Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Sebuah studi memperkirakan bahwa kota-kota besar yang padat penduduk akan mengalami pandemi COVID-19 lebih lama dibanding wilayah dengan populasi kecil. Hingga saat ini, setelah lebih dari 8 bulan berlalu, pandemi COVID-19 secara global masih berlangsung dan belum ada tanda-tanda segera berakhir. 

Penambahan kasus di Indonesia masih terbilang tinggi di angkat 4000-an per hari dan belum menunjukan kurva penurunan kasus. Itu artinya, meski di beberapa negara lain gelombang pertama telah terlewati, sementara di Indonesia puncak gelombang pertama pun belum dilalui.

Bagaimana kepadatan kota dan penduduk membuat wabah COVID-19 bertahan lebih lama?

Di fase awal pandemi, penularan terjadi karena adanya mobilitas manusia keluar dari Wuhan lalu menyebar ke berbagai negara lain. Kemudian penularan meluas di satu wilayah dan berubah bukan lagi kasus impor namun terjadi transmisi lokal di antara masyarakat. 

Peneliti dari Oxford University membuat model penyebaran COVID-19 di kota atau komunitas dengan kepadatan populasi yang berbeda.

Studi ini dilakukan dengan memvalidasi model dan membandingkan data penularan dari pergerakan individu dan tingkat infeksi di kota-kota China yang padat dengan provinsi yang kurang padat di Italia.

Berdasarkan permodelan tersebut, tim peneliti menemukan bahwa pengurangan mobilitas warga memang mampu menekan laju penambahan kasus. Namun kepadatan penduduk menjadi faktor independen yang menentukan situasi pandemi.

Daerah dengan populasi dan kepadatan penduduk yang rendah mengalami pandemi lebih singkat dibandingkan dengan daerah berpopulasi tinggi dan padat penduduk. Di daerah kurang padat penduduk, puncak wabah bisa terjadi dengan cepat ketika muncul superspreading atau penularan besar. Namun wabah dapat dengan cepat mereka karena warga tidak berbaur dengan bebas.

Sedangkan kota-kota besar dengan penduduk padat diprediksi akan mengalami pandemi lebih lama. Kepadatan penduduk berpotensi menimbulkan penularan berkelanjutan di antara rumah tangga dan populasi kota. 

Faktor lain yang membuat kasus penularan tidak turun dan terjadi berkepanjangan juga terkait dengan tata letak kota dan struktur sosial bukan hanya keramaian populasi. Maka menekan mobilitas warga dapat menjadi intervensi non-medis untuk mengurangi laju penularan sehingga melandaikan kurva epidemi. Untuk itu perlu dipertimbangkan perubahan struktur kota yang dapat mengurangi kerumunan di seluruh ruang kota. 

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

Tren penularan di kota-kota padat penduduk

kepadatan kota memengaruhi pandemi COVID-19

Jumlah kasus penularan COVID-19 yang dikonfirmasi di seluruh dunia telah melampaui 35 juta, menurut angka oleh Universitas Johns Hopkins Amerika.

Dalam studi lainnya yang dilakukan peneliti Johns Hopkins dan Utah University menunjukkan sisi lain dari penularan COVID-19 di kota dan di daerah. 

Kota besar yang padat penduduk meskipun dalam teorinya akan menyebabkan penularan besar dan lama tetapi memiliki akses ke fasilitas kesehatan yang lebih bagus. Selain itu kebijakan dan implementasi pencegahan juga lebih diperhatikan. 

Sedangkan penularan yang terjadi di daerah dengan penduduk yang lebih jarang seperti di pedesaan cenderung memiliki tingkat kematian lebih besar karena kurangnya fasilitas kesehatan. Studi ini menekankan bahwa desain wilayah, perencanaan tata kota, dan kebijakan ruang untuk mengurai kepadatan kota sangat penting untuk diperbaiki dalam menghadapi COVID-19. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit