COVID-19 Diprediksi Menjadi Penyakit Endemik, Apa Itu?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah virus SARS-CoV-2 pertama kali disebut sebagai epidemi, penyakit yang menular dengan cepat di suatu komunitas atau wilayah tertentu. Epidemi COVID-19 yang menyebar secara global ke seluruh dunia membuatnya dinyatakan sebagai pandemi. Lalu belakangan para ahli mulai memperkirakan bahwa wabah COVID-19 ini tidak akan benar-benar hilang dan akan menjadi penyakit endemik. 

Penyakit endemik merupakan penyakit yang selalu ada dalam kelompok masyarakat atau populasi tertentu. Apa yang harus dilakukan jika COVID-19 menjadi penyakit endemik?

Apa artinya jika COVID-19 menjadi penyakit endemik?

covid-19 bisa menjadi penyakit endemik

Hingga di penghujung tahun 2020, belum ada tanda-tanda pandemi COVID-19 akan berakhir. Di Indonesia sendiri jumlah kasus masih terus meningkat setiap harinya. Kondisi serupa terjadi secara global meski begitu sejumlah negara cukup berhasil untuk mengendalikan laju penularan virus SARS-CoV-2 ini.

Beberapa ahli mengatakan penyakit akibat infeksi virus SARS-CoV-2 ini memiliki kemungkinan besar menjadi penyakit endemik.

Kepala penasihat ilmiah Inggris, Patrick Vallance, mengatakan bahwa harapan COVID-19 dapat benar-benar dihilangkan hingga tuntas tak masuk dalam bayangan skenario masa depan yang mungkin terjadi. Argumen ini muncul berdasarkan fakta bahwa hingga saat ini belum diketahui berapa lama kekebalan atau antibodi tubuh terhadap virus SARS-CoV-2 bisa bertahan. Kekebalan yang dimaksud baik yang dihasilkan oleh vaksin maupun yang muncul setelah sembuh dari COVID-19. Sejauh ini, hasil sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kekebalan tubuh terhadap COVID-19 dari pasien yang sembuh hanya bertahan dalam hitungan bulan saja. 

“Kami tidak dapat memastikan (bagaimana pandemi berakhir). Tapi saya pikir tidak mungkin akan berakhir hanya dengan mengandalkan vaksin, apakah hal itu bisa benar-benar menghentikan laju infeksi? Kemungkinan penyakit ini akan tetap menyebar dan menjadi endemik, itulah penilaian terbaik saya,” ujar Vallance, kepada Komite Strategi Keamanan Nasional Inggris, di London.

Kekebalan dari vaksin 

Vaksin COVID-19 flu bukan satu-satunya solusi

Berbagai lembaga akademik dan perusahaan bioteknologi di seluruh dunia sedang membuat vaksin COVID-19 secepat mungkin. Saat ini ada setidaknya kurang dari 10 calon vaksin yang tengah memasuki tahap akhir uji klinis. 

Meski telah memasuki tahap akhir uji klinis, belum diketahui berapa lama kekebalan tubuh yang terbentuk setelah divaksin bisa bertahan. Para ahli mengatakan bahwa kemungkinan terbaik vaksin-vaksin yang sedang menjalani uji klinis ini hanya mengurangi risiko infeksi dan tingkat keparahan penyakit, bukan vaksin jenis yang mampu membuat seseorang kebal dari COVID-19. 

Eric Brown, Kepala Manajemen Teknis Penanggulangan COVID-19 WHO Thailand, mengatakan dari vaksin-vaksin yang sedang diuji tidak ada yang memberikan jaminan kebal terhadap penularan apalagi kekebalan jangka panjang.

“Ada banyak vaksin yang saat ini sedang dikembangkan, kira-kira sekitar dua minggu yang lalu sudah ada 30 atau lebih vaksin yang sedang dikembangkan dalam uji klinis (tahap 1, 2, atau 3). Tapi kami tidak memiliki jaminan bahwa vaksin ini akan berhasil,” kata Eric dalam wawancaranya dengan Hello Sehat Thailand, Senin (2/11).

Skenario paling mungkin adalah COVID-19 menjadi penyakit endemik, penyakit yang selalu ada meski tingkat keparahannya menurun dan penularannya terkendali. Program vaksinasi diprediksi kecil kemungkinan dapat memberantas tuntas wabah ini. Bahkan untuk vaksin yang bisa memberikan kekebalan jangka panjang, memberantas wabah sulit dilakukan. Dalam catatan sejarah, cacar adalah satu-satunya penyakit manusia yang benar-benar bisa diberantas berkat ditemukannya vaksin yang sangat efektif. 

Sebagai informasi, cacar pernah menjadi penyakit yang paling ditakuti di dunia. Sangat menular dan mematikan, sekitar tiga dari 10 orang penderita cacar meninggal dunia. Vaksin cacar yang sangat efektif ini juga didukung dengan jenis virus yang tidak bermutasi atau tanpa varian (strain). Sementara hal tersebut tak berlaku untuk SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 yang dilaporkan setidaknya memiliki 10 jenis strain berbeda. 

Pendukung lain pemberantasan cacar melalui program vaksinasi berhasil adalah gejala orang-orang yang terinfeksi terlihat dengan mudah, tidak ada orang yang terinfeksi tanpa gejala. Kondisi ini membuat pasien cacar mudah ditemukan dan langsung diisolasi.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,314,634

Confirmed

1,121,411

Recovered

35,518

Death
Distribution Map

Kekebalan pasien sembuh COVID-19 tidak bertahan lama

covid-19 kemungkinan menjadi penyakit endemik

Kondisi lain yang membuat COVID-19 diprediksi menjadi penyakit endemik adalah karena pasien sembuh bisa kembali tertular. Selain vaksin yang tidak menjanjikan kekebalan, antibodi orang yang sembuh dari COVID-19 juga tidak bertahan lama. 

Saat seseorang terinfeksi virus, sistem kekebalan tubuhnya akan merespons dan membentuk antibodi yang berfungsi melawan infeksi. Saat berhasil sembuh, antibodi ini akan bertahan untuk mencegah kemungkinan tertular lagi. Ada beberapa penyakit yang memberikan kekebalan dalam jangka waktu yang lama bahkan kekebalan permanen setelah sembuh dari infeksi. Orang-orang yang sembuh yang kemudian diharapkan menjadi pembentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Namun pada pasien COVID-19 sembuh, antibodi ini dilaporkan tidak bertahan lama. Para ahli menyebutnya hanya mampu bertahan satu tahun, namun ada beberapa laporan studi yang mengatakan antibodi COVID-19 bertahan 3 bulan. Setelah 3 bulan, pasien sembuh bisa terinfeksi ulang dan bisa menularkan ke orang lain. 

Bahkan penyakit yang memberikan kekebalan permanen pun tetap tidak memberi jaminan hilangnya orang rentan terinfeksi. Contohnya adalah anak-anak yang antibodi turunan dari ibunya telah habis merupakan faktor penyebab campak menjadi penyakit endemik di beberapa wilayah di dunia dan banyak menyerang anak-anak.

Antibodi yang tersisa seharusnya memiliki memori akan virus tersebut dan dapat mengantisipasinya. Namun, virus juga bisa menghindari memori kekebalan tersebut dengan bermutasi. Kondisi ini menyebabkan orang yang memiliki antibodi bisa tetap terinfeksi oleh virus dengan strain atau varian lain hasil dari mutasi.

Kondisi inilah yang membuat COVID-19 diprediksi akan menjadi penyakit endemik seperti halnya influenza. 

Oleh karena itu Eric mengatakan bahwa harus ada perubahan fundamental dalam berbagai segi kehidupan yang selama ini kita jalani. “Kita harus mengurangi risiko kondisi pandemi serupa ini terjadi di masa depan. Oleh karena itu, bukan hanya kebiasaan sehari-hari bagi individu, tapi juga bagaimana bisnis dan layanan kesehatan beroperasi harus berubah. Bahkan bagaimana negara mengembangkan kebijakan termasuk persoalan perubahan iklim untuk mengurangi risiko wabah.”

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit