Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

COVID-19 Diprediksi Menjadi Penyakit Endemik, Apa Itu?

COVID-19 Diprediksi Menjadi Penyakit Endemik, Apa Itu?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah virus SARS-CoV-2 pertama kali disebut sebagai epidemi, penyakit yang menular dengan cepat di suatu komunitas atau wilayah tertentu. Epidemi COVID-19 yang menyebar secara global ke seluruh dunia membuatnya dinyatakan sebagai pandemi. Lalu belakangan para ahli mulai memperkirakan bahwa wabah COVID-19 ini tidak akan benar-benar hilang dan akan menjadi penyakit endemik.

Penyakit endemik merupakan penyakit yang selalu ada dalam kelompok masyarakat atau populasi tertentu. Apa yang harus dilakukan jika COVID-19 menjadi penyakit endemik?

Apa artinya jika COVID-19 menjadi penyakit endemik?

covid-19 bisa menjadi penyakit endemik

Hingga di penghujung tahun 2020, belum ada tanda-tanda pandemi COVID-19 akan berakhir. Di Indonesia sendiri jumlah kasus masih terus meningkat setiap harinya. Kondisi serupa terjadi secara global meski begitu sejumlah negara cukup berhasil untuk mengendalikan laju penularan virus SARS-CoV-2 ini.

Beberapa ahli mengatakan penyakit akibat infeksi virus SARS-CoV-2 ini memiliki kemungkinan besar menjadi penyakit endemik.

Kepala penasihat ilmiah Inggris, Patrick Vallance, mengatakan bahwa harapan COVID-19 dapat benar-benar dihilangkan hingga tuntas tak masuk dalam bayangan skenario masa depan yang mungkin terjadi. Argumen ini muncul berdasarkan fakta bahwa hingga saat ini belum diketahui berapa lama kekebalan atau antibodi tubuh terhadap virus SARS-CoV-2 bisa bertahan. Kekebalan yang dimaksud baik yang dihasilkan oleh vaksin maupun yang muncul setelah sembuh dari COVID-19. Sejauh ini, hasil sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kekebalan tubuh terhadap COVID-19 dari pasien yang sembuh hanya bertahan dalam hitungan bulan saja.

“Kami tidak dapat memastikan (bagaimana pandemi berakhir). Tapi saya pikir tidak mungkin akan berakhir hanya dengan mengandalkan vaksin, apakah hal itu bisa benar-benar menghentikan laju infeksi? Kemungkinan penyakit ini akan tetap menyebar dan menjadi endemik, itulah penilaian terbaik saya,” ujar Vallance, kepada Komite Strategi Keamanan Nasional Inggris, di London.

Kekebalan dari vaksin

Vaksin COVID-19 flu bukan satu-satunya solusi

Berbagai lembaga akademik dan perusahaan bioteknologi di seluruh dunia sedang membuat vaksin COVID-19 secepat mungkin. Saat ini ada setidaknya kurang dari 10 calon vaksin yang tengah memasuki tahap akhir uji klinis.

Meski telah memasuki tahap akhir uji klinis, belum diketahui berapa lama kekebalan tubuh yang terbentuk setelah divaksin bisa bertahan. Para ahli mengatakan bahwa kemungkinan terbaik vaksin-vaksin yang sedang menjalani uji klinis ini hanya mengurangi risiko infeksi dan tingkat keparahan penyakit, bukan vaksin jenis yang mampu membuat seseorang kebal dari COVID-19.

Eric Brown, Kepala Manajemen Teknis Penanggulangan COVID-19 WHO Thailand, mengatakan dari vaksin-vaksin yang sedang diuji tidak ada yang memberikan jaminan kebal terhadap penularan apalagi kekebalan jangka panjang.

“Ada banyak vaksin yang saat ini sedang dikembangkan, kira-kira sekitar dua minggu yang lalu sudah ada 30 atau lebih vaksin yang sedang dikembangkan dalam uji klinis (tahap 1, 2, atau 3). Tapi kami tidak memiliki jaminan bahwa vaksin ini akan berhasil,” kata Eric dalam wawancaranya dengan Hello Sehat Thailand, Senin (2/11).

Skenario paling mungkin adalah COVID-19 menjadi penyakit endemik, penyakit yang selalu ada meski tingkat keparahannya menurun dan penularannya terkendali. Program vaksinasi diprediksi kecil kemungkinan dapat memberantas tuntas wabah ini. Bahkan untuk vaksin yang bisa memberikan kekebalan jangka panjang, memberantas wabah sulit dilakukan. Dalam catatan sejarah, cacar adalah satu-satunya penyakit manusia yang benar-benar bisa diberantas berkat ditemukannya vaksin yang sangat efektif.

Sebagai informasi, cacar pernah menjadi penyakit yang paling ditakuti di dunia. Sangat menular dan mematikan, sekitar tiga dari 10 orang penderita cacar meninggal dunia. Vaksin cacar yang sangat efektif ini juga didukung dengan jenis virus yang tidak bermutasi atau tanpa varian (strain). Sementara hal tersebut tak berlaku untuk SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 yang dilaporkan setidaknya memiliki 10 jenis strain berbeda.

Pendukung lain pemberantasan cacar melalui program vaksinasi berhasil adalah gejala orang-orang yang terinfeksi terlihat dengan mudah, tidak ada orang yang terinfeksi tanpa gejala. Kondisi ini membuat pasien cacar mudah ditemukan dan langsung diisolasi.

Kekebalan pasien sembuh COVID-19 tidak bertahan lama

covid-19 kemungkinan menjadi penyakit endemik

Kondisi lain yang membuat COVID-19 diprediksi menjadi penyakit endemik adalah karena pasien sembuh bisa kembali tertular. Selain vaksin yang tidak menjanjikan kekebalan, antibodi orang yang sembuh dari COVID-19 juga tidak bertahan lama.

Saat seseorang terinfeksi virus, sistem kekebalan tubuhnya akan merespons dan membentuk antibodi yang berfungsi melawan infeksi. Saat berhasil sembuh, antibodi ini akan bertahan untuk mencegah kemungkinan tertular lagi. Ada beberapa penyakit yang memberikan kekebalan dalam jangka waktu yang lama bahkan kekebalan permanen setelah sembuh dari infeksi. Orang-orang yang sembuh yang kemudian diharapkan menjadi pembentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Namun pada pasien COVID-19 sembuh, antibodi ini dilaporkan tidak bertahan lama. Para ahli menyebutnya hanya mampu bertahan satu tahun, namun ada beberapa laporan studi yang mengatakan antibodi COVID-19 bertahan 3 bulan. Setelah 3 bulan, pasien sembuh bisa terinfeksi ulang dan bisa menularkan ke orang lain.

Bahkan penyakit yang memberikan kekebalan permanen pun tetap tidak memberi jaminan hilangnya orang rentan terinfeksi. Contohnya adalah anak-anak yang antibodi turunan dari ibunya telah habis merupakan faktor penyebab campak menjadi penyakit endemik di beberapa wilayah di dunia dan banyak menyerang anak-anak.

Antibodi yang tersisa seharusnya memiliki memori akan virus tersebut dan dapat mengantisipasinya. Namun, virus juga bisa menghindari memori kekebalan tersebut dengan bermutasi. Kondisi ini menyebabkan orang yang memiliki antibodi bisa tetap terinfeksi oleh virus dengan strain atau varian lain hasil dari mutasi.

Kondisi inilah yang membuat COVID-19 diprediksi akan menjadi penyakit endemik seperti halnya influenza.

Oleh karena itu Eric mengatakan bahwa harus ada perubahan fundamental dalam berbagai segi kehidupan yang selama ini kita jalani. “Kita harus mengurangi risiko kondisi pandemi serupa ini terjadi di masa depan. Oleh karena itu, bukan hanya kebiasaan sehari-hari bagi individu, tapi juga bagaimana bisnis dan layanan kesehatan beroperasi harus berubah. Bahkan bagaimana negara mengembangkan kebijakan termasuk persoalan perubahan iklim untuk mengurangi risiko wabah.”

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Columbia University’s Mailman School of Public Health. (2020, October 15). Will the COVID-19 virus become endemic?. ScienceDaily. Retrieved November 4, 2020 from www.sciencedaily.com/releases/2020/10/201015101820.htm
  •  Interview Dr Eric BROWN, COVID-19 technical management manager responds WHO Thailand. November 2020.
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 31/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x