Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Risiko Penularan COVID-19 di Bioskop

Risiko Penularan COVID-19 di Bioskop

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Setelah batal membuka bioskop pada September lalu, rencana membuka bioskop kembali berembus. Demi mencegah penularan COVID-19 di bioskop, pemerintah menegaskan pembukaan ruang-ruang sinema itu akan mengikuti protokol kesehatan yang ketat.

Tapi, sejauh mana risiko penularan COVID-19 di bioskop? Apakah protokol kesehatan cukup untuk menghindari terjadinya penularan? Simak ulasan berikut.

Rencana pembukaan di bioskop dan risiko penularan COVID-19

covid-19 di bioskop

Rencana pembukaan bioskop di Jakarta meski dalam situasi pandemi seperti sekarang dilakukan dengan pertimbangan roda ekonomi. Meski begitu, pemerintah mengklaim rencana pembukaan bioskop ini juga telah mempertimbangkan aspek kesehatan pencegahan penularan COVID-19.

Dalam pembukaan aktivitas ekonomi itu melalui proses yang cukup panjang. Pertama itu prakondisi, persiapan fasilitas itu sendiri, dalam fasilitas pendukung, dan kesiapan masyarakat itu sendiri,” kata juru bicara pemerintah untuk COVID-19, Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers yang disiarkan langsung di media sosial BNPB.

Berikut beberapa poin pencegahan penularan yang disebutkan Wiku adalah:

  1. Antrean masuk dan keluar gedung bioskop dijaga dengan ketat dengan menjaga jarak paling tidak 1,5 meter.
  2. Penyelenggara harus melakukan pemantauan semua protokol kesehatan dijalankan dengan baik.
  3. Pengunjung bioskop disarankan berusia di atas 12 tahun dan di bawah 60 tahun, tidak memiliki penyakit penyerta dan dalam kondisi sehat (tidak batuk, demam, sakit tenggorokan, atau sesak napas).
  4. Selama menonton tidak boleh makan minum dan selalu memakai masker.
  5. Masker yang dikenakan disarankan mempunyai kemampuan penyaringan yang setara atau lebih baik dari masker bedah.
  6. Pembatasan waktu di dalam bioskop tidak lebih dari dua jam.
  7. Memberi jarak antar kursi duduk penonton, tidak ada kontak dengan pengunjung lain atau dengan petugas bioskop.
  8. Semua pemesanan tiket harus dilakukan secara online.

Walaupun sederet aturan dibuat, beberapa ahli kesehatan menilai pembukaan bioskop di Jakarta seharusnya belum bisa dilakukan dalam waktu dekat karena angka penularan aktif masih tinggi.

Selain itu Pemerintah DKI Jakarta mensyaratkan kapasitas terisi hanya 25% dengan jarak tempat duduk minimal 1,5 meter. Selain itu, pengunjung juga dilarang lalu lalang dan berpindah tempat duduk. Sementara petugas bioskop wajib mengenakan masker, face shield, dan sarung tangan.

Aturan tersebut rencananya diberlakukan juga untuk acara-acara seperti seminar, pernikahan, workshop, ataupun pertunjukan teater. Pemerintah DKI Jakarta memilih kembali melonggarkan PSBB setelah mengklaim adanya pelambatan kenaikan jumlah kasus.

Bagaimana risiko penularan COVID-19 di bioskop?

penularan covid-19 di bioskop

Dekan Fakultas Kedokteran UI, Ari Fahrial Syam, meminta pemerintah menunda rencana pembukaan bioskop di Jakarta sampai batas waktu yang belum bisa diperkirakan.

Selain karena masih adanya active case finding, ada juga ada faktor masyarakat yang masih abai dalam menerapkan protokol kesehatan,” kata Profesor Ari dalam keterangan tertulis, Selasa (21/7).

Saran ini dikeluarkan FKUI setelah para pakar lintas bidang ilmu di fakultas mereka melakukan diskusi dan pemantauan terkait risiko penularan COVID-19 di bioskop.

COVID-19 diketahui dapat menular melalui percikan liur (droplet) yang keluar saat seseorang bicara, batuk, atau bersin. COVID-19 juga bisa menular melalui sentuhan dengan permukaan benda yang terkontaminasi virus SARS-CoV-2.

Belakangan diketahui, COVID-19 bisa bertahan di udara (airborne) dalam bentuk aerosol dan dapat menular jika terhirup. Menurut FKUI, penyebaran COVID-19 melalui airborne ini menjadi tambahan risiko saat bioskop dibuka.

Jalur penularan airborne ini awalnya diketahui bisa terjadi saat petugas medis melakukan prosedur intubasi (memasang alat bantu napas) pada pasien COVID-19.

Droplet Pasien COVID-19 Bertahan di Udara, WHO Imbau Petugas Medis

Selain itu, WHO mengumumkan droplet yang terinfeksi COVID-19 juga bisa terbentuk menjadi aerosol saat seseorang bernapas atau berbicara di dalam suatu ruang tertutup yang ventilasinya buruk.

Virus penyebab COVID-19 dalam bentuk aerosol ini dapat bertahan di udara dalam waktu 3-16 jam terutama dalam kondisi di dalam ruangan tempat banyak orang berkumpul.

Oleh karena itu potensi penularan COVID-19 jalur airborne ini juga bisa terjadi masalah baru jika bioskop dibuka.

Dalam hal ini pemerintah menyarankan pihak manajemen bioskop untuk melakukan screening kesehatan pada pengunjung. Namun yang menjadi masalah lainnya adalah seseorang bisa saja terinfeksi COVID-19 tanpa menunjukkan gejala sakit atau orang tanpa gejala (OTG).

“Ruangan bioskop pada umumnya adalah ruangan tertutup tanpa ventilasi dengan pendingin udara yang bersirkulasi di dalam ruangan. Apabila ada satu orang pengunjung saja yang merupakan OTG maka akan berpotensi menjadi sumber penyebaran virus kepada pengunjung lainnya. Durasi film yang minimal 1,5 jam akan meningkatkan waktu paparan dan meningkatkan jumlah partikel aerosol yang terhirup,” jelas profesor Ari.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 18/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x