa penting Indonesia berusaha untuk mengembangkan vaksin COVID-19 sendiri.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro juga telah menegaskan dalam sebuah wawancara acara d’Rooftalk bahwa Indonesia tidak boleh bergantung pada impor vaksin.

“Kita harus bisa memproduksinya, paling tidak membuat dari prototipe (contoh) yang sudah ada di negara lain,” kata Bambang.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

China Gunakan Tes Swab Anal untuk COVID-19, Apa Bedanya dengan Swab Nasofaring?

Swab anal untuk COVID-19 dilakukan dengan memasukan kapas berukuran 3-5 cm ke dalam anus dan memutarnya untuk mengambil sampel feses.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 5 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit