Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Sebuah studi memperkirakan bahwa kota-kota besar yang padat penduduk akan mengalami pandemi COVID-19 lebih lama dibanding wilayah dengan populasi kecil. Hingga saat ini, setelah lebih dari 8 bulan berlalu, pandemi COVID-19 secara global masih berlangsung dan belum ada tanda-tanda segera berakhir.

Penambahan kasus di Indonesia masih terbilang tinggi di angkat 4000-an per hari dan belum menunjukan kurva penurunan kasus. Itu artinya, meski di beberapa negara lain gelombang pertama telah terlewati, sementara di Indonesia puncak gelombang pertama pun belum dilalui.

Bagaimana kepadatan kota dan penduduk membuat wabah COVID-19 bertahan lebih lama?

Di fase awal pandemi, penularan terjadi karena adanya mobilitas manusia keluar dari Wuhan lalu menyebar ke berbagai negara lain. Kemudian penularan meluas di satu wilayah dan berubah bukan lagi kasus impor namun terjadi transmisi lokal di antara masyarakat.

Peneliti dari Oxford University membuat model penyebaran COVID-19 di kota atau komunitas dengan kepadatan populasi yang berbeda.

Studi ini dilakukan dengan memvalidasi model dan membandingkan data penularan dari pergerakan individu dan tingkat infeksi di kota-kota China yang padat dengan provinsi yang kurang padat di Italia.

Berdasarkan permodelan tersebut, tim peneliti menemukan bahwa pengurangan mobilitas warga memang mampu menekan laju penambahan kasus. Namun kepadatan penduduk menjadi faktor independen yang menentukan situasi pandemi.

Daerah dengan populasi dan kepadatan penduduk yang rendah mengalami pandemi lebih singkat dibandingkan dengan daerah berpopulasi tinggi dan padat penduduk. Di daerah kurang padat penduduk, puncak wabah bisa terjadi dengan cepat ketika muncul superspreading atau penularan besar. Namun wabah dapat dengan cepat mereka karena warga tidak berbaur dengan bebas.

Sedangkan kota-kota besar dengan penduduk padat diprediksi akan mengalami pandemi lebih lama. Kepadatan penduduk berpotensi menimbulkan penularan berkelanjutan di antara rumah tangga dan populasi kota.

Faktor lain yang membuat kasus penularan tidak turun dan terjadi berkepanjangan juga terkait dengan tata letak kota dan struktur sosial bukan hanya keramaian populasi. Maka menekan mobilitas warga dapat menjadi intervensi non-medis untuk mengurangi laju penularan sehingga melandaikan kurva epidemi. Untuk itu perlu dipertimbangkan perubahan struktur kota yang dapat mengurangi kerumunan di seluruh ruang kota.

Tren penularan di kota-kota padat penduduk

kepadatan kota memengaruhi pandemi COVID-19

Jumlah kasus penularan COVID-19 yang dikonfirmasi di seluruh dunia telah melampaui 35 juta, menurut angka oleh Universitas Johns Hopkins Amerika.

Dalam studi lainnya yang dilakukan peneliti Johns Hopkins dan Utah University menunjukkan sisi lain dari penularan COVID-19 di kota dan di daerah.

Kota besar yang padat penduduk meskipun dalam teorinya akan menyebabkan penularan besar dan lama tetapi memiliki akses ke fasilitas kesehatan yang lebih bagus. Selain itu kebijakan dan implementasi pencegahan juga lebih diperhatikan.

Sedangkan penularan yang terjadi di daerah dengan penduduk yang lebih jarang seperti di pedesaan cenderung memiliki tingkat kematian lebih besar karena kurangnya fasilitas kesehatan. Studi ini menekankan bahwa desain wilayah, perencanaan tata kota, dan kebijakan ruang untuk mengurai kepadatan kota sangat penting untuk diperbaiki dalam menghadapi COVID-19.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Rader, B., Scarpino, S.V., Nande, A. et al. Crowding and the shape of COVID-19 epidemics. Nat Med (2020). https://doi.org/10.1038/s41591-020-1104-0
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 18/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x