WHO Umumkan Ada 7-8 Kandidat Terbaik Vaksin COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

World Health Organization (WHO) menyatakan telah menemukan setidaknya tujuh atau delapan kandidat terbaik vaksin COVID-19. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan bahwa timnya tengah berupaya mempercepat pengembangan vaksin guna menghentikan laju penyebaran pandemi.

Perjalanan mencari vaksin COVID-19 memang masih belum tampak akhirnya. Meski begitu, puluhan instansi di seluruh dunia kini terus berlomba menguji ratusan kandidat vaksin yang paling berpotensi untuk mencegah COVID-19. Berikut perkembangan terbaru yang telah dilaporkan.

Kandidat vaksin COVID-19 menurut WHO

vaksin covid-19 indonesia

Tedros sebelumnya mengatakan melalui video di UN Economic and Social Council bahwa pengembangan vaksin COVID-19 mungkin memakan waktu 12 hingga 18 bulan. Faktor kendala dalam proses ini antara lain ketersediaan dana dan rumitnya uji coba.

Meski demikian, WHO sebenarnya telah bekerja sama dengan ribuan peneliti di seluruh dunia untuk mempercepat pencarian vaksin sejak Januari lalu. Vaksin dikembangkan melalui percobaan pada hewan hingga desain uji klinis dan proses lainnya yang terkait.

Tedros menambahkan, WHO hingga kini telah mengumpulkan serta mengembangkan lebih dari seratus kandidat vaksin COVID-19. Mereka sekarang fokus pada tujuh atau delapan kandidat vaksin yang berpotensi memberikan hasil paling baik.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,298,608

Confirmed

1,104,990

Recovered

35,014

Death
Distribution Map

Ia tidak menyebutkan lebih rinci kandidat mana saja yang termasuk dalam kelompok teratas tersebut. Akan tetapi, WHO melaporkannya dalam dokumen draf lanskap yang diterbitkan pada 11 Mei lalu. Berikut daftarnya:

  1. Adenovirus Type 5 Vector milik perusahaan CanSino Biological dan Beijing Institute of Biotechnology dari Tiongkok.
  2. LNP-encapsulated mRNA milik perusahaan Moderna dan National Institute of Allergy and Infectious Diseases dari Amerika Serikat.
  3. Kandidat vaksin milik perusahaan Sinopharm dan Wuhan Institute of Biological Products dari Tiongkok.
  4. Kandidat vaksin milik perusahaan Sinopharm dan Beijing Institute of Biological Products dari Tiongkok.
  5. Kandidat vaksin milik perusahaan Sinovac Biotech dari Tiongkok.
  6. ChAdOx1 milik University of Oxford dari Inggris.
  7. 3 LNP-mRNAs milik lembaga Biopharmaceutical New Technologies dari Jerman, perusahaan Fosun Pharma dari Tiongkok, dan Pfizer dari Amerika Serikat.
  8. Kandidat vaksin plasmid DNA dengan elektroporasi milik lembaga Inovio Pharmaceuticals dari Amerika Serikat.

Selain kedelapan kandidat tersebut, WHO juga mempunyai 102 calon vaksin COVID-19 lainnya yang masih berada dalam tahap praklinis. Hingga terdapat perkembangan lebih lanjut, setiap negara perlu berupaya meningkatkan akses pelayanan kesehatan dan menggiatkan upaya mencegah COVID-19.

mencegah tertular coronavirus

Perjalanan dunia dalam mencari vaksin COVID-19

Prediksi berakhirnya COVID-19

Menghadapi pandemi COVID-19 membuat seluruh dunia bertanya-tanya kapan vaksin akan tersedia. Jawabannya rumit dan sangat tergantung dengan kondisi, sebab pengembangan vaksin terdiri dari rangkaian proses yang panjang.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), ada enam tahapan dalam pengembangan vaksin. Ratusan kandidat vaksin yang ada dalam daftar WHO harus melewati seluruh tahapan tersebut sebelum bisa menjadi vaksin COVID-19.

Tahap-tahapnya adalah sebagai berikut:

1. Penyelidikan

Ini merupakan tahap untuk meneliti bahan vaksin maupun buatan yang punya potensi mencegah atau mengobati penyakit. Bahan vaksin biasanya berbentuk virus yang sudah dilemahkan sehingga tidak bisa menyebabkan penyakit di dalam tubuh.

Saat ini terdapat lebih dari 20 kandidat vaksin COVID-19 yang masih berada dalam tahap penyelidikan. Ada vaksin yang dikembangkan dari vaksin SARS, bahan genetik virus SARS-CoV-2, serta kombinasi dari beberapa antigen.

2. Praklinis

Pada tahap ini, peneliti menggunakan teknologi kultur jaringan dan uji coba pada hewan untuk menentukan apakah calon vaksin dapat membentuk kekebalan. Banyak calon vaksin gagal dalam tahap ini karena tidak bisa membentuk kekebalan atau berbahaya bagi subjek penelitian.

3. Pengembangan klinis

Ini adalah tahap ketika perusahaan pengembang vaksin mengajukan proposal berisi hasil uji praklinis kepada US Food and Drug Administration (FDA). FDA mempunyai waktu 30 hari untuk menerima proposal tersebut.

Setelah proposal diterima, kandidat vaksin COVID-19 harus melewati tiga tahapan uji klinis pada manusia yang terdiri dari:

  • Fase I: calon vaksin diuji pada kelompok kecil (kurang dari 100 orang) untuk menentukan apakah vaksin aman untuk manusia.
  • Fase II: calon vaksin diuji pada beberapa ratus orang untuk menentukan keamanan, kemampuan membentuk kekebalan, dosis, dan jadwal imunisasi.
  • Fase III: calon vaksin diuji pada puluhan ribu orang untuk mengukur keamanan, kemungkinan efek samping, dan efektivitasnya.

Jalan Panjang Indonesia dalam Membuat Vaksin COVID-19

4. Peninjauan aturan dan persetujuan

Apabila kandidat vaksin COVID-19 berhasil melewati ketiga fase pengembangan klinis, pihak pengembang vaksin akan mengajukan perizinan ke FDA. FDA akan memeriksa kembali aturan penggunaan vaksin tersebut sebelum menyetujuinya.

5. Produksi

Pada tahap ini, pabrik obat-obatan besar akan menyediakan infrastruktur, pekerja, dan peralatan yang diperlukan untuk memproduksi vaksin dalam jumlah besar. Mereka akan mendapatkan keuntungan dari obat-obatan dan vaksin yang diproduksi.

6. Kontrol kualitas

Vaksin yang telah diproduksi belum bisa diberikan kepada masyarakat. Para pemegang kebijakan harus mengikuti prosedur tertentu untuk memastikan bahwa vaksin bekerja seperti yang diharapkan.

Terkadang, vaksin-vaksin yang sudah diproduksi juga melewati uji klinis fase IV apabila dinilai perlu. Pengujian ini bertujuan untuk memantau keamanan, efektivitas, dan kerja vaksin yang sudah mengantongi perizinan.

Kandidat vaksin yang diumumkan WHO memang masih perlu melewati rangkaian proses panjang sebelum bisa menjadi vaksin COVID-19 yang sesungguhnya. Masih ada uji klinis berlapis, perizinan, dan tahap lainnya menuju produksi.

Walau begitu, ini adalah angin segar dalam peperangan melawan COVID-19. Sebagai masyarakat, Anda dapat ikut berperan dengan mencuci tangan dan menerapkan physical distancing demi menghentikan penyebaran pandemi.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

China Gunakan Tes Swab Anal untuk COVID-19, Apa Bedanya dengan Swab Nasofaring?

Swab anal untuk COVID-19 dilakukan dengan memasukan kapas berukuran 3-5 cm ke dalam anus dan memutarnya untuk mengambil sampel feses.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 5 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Virus Nipah Berpotensi Menjadi Wabah Besar Berikutnya

Virus Nipah, yang mewabah hampir setiap tahun di beberapa negara di Asia, berpotensi menjadi wabah besar berikutnya seperti pandemi COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Penyakit Infeksi, Infeksi Virus 4 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
digital fatigue

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
WHO investigasi COVID-19

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit