home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Infeksi COVID-19 menyebabkan gejala-gejala umum yang hampir sama seperti gejala influenza misalnya demam, sesak napas, dan batuk kering. Namun seiring meluasnya kasus dan berkembangnya penelitian, gejala COVID-19 baru banyak ditemukan. Belakangan diberitakan adanya gangguan psikotik pada pasien COVID-19 yang sama sekali tidak memiliki riwayat masalah kesehatan jiwa sebelumnya.

Dokter menangani kasus pasien COVID-19 yang mengalami gejala psikotik

Infeksi COVID-19 menyebabkan gejala-gejala umum yang hampir sama seperti gejala influenza misalnya demam, sesak napas, dan batuk kering. Namun seiring meluasnya kasus dan berkembangnya penelitian, gejala COVID-19 baru banyak ditemukan. Belakangan diberitakan adanya gangguan psikotik pada pasien COVID-19 yang sama sekali tidak memiliki riwayat masalah kesehatan jiwa sebelumnya. Dokter menangani kasus pasien COVID-19 yang mengalami gejala psikotik. Psikosis atau gangguan psikotik adalah kelaianan jiwa yang disertai dengan disintergrasi kepribadian dan gangguan kontak dengan kenyataan. Gejala psikotik ini dilaporkan terjadi pada pasien COVID-19 bahkan beberapa diantaranya dialami oleh pasien yang tidak memiliki riwayat ataupun keturuanan penyakit mental. Salah satu kasusnya diceritakan oleh dr. Hisam Goueli, seorang psikiater di Rumah Sakit South Oaks Amityville. Hari itu Goueli menerima pasien seorang fisioterapi berusia 42 tahun, ia juga seorang ibu dengan 4 orang anak berusia 2-10 tahun. Pasien ini datang dengan keluhan tanda dan gejala yang tidak biasa. Sambil terisak, pasien ini mengatakan dia terus menerus melihat anak-anaknya dibunuh dengan cara keji dan ia sendiri yang membuat skenario pembunuhan itu. “Rasanya seperti dia mengami film, seperti ‘Kill Bill’,” kata Goueli seperti dikuti dari The New York Times. Pasien menggambarkan salah satu anaknya mati ditabrak truk dan 3 orang lainnya mati dipenggal. “Pasien mengatakan ‘Saya sangat mencintai anak-anak saya, dan tidak tahu apa yang membuat saya ingin memenggal mereka’,” kata Goueli menceritakan apa yang dikatakan pasiennya. Goueli mengatakan pasien ini terinfeksi COVID-19 pada musim semi lalu (sekitar Maret-Mei) dengan gejala fisik ringan. Tapi beberapa bulan kemudian dia mendengar suara pertama yang menyuruhnya bunuh diri, kemudian suara itu juga menyuruhnya untuk membunuh anak-anaknya. “Mungkin (gejala psikotik) ini terkait COVID-19, tapi mungkin juga tidak,” kata Goueli, saat itu ia belum bisa memastian. Tapi kemudian ia menemui kasus-kasus selanjutnya, dokter-dokter lain dari berbagai wilayah di dunia juga mulai melaporkan menerima kasus serupa. Yakni pasien mengalami gejala psikotik parah beberapa minggu setelah sembuh dari COVID-19. Padahal tidak memiliki riwayat sakit jiwa sebelumnya. Kasus-kasus serupa yang ditangani dokter lain Jurnal ilmiah BMJ menuliskan kasus yang terjadi pada seorang perempuan berusia 36 tahun yang bekerja sebagai perawat di panti jompo, sehat dan tidak memiliki riawayat penyakit jiwa apapun. Saat terinfeksi COVID-19, perempuan ini mengalami gejala rinorea dan hidung tersumbat tanpa disertai gejala sesak, anosmia, ataupun kehilangan pengecapan. Kira-kira 4 hari setelah timbulnya gejala tersebut, ia terlihat mengalami perubahan prilaku akut. Pasien mengatakan ia mengalami delusi penganiayaan. Ia yakin pasanganya akan menculik ketiga anaknya, ia berusaha menyelamatkan anaknya dengan mendorong mereka melewati jendela restoran drive-through. Pasien COVID-19 dengan gejala psikotik akut ini dirawat di rumah sakit dengan pemantauan dokter umum dan dokter spesialis kesehatan jiwa. Di luar laporan kasus individu, peneliti Inggris melaukan penelitian komplikasi neurologi atau psikiatri pada 153 pasien infeksi COVID-19. Hasilnya 10 pasien COVID-19 diantaranya mengalami gangguan psikotik. Studi lain mengidentifikasi adanya 10 orang pasien COVID-19 yang juga mengalami gangguan psikosis akut seperti itu di salah satu rumah sakit di Spanyol. Para ahli medis mengatakan mereka memperkirakan bahwa disfungsi psikiatri yang ekstrem seperti itu hanya akan mempengaruhi sebagian kecil pasien. Tetapi kasus-kasus psikotik tersebut dianggap sebagai contoh bagaimana COVID-19 memiliki kemampuan memengaruhi kesehatan mental dan fungsi otak. Bagaimana infeksi COVID-19 memengaruhi kesehatan jiwa dan fungsi otak COVID-19 yang awalnya dianggap sebegai penyakit yang menyerang pernapasan ternyata bisa menyebabkan banyak gejala lain termasuk efek neurologis, kognitif, dan psikologis. Gejala-gejala ini banyak terjadi pada pasien COVID-19 yang tidak mengalami gejala pernapasan, paru-paru, jantung, ataupun masalah peredaran darah serius. Pasien dr. Goueli tidak mengalami masalah pernapasan, tapi memiliki gejala neurologis yang tidak kentara seperti kesemutan, sakit kepala, atau kemampuan penciuman yang berkurang. Dua minggu hingga beberapa bulan setelah gejala COVID-19 tersebut, mereka mengalami psikotik akut yang mengkhawatirkan. Gejala psikotik pada pasien COVID-19 sama melemahkannya seperti gejala fisik dan belum jelas berapa lama gejala tersebut bertahan dan bagaimana proses pengobatannya. Beberapa pasien post-COVID-19 (pasien sembuh dari COVID-19) yang mengalami masalah psikotik membutuhkan perawatan di rumah sakit selama berminggu-minggu. Dokter-dokter juga masih mencoba berbegai pengobatan. Apa yang membuat COVID-19 menyebabkan masalah psikotik Para ahli ini percaya masalah yang terjadi pada otak dan neurologi ini kemungkinan terkait dengan respon kekebalan tubuh terhadap virus yang mengalami lonjakan. Dr. Robert Yolken, ahli neurovirologi di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore, mengatakan dalam beberapa kasus mungkin sistem kekebalan tubuh tidak proses pada sistem kekebalan tubuh mungkin tidak berhasil dimatikan meskipun fisik telah pulih dari COVID-19. Aktivasi sistem kekebalan yang persisten ini juga menjelaskan mengapa bisa terjadi brainfog (semacam pikun) dan masalah memori lainnya pada banyak pasien COVID-19.

Psikosis atau gangguan psikotik adalah kelainan jiwa yang disertai dengan disintergrasi kepribadian dan gangguan kontak dengan kenyataan.

Gejala psikotik ini dilaporkan terjadi pada pasien COVID-19 bahkan beberapa di antaranya dialami oleh pasien yang tidak memiliki riwayat ataupun keturunan penyakit mental.

Salah satu kasusnya diceritakan oleh dr. Hisam Goueli, seorang psikiater di Rumah Sakit South Oaks Amityville. Hari itu Goueli menerima pasien seorang fisioterapis berusia 42 tahun, ia juga seorang ibu dengan 4 orang anak berusia 2-10 tahun. Pasien ini datang dengan keluhan tanda dan gejala yang tidak biasa.

Sambil terisak, pasien ini mengatakan dia terus menerus melihat anak-anaknya dibunuh dengan cara keji dan ia sendiri yang membuat skenario pembunuhan itu.

“Rasanya, dia mengami sebuah adegan di film seperti ‘Kill Bill’,” kata Goueli seperti dikutip dari The New York Times.

Pasien tersebut menggambarkan salah satu anaknya mati ditabrak truk dan 3 orang lainnya mati dipenggal.

“Pasien saya mengatakan, ‘Saya sangat mencintai anak-anak saya dan tidak tahu apa yang membuat saya ingin memenggal mereka’,” kata Goueli menceritakan apa yang dikatakan pasiennya.

Goueli mengatakan pasien ini terinfeksi COVID-19 pada musim semi lalu (sekitar Maret-Mei) dengan gejala fisik ringan. Tapi beberapa bulan kemudian dia mendengar suara pertama yang menyuruhnya bunuh diri, kemudian suara itu juga menyuruhnya untuk membunuh anak-anaknya.

“Mungkin (gejala psikotik) ini terkait COVID-19, tapi mungkin juga tidak,” kata Goueli. Saat itu ia belum bisa memastikan apapun.

Tapi kemudian ia menemui kasus-kasus selanjutnya. Dokter-dokter lain dari berbagai wilayah di dunia juga mulai melaporkan menerima kasus serupa, yakni pasien mengalami gejala psikotik beberapa minggu setelah sembuh dari COVID-19. Padahal pasien-pasien tersebut tidak memiliki riwayat sakit jiwa sebelumnya.

Kasus-kasus serupa yang ditangani dokter lain

Jurnal ilmiah BMJ menuliskan kasus yang terjadi pada seorang perempuan berusia 36 tahun yang bekerja sebagai perawat di panti jompo, sehat, dan tidak memiliki riwayat penyakit jiwa apapun.

Saat terinfeksi COVID-19, perempuan ini mengalami gejala rinorea (rongga hidung dipenuhi lendir) dan hidung tersumbat tanpa disertai gejala sesak, anosmia, ataupun kehilangan indra pengecapan. Kira-kira 4 hari setelah timbulnya gejala tersebut, ia terlihat mengalami perubahan perilaku akut.

Pasien mengatakan ia mengalami delusi penganiayaan. Ia yakin pasanganya akan menculik ketiga anaknya, ia berusaha menyelamatkan anaknya dengan mendorong mereka melewati jendela restoran drive-through.

Pasien COVID-19 dengan gejala psikotik akut ini dirawat di rumah sakit dengan pemantauan dokter umum dan dokter spesialis kesehatan jiwa.

Di luar laporan kasus individu, peneliti Inggris melakukan penelitian komplikasi neurologi atau psikiatri pada 153 pasien infeksi COVID-19. Hasilnya 10 pasien COVID-19 di antara 153 partisipan itu mengalami gangguan psikotik. Studi lain mengidentifikasi adanya 10 orang pasien COVID-19 yang juga mengalami gangguan psikotik akut di salah satu rumah sakit di Spanyol.

Para ahli medis memperkirakan bahwa disfungsi psikiatri yang ekstrem seperti itu hanya akan memengaruhi sebagian kecil pasien. Tetapi kasus-kasus psikotik tersebut dianggap sebagai contoh bagaimana COVID-19 memiliki kemampuan memengaruhi kesehatan mental dan fungsi otak.

Bagaimana infeksi COVID-19 memengaruhi kesehatan jiwa dan fungsi otak

Infeksi COVID-19 menyebabkan gejala-gejala umum yang hampir sama seperti gejala influenza misalnya demam, sesak napas, dan batuk kering. Namun seiring meluasnya kasus dan berkembangnya penelitian, gejala COVID-19 baru banyak ditemukan. Belakangan diberitakan adanya gangguan psikotik pada pasien COVID-19 yang sama sekali tidak memiliki riwayat masalah kesehatan jiwa sebelumnya. Dokter menangani kasus pasien COVID-19 yang mengalami gejala psikotik. Psikosis atau gangguan psikotik adalah kelaianan jiwa yang disertai dengan disintergrasi kepribadian dan gangguan kontak dengan kenyataan. Gejala psikotik ini dilaporkan terjadi pada pasien COVID-19 bahkan beberapa diantaranya dialami oleh pasien yang tidak memiliki riwayat ataupun keturuanan penyakit mental. Salah satu kasusnya diceritakan oleh dr. Hisam Goueli, seorang psikiater di Rumah Sakit South Oaks Amityville. Hari itu Goueli menerima pasien seorang fisioterapi berusia 42 tahun, ia juga seorang ibu dengan 4 orang anak berusia 2-10 tahun. Pasien ini datang dengan keluhan tanda dan gejala yang tidak biasa. Sambil terisak, pasien ini mengatakan dia terus menerus melihat anak-anaknya dibunuh dengan cara keji dan ia sendiri yang membuat skenario pembunuhan itu. “Rasanya seperti dia mengami film, seperti ‘Kill Bill’,” kata Goueli seperti dikuti dari The New York Times. Pasien menggambarkan salah satu anaknya mati ditabrak truk dan 3 orang lainnya mati dipenggal. “Pasien mengatakan ‘Saya sangat mencintai anak-anak saya, dan tidak tahu apa yang membuat saya ingin memenggal mereka’,” kata Goueli menceritakan apa yang dikatakan pasiennya. Goueli mengatakan pasien ini terinfeksi COVID-19 pada musim semi lalu (sekitar Maret-Mei) dengan gejala fisik ringan. Tapi beberapa bulan kemudian dia mendengar suara pertama yang menyuruhnya bunuh diri, kemudian suara itu juga menyuruhnya untuk membunuh anak-anaknya. “Mungkin (gejala psikotik) ini terkait COVID-19, tapi mungkin juga tidak,” kata Goueli, saat itu ia belum bisa memastian. Tapi kemudian ia menemui kasus-kasus selanjutnya, dokter-dokter lain dari berbagai wilayah di dunia juga mulai melaporkan menerima kasus serupa. Yakni pasien mengalami gejala psikotik parah beberapa minggu setelah sembuh dari COVID-19. Padahal tidak memiliki riwayat sakit jiwa sebelumnya. Kasus-kasus serupa yang ditangani dokter lain Jurnal ilmiah BMJ menuliskan kasus yang terjadi pada seorang perempuan berusia 36 tahun yang bekerja sebagai perawat di panti jompo, sehat dan tidak memiliki riawayat penyakit jiwa apapun. Saat terinfeksi COVID-19, perempuan ini mengalami gejala rinorea dan hidung tersumbat tanpa disertai gejala sesak, anosmia, ataupun kehilangan pengecapan. Kira-kira 4 hari setelah timbulnya gejala tersebut, ia terlihat mengalami perubahan prilaku akut. Pasien mengatakan ia mengalami delusi penganiayaan. Ia yakin pasanganya akan menculik ketiga anaknya, ia berusaha menyelamatkan anaknya dengan mendorong mereka melewati jendela restoran drive-through. Pasien COVID-19 dengan gejala psikotik akut ini dirawat di rumah sakit dengan pemantauan dokter umum dan dokter spesialis kesehatan jiwa. Di luar laporan kasus individu, peneliti Inggris melaukan penelitian komplikasi neurologi atau psikiatri pada 153 pasien infeksi COVID-19. Hasilnya 10 pasien COVID-19 diantaranya mengalami gangguan psikotik. Studi lain mengidentifikasi adanya 10 orang pasien COVID-19 yang juga mengalami gangguan psikosis akut seperti itu di salah satu rumah sakit di Spanyol. Para ahli medis mengatakan mereka memperkirakan bahwa disfungsi psikiatri yang ekstrem seperti itu hanya akan mempengaruhi sebagian kecil pasien. Tetapi kasus-kasus psikotik tersebut dianggap sebagai contoh bagaimana COVID-19 memiliki kemampuan memengaruhi kesehatan mental dan fungsi otak. Bagaimana infeksi COVID-19 memengaruhi kesehatan jiwa dan fungsi otak COVID-19 yang awalnya dianggap sebegai penyakit yang menyerang pernapasan ternyata bisa menyebabkan banyak gejala lain termasuk efek neurologis, kognitif, dan psikologis. Gejala-gejala ini banyak terjadi pada pasien COVID-19 yang tidak mengalami gejala pernapasan, paru-paru, jantung, ataupun masalah peredaran darah serius. Pasien dr. Goueli tidak mengalami masalah pernapasan, tapi memiliki gejala neurologis yang tidak kentara seperti kesemutan, sakit kepala, atau kemampuan penciuman yang berkurang. Dua minggu hingga beberapa bulan setelah gejala COVID-19 tersebut, mereka mengalami psikotik akut yang mengkhawatirkan. Gejala psikotik pada pasien COVID-19 sama melemahkannya seperti gejala fisik dan belum jelas berapa lama gejala tersebut bertahan dan bagaimana proses pengobatannya. Beberapa pasien post-COVID-19 (pasien sembuh dari COVID-19) yang mengalami masalah psikotik membutuhkan perawatan di rumah sakit selama berminggu-minggu. Dokter-dokter juga masih mencoba berbegai pengobatan. Apa yang membuat COVID-19 menyebabkan masalah psikotik Para ahli ini percaya masalah yang terjadi pada otak dan neurologi ini kemungkinan terkait dengan respon kekebalan tubuh terhadap virus yang mengalami lonjakan. Dr. Robert Yolken, ahli neurovirologi di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore, mengatakan dalam beberapa kasus mungkin sistem kekebalan tubuh tidak proses pada sistem kekebalan tubuh mungkin tidak berhasil dimatikan meskipun fisik telah pulih dari COVID-19. Aktivasi sistem kekebalan yang persisten ini juga menjelaskan mengapa bisa terjadi brainfog (semacam pikun) dan masalah memori lainnya pada banyak pasien COVID-19.

COVID-19 yang awalnya dianggap sebegai penyakit yang menyerang pernapasan ternyata bisa menyebabkan banyak gejala lain termasuk efek neurologis, kognitif, dan psikologis. Gejala-gejala ini banyak terjadi pada pasien COVID-19 yang tidak mengalami gejala pernapasan, paru-paru, jantung, ataupun masalah peredaran darah serius.

Pasien dr. Goueli tidak mengalami masalah pernapasan, tapi memiliki gejala neurologis seperti kesemutan, sakit kepala, atau kemampuan penciuman yang berkurang.

Dua minggu hingga beberapa bulan setelah gejala COVID-19 tersebut, mereka mengalami psikotik akut yang mengkhawatirkan.

Gejala psikotik pada pasien COVID-19 sama melemahkannya seperti gejala fisik dan belum jelas berapa lama gejala tersebut bertahan dan bagaimana proses pengobatannya.

Beberapa pasien post-COVID-19 (pasien sembuh dari COVID-19) yang mengalami masalah psikotik membutuhkan perawatan di rumah sakit selama berminggu-minggu. Dokter-dokter juga masih mencoba berbagai pengobatan untuk mengatasinya.

Apa yang membuat COVID-19 menyebabkan masalah psikotik

Infeksi COVID-19 menyebabkan gejala-gejala umum yang hampir sama seperti gejala influenza misalnya demam, sesak napas, dan batuk kering. Namun seiring meluasnya kasus dan berkembangnya penelitian, gejala COVID-19 baru banyak ditemukan. Belakangan diberitakan adanya gangguan psikotik pada pasien COVID-19 yang sama sekali tidak memiliki riwayat masalah kesehatan jiwa sebelumnya. Dokter menangani kasus pasien COVID-19 yang mengalami gejala psikotik. Psikosis atau gangguan psikotik adalah kelaianan jiwa yang disertai dengan disintergrasi kepribadian dan gangguan kontak dengan kenyataan. Gejala psikotik ini dilaporkan terjadi pada pasien COVID-19 bahkan beberapa diantaranya dialami oleh pasien yang tidak memiliki riwayat ataupun keturuanan penyakit mental. Salah satu kasusnya diceritakan oleh dr. Hisam Goueli, seorang psikiater di Rumah Sakit South Oaks Amityville. Hari itu Goueli menerima pasien seorang fisioterapi berusia 42 tahun, ia juga seorang ibu dengan 4 orang anak berusia 2-10 tahun. Pasien ini datang dengan keluhan tanda dan gejala yang tidak biasa. Sambil terisak, pasien ini mengatakan dia terus menerus melihat anak-anaknya dibunuh dengan cara keji dan ia sendiri yang membuat skenario pembunuhan itu. “Rasanya seperti dia mengami film, seperti ‘Kill Bill’,” kata Goueli seperti dikuti dari The New York Times. Pasien menggambarkan salah satu anaknya mati ditabrak truk dan 3 orang lainnya mati dipenggal. “Pasien mengatakan ‘Saya sangat mencintai anak-anak saya, dan tidak tahu apa yang membuat saya ingin memenggal mereka’,” kata Goueli menceritakan apa yang dikatakan pasiennya. Goueli mengatakan pasien ini terinfeksi COVID-19 pada musim semi lalu (sekitar Maret-Mei) dengan gejala fisik ringan. Tapi beberapa bulan kemudian dia mendengar suara pertama yang menyuruhnya bunuh diri, kemudian suara itu juga menyuruhnya untuk membunuh anak-anaknya. “Mungkin (gejala psikotik) ini terkait COVID-19, tapi mungkin juga tidak,” kata Goueli, saat itu ia belum bisa memastian. Tapi kemudian ia menemui kasus-kasus selanjutnya, dokter-dokter lain dari berbagai wilayah di dunia juga mulai melaporkan menerima kasus serupa. Yakni pasien mengalami gejala psikotik parah beberapa minggu setelah sembuh dari COVID-19. Padahal tidak memiliki riwayat sakit jiwa sebelumnya. Kasus-kasus serupa yang ditangani dokter lain Jurnal ilmiah BMJ menuliskan kasus yang terjadi pada seorang perempuan berusia 36 tahun yang bekerja sebagai perawat di panti jompo, sehat dan tidak memiliki riawayat penyakit jiwa apapun. Saat terinfeksi COVID-19, perempuan ini mengalami gejala rinorea dan hidung tersumbat tanpa disertai gejala sesak, anosmia, ataupun kehilangan pengecapan. Kira-kira 4 hari setelah timbulnya gejala tersebut, ia terlihat mengalami perubahan prilaku akut. Pasien mengatakan ia mengalami delusi penganiayaan. Ia yakin pasanganya akan menculik ketiga anaknya, ia berusaha menyelamatkan anaknya dengan mendorong mereka melewati jendela restoran drive-through. Pasien COVID-19 dengan gejala psikotik akut ini dirawat di rumah sakit dengan pemantauan dokter umum dan dokter spesialis kesehatan jiwa. Di luar laporan kasus individu, peneliti Inggris melaukan penelitian komplikasi neurologi atau psikiatri pada 153 pasien infeksi COVID-19. Hasilnya 10 pasien COVID-19 diantaranya mengalami gangguan psikotik. Studi lain mengidentifikasi adanya 10 orang pasien COVID-19 yang juga mengalami gangguan psikosis akut seperti itu di salah satu rumah sakit di Spanyol. Para ahli medis mengatakan mereka memperkirakan bahwa disfungsi psikiatri yang ekstrem seperti itu hanya akan mempengaruhi sebagian kecil pasien. Tetapi kasus-kasus psikotik tersebut dianggap sebagai contoh bagaimana COVID-19 memiliki kemampuan memengaruhi kesehatan mental dan fungsi otak. Bagaimana infeksi COVID-19 memengaruhi kesehatan jiwa dan fungsi otak COVID-19 yang awalnya dianggap sebegai penyakit yang menyerang pernapasan ternyata bisa menyebabkan banyak gejala lain termasuk efek neurologis, kognitif, dan psikologis. Gejala-gejala ini banyak terjadi pada pasien COVID-19 yang tidak mengalami gejala pernapasan, paru-paru, jantung, ataupun masalah peredaran darah serius. Pasien dr. Goueli tidak mengalami masalah pernapasan, tapi memiliki gejala neurologis yang tidak kentara seperti kesemutan, sakit kepala, atau kemampuan penciuman yang berkurang. Dua minggu hingga beberapa bulan setelah gejala COVID-19 tersebut, mereka mengalami psikotik akut yang mengkhawatirkan. Gejala psikotik pada pasien COVID-19 sama melemahkannya seperti gejala fisik dan belum jelas berapa lama gejala tersebut bertahan dan bagaimana proses pengobatannya. Beberapa pasien post-COVID-19 (pasien sembuh dari COVID-19) yang mengalami masalah psikotik membutuhkan perawatan di rumah sakit selama berminggu-minggu. Dokter-dokter juga masih mencoba berbegai pengobatan. Apa yang membuat COVID-19 menyebabkan masalah psikotik Para ahli ini percaya masalah yang terjadi pada otak dan neurologi ini kemungkinan terkait dengan respon kekebalan tubuh terhadap virus yang mengalami lonjakan. Dr. Robert Yolken, ahli neurovirologi di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore, mengatakan dalam beberapa kasus mungkin sistem kekebalan tubuh tidak proses pada sistem kekebalan tubuh mungkin tidak berhasil dimatikan meskipun fisik telah pulih dari COVID-19. Aktivasi sistem kekebalan yang persisten ini juga menjelaskan mengapa bisa terjadi brainfog (semacam pikun) dan masalah memori lainnya pada banyak pasien COVID-19.

Para ahli percaya bahwa masalah yang terjadi pada otak dan sistem saraf ini kemungkinan terkait dengan respons kekebalan tubuh yang mengalami lonjakan.

Dr. Robert Yolken, ahli neurovirologi Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore, mengatakan bahwa orang-orang mungkin pulih secara fisik dari COVID-19. Namun pada beberapa kasus, sistem imun mereka tak dapat berhenti bekerja dan tetap aktif demi “membersihkan sejumlah kecil virus yang tertunda”.

Aktifnya sistem imun yang terus menerus ini menjadi salah satu penjelasan mengapa timbul gejala brainfog dan masalah memori pada pasien yang telah sembuh dari COVID-19. Emily Severance, ahli skizofernia di John Hopkins, berkata bahwa gangguan kognitif dan psikiatri setelah sembuh dari COVID-19 mungkin merupakan akibat dari hal serupa (respons imun yang tak berhenti) yang terjadi di otak.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Smith CM, Komisar JR, Mourad A, et alCOVID-19-associated brief psychotic disorderBMJ Case Reports CP 2020;13:e236940.
  • Varatharaj, A., Thomas, N., Ellul, M. A., Davies, N., Pollak, T. A., Tenorio, E. L., Sultan, M., Easton, A., Breen, G., Zandi, M., Coles, J. P., Manji, H., Al-Shahi Salman, R., Menon, D. K., Nicholson, T. R., Benjamin, L. A., Carson, A., Smith, C., Turner, M. R., Solomon, T., … CoroNerve Study Group (2020). Neurological and neuropsychiatric complications of COVID-19 in 153 patients: a UK-wide surveillance study. The lancet. Psychiatry, 7(10), 875–882. https://doi.org/10.1016/S2215-0366(20)30287-X
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui 15/01/2021
x