Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Dalam sebuah studi berskala kecil di Roma Italia, peneliti mengamati pasien infeksi virus corona yang telah dinyatakan negatif melalui dua kali tes molekuler RT-PCR (swab). Terlepas dari seberapa parah infeksi yang dialami, banyak pasien COVID-19 mengalami dampak jangka panjang setelah dinyatakan negatif COVID-19.

Dari 143 pasien yang diamati, hanya 18 orang (12,6%) yang benar-benar bebas dari gejala terkait COVID-19. Namun, 32% memiliki 1 atau 2  gejala dan 55% memiliki 3 atau lebih gejala sakit yang masih terus-menerus dirasakan meski telah sembuh dari COVID-19.

Biasanya, gejala yang masih dirasakan pasien meski dinyatakan telah sembuh di antaranya merasa mudah lelah, sesak napas, nyeri sendi, nyeri dada, batuk, dan anosmia (kehilangan indra penciuman). 

Apakah pasien COVID-19 yang telah negatif akan mengalami dampak sakit jangka panjang?

Dampak jangka panjang yang dirasakan pasien COVID-19

dampak jangka panjang covid-19

Pasien COVID-19 dengan gejala ringan berharap bisa pulih dalam waktu beberapa minggu, tapi  bukti menunjukkan harapan ini sulit terwujud. Sebab banyak laporan kasus menunjukkan bahwa infeksi COVID-19 meninggalkan gejala yang menetap dalam waktu lama. 

Ini menunjukkan bahwa pasien COVID-19 bergejala ringan hingga sedang berpotensi masih mengalami efek virus setelah pemulihan. 

Banyak dokter mengatakan bahwa pasien COVID-19 dengan gejala sakit berkepanjangan setelah sembuh dari COVID-19 ini jumlahnya jauh lebih tinggi daripada pasien yang mengalami penyakit akibat virus lain.

Tim Spector, ahli epidemiologi genetik King’s College London, mengatakan sekitar 12% pasien melaporkan gejala sakit usai pulih dari COVID-19 bertahan hingga 30 hari. Data yang ia kumpulkan dalam aplikasi COVID Tracker ini juga mencatat satu dari 200 orang mengalami gangguan kesehatan hingga 90 hari.

Gejala sakit pada bekas pasien COVID-19 ini sudah dibahas dalam sejumlah jurnal ilmiah, beberapa kasus bahkan sudah dilaporkan di banyak media massa.

Di Inggris, salah satu contoh kasus pasien COVID-19 yang merasakan dampak jangka panjang setelah dinyatakan negatif COVID-19 dialami oleh Charlie Russell. Setelah 6 bulan dinyatakan sembuh dari infeksi COVID-19, ia masih merasakan berat dan sesak di dadanya. 

“Yang saya dengar kelompok usia muda kemungkinan besar tidak memiliki gejala atau hanya sakit ringan selama beberapa minggu. Jika tahu saya akan sesakit ini, saya akan lebih serius (melakukan pencegahan) sejak maret,” kata Russell, dikutip dari The Guardian. 

Dampak COVID-19 yang membuat korbannya mengalami kelelahan jangka panjang juga dilaporkan Athena Akrami yang terinfeksi pada 7 Maret lalu. Meski telah dinyatakan sembuh, hingga kini ia tidak bisa melakukan aktivitas berat. Padahal sebelum terinfeksi COVID-19, tubuh Akrami terbilang bugar dan sanggup olahraga di pusat kebugaran (gym) seminggu tiga kali. 

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,298,608

Confirmed

1,104,990

Recovered

35,014

Death
Distribution Map

COVID-19 bukan sekadar infeksi paru

gejala covid-19 dan dampak jangka panjang

Gangguan kesehatan sebagai dampak jangka panjang pasca-COVID-19 sangat beragam. Di antaranya adalah kelelahan, jantung berdebar-debar, sesak napas, nyeri persendian, brain fog atau pikiran berkabut (masalah ingatan dan konsentrasi), ruam, sakit dada, kehilangan penciuman, masalah penglihatan, bahkan ada yang melaporkan kerontokan rambut.

Peneliti belum menemukan penyebab sebagian pasien COVID-19 memiliki gejala yang lebih persisten dari yang lainnya. Beberapa gangguan kesehatan berkepanjangan pasca-COVID-19 ini juga belum dapat dijelaskan secara pasti.

Para ahli menduga, kondisi ini mungkin terkait dengan disfungsi pada sistem saraf pusat, karena memang sudah ada beberapa bukti bahwa COVID-19 bisa langsung masuk ke otak dan menyerang saraf.

Kasus-kasus Pasien COVID-19 Sembuh yang Terinfeksi Dua Kali, Kok Bisa?

Terlepas dari kebaruan sifat virus SARS-CoV-2, dampak jangka panjang semacam ini juga terjadi pada beberapa infeksi virus lain. Salah satunya pada infeksi virus Zika yang menyerang sistem saraf dan menyebabkan kesemutan, kelemahan, hingga kelumpuhan. 

Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini memang disebut sebagai infeksi pernapasan yang menyerang paru. Namun ternyata efeknya lebih dari sekadar infeksi paru-paru, gejala infeksi virus ini terjadi di berbagai organ tubuh.

Peneliti terus mengembangkan studi untuk memahami infeksi COVID-19 dan fakta-fakta baru yang terus memberi kejutan. Oleh karena itu, petugas medis berpesan agar masyarakat tetap berhati-hati, sebab siapapun itu bisa memiliki risiko tidak terduga.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

China Gunakan Tes Swab Anal untuk COVID-19, Apa Bedanya dengan Swab Nasofaring?

Swab anal untuk COVID-19 dilakukan dengan memasukan kapas berukuran 3-5 cm ke dalam anus dan memutarnya untuk mengambil sampel feses.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 5 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
digital fatigue

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit