Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Luasnya penyebaran COVID-19 di Indonesia terkait dengan banyak faktor, termasuk persoalan sebagian penduduk yang tidak percaya ancaman bahaya dan cepat penularan wabah ini. Ketidakpercayaan pada pandemi penyakit yang tengah terjadi dianggap sebagai salah satu masalah berat dalam pengendalian penularan COVID-19.

Apa yang menyebabkan seseorang tidak percaya COVID-19?

tak percaya covid-19

Pandemi COVID-19 di Indonesia masih belum bisa dikendalikan, angka penularan dan korban meninggal semakin banyak. Saat ini masyarakat diminta agar semakin bertanggung jawab atas kesehatan diri dan orang-orang di sekitarnya.

Salah satu cara utama untuk menjaga kesehatan bersama adalah dengan melakukan tindakan pencegahan secara konsisten. Menghindari kerumunan atau menjaga jarak fisik, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun adalah tiga hal tindakan pencegahan yang paling utama.

Namun, masih banyak yang mengabaikan protokol kesehatan tersebut. Salah satu alasan atau penyebab mereka tetap abai terhadap protokol kesehatan adalah karena tidak percaya akan keberadaan atau fakta dan data ilmiah COVID-19.

Menurut data survei BPS, ada 44,9 juta atau 17 persen orang di Indonesia yang merasa tak mungkin terpapar alias kebal dari COVID-19. Hasil survei ini disampaikan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 pada awal Oktober (2/10) lalu.

Selain itu, data ini menunjukkan ada 45 persen masyarakat Indonesia yang baru menjalankan protokol kesehatan dengan ketat ketika sudah ada orang terdekat tertular COVID-19, misalnya tetangga, orang di lingkungan tempat tinggalnya, atau keluarganya.

Rasa tidak percaya ini bukan hanya tidak percaya pada keberadaan wabah COVID-19 itu sendiri, namun ada beberapa alasan dan jenis ketidakpercayaan terhadap situasi pandemi ini. Sebagian dari mereka yang mengabaikan protokol, memercayai keberadaan COVID-19 namun tidak menganggap penyakit ini sebagai sesuatu yang serius. Sebagian yang lain merasa kebal dan tidak mungkin tertular COVID-19.

Alasan lain timbulnya ketidakpercayaan terhadap wabah ini adalah karena mereka meragukan data kasus. Bagi mereka, pencatatan angka penularan terlalu dibesar-besarkan atau data kasus tidak benar dan simpang siur.

Kondisi pandemi yang baru terjadi dalam seratus tahun terakhir ini memang situasi yang belum pernah dialami oleh banyak orang. Tak hanya timbul kekacauan fisik, informasi yang terkesan simpang siur dan berubah-ubah turut menyebabkan kekacauan mental bagi banyak orang. Akibatnya, banyak orang memilih tidak memercayai adanya COVID-19 daripada menerimanya sebagai kenyataan baru.

Berada dalam penyangkalan tidak selalu buruk, karena hal itu memberi seseorang waktu untuk menyesuaikan diri. Namun, penyangkalan jangka panjang bisa berbahaya bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga orang lain.

Penolakan dan Rasionalisasi

Psikolog klinis Ohio Amerika Serikat, Eve Whitmore, mengatakan bahwa penyangkalan terhadap fakta-fakta COVID-19 sebagai konstruksi dalam psikologi menggambarkan bagaimana orang menghadapi realitas. Ini adalah cara orang bertahan dalam kondisi kecemasan.

Menyangkal fakta-fakta COVID-19 adalah cara mereka menghilangkan hal-hal yang dapat membuat mereka mengalami kecemasan berlebih. Menurut Whitmore, orang seperti ini sedang mencoba melindungi diri dari rasa cemas dan memberi rasa aman palsu pada dirinya.

Ada yang memilih untuk menyangkal beberapa fakta terkait COVID-19 untuk membenarkan perilaku negatif mereka dalam menentang protokol kesehatan. Sebagai contoh, mereka percaya COVID-19 bisa sembuh sendiri seperti flu dan memilih tidak percaya bahwa penyakit ini bisa parah dan membahayakan.

Dengan menyangkal dan tidak percaya akan fakta bahaya penularan COVID-19, mereka menolak memakai masker dan tetap menghadiri acara perkumpulan besar. Meski belasan ribu korban telah berjatuhan dan angka penularan semakin tinggi selama hampir satu tahun, hingga kini masih ada pihak-pihak yang tidak memercayai keberadaan COVID-19.

Kebijakan penanganan COVID-19 yang tidak tegas dan kredibilitas data yang sulit dipercaya dikhawatirkan dapat meningkatkan angka ketidakpercayaan masyarakat akan kondisi pandemi COVID-19.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 31/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x