Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Dalam sebuah studi berskala kecil di Roma Italia, peneliti mengamati pasien infeksi virus corona yang telah dinyatakan negatif melalui dua kali tes molekuler RT-PCR (swab). Terlepas dari seberapa parah infeksi yang dialami, banyak pasien COVID-19 mengalami dampak jangka panjang setelah dinyatakan negatif COVID-19.

Dari 143 pasien yang diamati, hanya 18 orang (12,6%) yang benar-benar bebas dari gejala terkait COVID-19. Namun, 32% memiliki 1 atau 2 gejala dan 55% memiliki 3 atau lebih gejala sakit yang masih terus-menerus dirasakan meski telah sembuh dari COVID-19.

Biasanya, gejala yang masih dirasakan pasien meski dinyatakan telah sembuh di antaranya merasa mudah lelah, sesak napas, nyeri sendi, nyeri dada, batuk, dan anosmia (kehilangan indra penciuman).

Apakah pasien COVID-19 yang telah negatif akan mengalami dampak sakit jangka panjang?

Dampak jangka panjang yang dirasakan pasien COVID-19

dampak jangka panjang covid-19

Pasien COVID-19 dengan gejala ringan berharap bisa pulih dalam waktu beberapa minggu, tapi bukti menunjukkan harapan ini sulit terwujud. Sebab banyak laporan kasus menunjukkan bahwa infeksi COVID-19 meninggalkan gejala yang menetap dalam waktu lama.

Ini menunjukkan bahwa pasien COVID-19 bergejala ringan hingga sedang berpotensi masih mengalami efek virus setelah pemulihan.

Banyak dokter mengatakan bahwa pasien COVID-19 dengan gejala sakit berkepanjangan setelah sembuh dari COVID-19 ini jumlahnya jauh lebih tinggi daripada pasien yang mengalami penyakit akibat virus lain.

Tim Spector, ahli epidemiologi genetik King’s College London, mengatakan sekitar 12% pasien melaporkan gejala sakit usai pulih dari COVID-19 bertahan hingga 30 hari. Data yang ia kumpulkan dalam aplikasi COVID Tracker ini juga mencatat satu dari 200 orang mengalami gangguan kesehatan hingga 90 hari.

Gejala sakit pada bekas pasien COVID-19 ini sudah dibahas dalam sejumlah jurnal ilmiah, beberapa kasus bahkan sudah dilaporkan di banyak media massa.

Di Inggris, salah satu contoh kasus pasien COVID-19 yang merasakan dampak jangka panjang setelah dinyatakan negatif COVID-19 dialami oleh Charlie Russell. Setelah 6 bulan dinyatakan sembuh dari infeksi COVID-19, ia masih merasakan berat dan sesak di dadanya.

“Yang saya dengar kelompok usia muda kemungkinan besar tidak memiliki gejala atau hanya sakit ringan selama beberapa minggu. Jika tahu saya akan sesakit ini, saya akan lebih serius (melakukan pencegahan) sejak maret,” kata Russell, dikutip dari The Guardian.

Dampak COVID-19 yang membuat korbannya mengalami kelelahan jangka panjang juga dilaporkan Athena Akrami yang terinfeksi pada 7 Maret lalu. Meski telah dinyatakan sembuh, hingga kini ia tidak bisa melakukan aktivitas berat. Padahal sebelum terinfeksi COVID-19, tubuh Akrami terbilang bugar dan sanggup olahraga di pusat kebugaran (gym) seminggu tiga kali.

COVID-19 bukan sekadar infeksi paru

gejala covid-19 dan dampak jangka panjang

Gangguan kesehatan sebagai dampak jangka panjang pasca-COVID-19 sangat beragam. Di antaranya adalah kelelahan, jantung berdebar-debar, sesak napas, nyeri persendian, brain fog atau pikiran berkabut (masalah ingatan dan konsentrasi), ruam, sakit dada, kehilangan penciuman, masalah penglihatan, bahkan ada yang melaporkan kerontokan rambut.

Peneliti belum menemukan penyebab sebagian pasien COVID-19 memiliki gejala yang lebih persisten dari yang lainnya. Beberapa gangguan kesehatan berkepanjangan pasca-COVID-19 ini juga belum dapat dijelaskan secara pasti.

Para ahli menduga, kondisi ini mungkin terkait dengan disfungsi pada sistem saraf pusat, karena memang sudah ada beberapa bukti bahwa COVID-19 bisa langsung masuk ke otak dan menyerang saraf.

Kasus-kasus Pasien COVID-19 Sembuh yang Terinfeksi Dua Kali, Kok Bisa?

Terlepas dari kebaruan sifat virus SARS-CoV-2, dampak jangka panjang semacam ini juga terjadi pada beberapa infeksi virus lain. Salah satunya pada infeksi virus Zika yang menyerang sistem saraf dan menyebabkan kesemutan, kelemahan, hingga kelumpuhan.

Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini memang disebut sebagai infeksi pernapasan yang menyerang paru. Namun ternyata efeknya lebih dari sekadar infeksi paru-paru, gejala infeksi virus ini terjadi di berbagai organ tubuh.

Peneliti terus mengembangkan studi untuk memahami infeksi COVID-19 dan fakta-fakta baru yang terus memberi kejutan. Oleh karena itu, petugas medis berpesan agar masyarakat tetap berhati-hati, sebab siapapun itu bisa memiliki risiko tidak terduga.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Carfì A, Bernabei R, Landi F, for the Gemelli Against COVID-19 Post-Acute Care Study Group. Persistent Symptoms in Patients After Acute COVID-19. JAMA. 2020;324(6):603–605. doi:10.1001/jama.2020.12603
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 18/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x