Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31 Desember 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Kasus COVID-19 semakin melonjak di seluruh Indonesia, satu pekan terakhir peningkatan kasus rata-rata hampir mencapai 5.000 per hari. Banyak kasus penularan COVID-19 diduga terjadi dari orang tanpa gejala (OTG) termasuk mereka yang masih berada di tahap awal infeksi sehingga gejalanya belum timbul.

Berapa banyak kasus penularan COVID-19 yang terjadi dari pasien-pasien OTG?

penularan covid-19 dari orang tanpa gejalla saat berkumpul dengan teman

Bukti epidemiologi menunjukkan bahwa sekitar satu dari lima orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala (OTG/asymptomatic). Berdasarkan sebuah studi, orang yang merasa sehat atau tanpa gejala itu mungkin tidak menyadari penularan yang terjadi melalui dirinya.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika (CDC) mengatakan bahwa OTG dan pasien COVID-19 yang belum menunjukkan gejala kemungkinan menyumbang lebih dari 50% angka penularan. Menurut CDC, 24% orang tanpa gejala menularkan virus ini ke orang lain dan 35% lainnya menularkan ke orang lain sebelum mereka mengalami gejala. 

“Kebanyakan kasus penularan SARS-CoV-2 terjadi dari orang tanpa gejala,” kata CDC, kembali menekankan pentingnya semua orang untuk mengenakan masker.

COVID-19 paling banyak menular melalui cipratan cairan pernapasan (droplet) yang keluar saat seseorang bicara, batuk, atau bersin. Penggunaan masker yang sesuai dapat membantu mengurangi jarak virus yang keluar melalui droplet tersebut. Belakangan CDC juga mengatakan bahwa masker dapat membantu mencegah seseorang menghirup virus dari droplet dalam ukuran besar dan kecil.

Menurut Direktur CDC, Anthony Fauci, memasuki bulan November akhir banyak kejadian penularan dari orang tanpa gejala karena lengah mengenakan masker. Kejadian ini banyak terjadi di klaster perkumpulan teman dan keluarga.  

“Pertemuan kelompok teman dan keluarga di dalam ruangan untuk makan bersama menjadi sumber utama penyebaran tanpa gejala,” kata Fauci dalam kuliah virtual untuk Fakultas Kedokteran Universitas Virginia pada hari Rabu (18/11). “Hal ini tampaknya mendorong infeksi lebih banyak daripada pengaturan pembukaan tempat umum yang pengaturannya lebih jelas,” lanjutnya.

Fakta-fakta ini menjadi pengingat untuk membuat rencana menghabiskan waktu liburan akhir tahun dengan lebih aman dan mematuhi protokol kesehatan seketat mungkin.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

927,380

Confirmed

753,948

Recovered

26,590

Death
Distribution Map

Kenapa OTG lebih banyak menularkan?

masker mengurangi penularan covid-19 dari orang tanpa gejala

Penelitian menunjukkan bahwa orang tanpa gejala pada umumnya kurang menular daripada mereka yang mengalami gejala karena tidak mengeluarkan banyak virus. Tetapi rasa aman palsu muncul karena tidak merasa sakit, hal ini membuat ia dan orang sekitarnya menjadi kurang berhati-hati. Kemungkinan alasan inilah yang membuat OTG menyumbang angka penularan COVID-19 paling banyak. 

Namun beberapa penelitian lain mengatakan bahwa  pasien OTG memiliki jumlah virus (viral load) yang sama dibandingkan dengan pasien bergejala. Hanya saja orang tanpa gejala kemungkinan memiliki respons antibodi yang dapat menetralisir virus dengan lebih cepat. 

Menurutu Muge Cevik, peneliti penyakit menular St Andrews University, Inggris, dengan adanya fakta ini maka penelusuran dan pengetesan juga harus difokuskan pada OTG untuk mengurangi sebagian besar peristiwa penularan. 

Cevik mengatakan bahwa orang tanpa gejala harus melakukan isolasi mandiri dengan baik. Selain itu untuk menghindari penularan dari OTG, maka setiap orang tetap harus melakukan langkah pencegahan penularan, seperti menjaga jarak, kebersihan tangan, dan mengenakan masker.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Vaksin Sinovac buatan China sedang diuji coba secara klinis pada ribuan orang di Bandung, Indonesia. Bagaimana perkembangannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin pasien covid-19

Rekomendasi Vitamin untuk Pasien Covid-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
psikotik covid-19

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit