Apa Beda Anosmia Karena COVID-19 dan Flu?

    Apa Beda Anosmia Karena COVID-19 dan Flu?

    Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit COVID-19 sangatlah beragam. Keparahan gejalanya mulai dari ringan hingga berat. Namun biasanya, seseorang yang terkena COVID-19 akan mengalami gejala serupa flu seperti anosmia. Lantas, bagaimana cara membedakan anosmia yang disebabkan oleh COVID-19 dengan anosmia karena flu?

    Sekilas mengenai anosmia

    Anosmia adalah gangguan yang membuat Anda kehilangan fungsi indera penciuman. Ketika Anda mengalami anosmia, Anda tidak bisa mencium bau apapun.

    Semasa pandemi COVID-19, anosmia juga kerap diartikan sebagai gejala di mana Anda kehilangan indera pengecap. Padahal, kondisi ini memiliki istilah yang berbeda, yakni ageusia.

    Meski demikian, anosmia sangat erat kaitannya dengan ageusia. Anosmia juga dapat memengaruhi kemampuan Anda dalam merasakan makanan.

    Orang-orang yang terkena COVID-19 bisa mengalami anosmia selama berminggu-minggu lamanya. Seringnya, penciuman akan kembali dalam kurun waktu sekitar empat minggu. Akan tetapi, hal ini bergantung pada kondisi pasien masing-masing.

    Beda anosmia karena COVID-19 dengan anosmia karena flu

    Banyak orang yang kesulitan membedakan gejala COVID-19 dengan flu biasa. Memang, kedua penyakit ini dapat menimbulkan gejala yang sama, termasuk kehilangan penciuman.

    Kendati demikian, tentu terdapat perbedaan di antara anosmia yang disebabkan oleh COVID-19 dengan anosmia yang disebabkan oleh flu. Perbedaan ini terletak pada waktu dan mekanisme kemunculannya.

    Pada penyakit pilek dan flu, sistem kekebalan tubuh melawan infeksi dengan berbagai cara, misalnya dengan mendorong produksi lendir yang lebih banyak dan menimbulkan peradangan.

    Lendir dan peradangan akan menyumbat sinus dan memblokir reseptor bau pada jaringan hidung. Karena inilah Anda tidak bisa mendeteksi bau saat sedang flu.

    Beda dengan anosmia flu dan pilek, anosmia karena COVID-19 tidak disebabkan oleh hidung tersumbat. Anosmia pada pasien COVID-19 terjadi sebagai dampak dari pengaruh virus terhadap sistem saraf.

    Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Universitas Harvard, virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 dapat menyerang sel-sel tertentu yang bertugas untuk membantu neuron sensorik penciuman.

    Normalnya, sel tersebut bekerja dengan mendeteksi senyawa kimia yang membentuk aroma. Kemudian, sel akan mengirim informasi ini ke otak. Nantinya, otak akan menerjemahkannya sebagai aroma.

    Nah, virus COVID-19 yang merusak sel-sel ini akan mencegah neuron sensorik penciuman untuk merespons molekul yang membentuk berbagai jenis aroma.

    Mekanisme ini tentu tidak dapat terlihat. Namun, Anda tetap bisa membedakan keduanya dengan melihat waktu kemunculannya.

    Gejala anosmia pada penyakit flu biasanya muncul setelah Anda mengalami hidung tersumbat dan berair. Sedangkan anosmia karena COVID-19 sering menjadi gejala pertama dan muncul secara tiba-tiba meski Anda sedang tidak mengalami gangguan pernapasan.

    Selain itu, bila pada anosmia flu Anda masih bisa mengecap rasa, anosmia COVID-19 kerap disertai dengan kehilangan pengecapan yang membuat Anda sama sekali tidak bisa membedakan rasa makanan.

    Bagaimana cara mengembalikan penciuman setelah COVID-19?

    Meski bisa kembali secara berangsur-angsur, kehilangan penciuman pastinya sangat mengganggu. Selain mengurangi kenikmatan saat makan, Anda juga tidak bisa mendeteksi bahaya, misalnya saat ingin mengetahui apakah sebuah makanan masih layak konsumsi.

    Untungnya, Anda bisa melakukan cara-cara untuk membantu mengembalikan indera penciuman, salah satunya dengan olfactory training.

    Dalam latihan ini, Anda akan memaparkan hidung dengan berbagai bau untuk merangsang sistem penciuman secara berulang kali.

    Mulailah dengan memilih empat benda dengan aroma yang berbeda. Pastikan Anda memiliki ingatan yang kuat terhadap aroma dari benda tersebut.

    Misalnya, Anda memilih bunga mawar, buah lemon, biji kopi, dan minyak kayu putih. Hirup aroma benda-benda tersebut selama 10 hingga 20 detik.

    Setelah menghirup setiap aroma, ambil napas beberapa kali lalu lanjutkan ke benda yang lain. Pada saat melakukannya, Anda harus berkonsentrasi pada ingatan Anda tentang bau tersebut.

    Ulangi latihan ini tiga kali sehari selama enam minggu. Latihan penciuman mungkin lebih efektif bila Anda terus menggunakan benda yang sama setiap harinya.

    Selain itu, Anda bisa mencoba menggunakan beberapa obat-obatan yang dapat membantu memulihkan indera penciuman Anda seperti intranasal theophylline spray atau mengonsumsi obat-obatan steroid yang dapat menghilangkan penyumbatan.

    Sulit untuk melihat beda anosmia karena COVID-19 dan karena flu. Agar lebih pasti, pastikan kondisi Anda dengan menjalani pemeriksaan PCR atau antigen.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    COVID-19 Affects Sense of Smell Differently Than Colds, Flu. (2020). UCLA Health Connect. Retrieved 3 January 2022, from https://connect.uclahealth.org/2020/09/21/covid-19-affects-sense-of-smell-differently-than-colds-flu/

    Anosmia (Lost Sense of Smell). (2021). Cleveland Clinic. Retrieved 3 January 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21859-anosmia-loss-of-sense-of-smell

    I Lost My Sense of Smell: Do I Have COVID-19? (2020). RUSH System. Retrieved 3 January 2022, from https://www.rush.edu/news/i-lost-my-sense-smell-do-i-have-covid-19

    COVID-19, Losing One’s Sense of Smell and Regaining It. (2021). Washington University School of Medicine in St. Louis. Retrieved 3 January 2022, from https://oto.wustl.edu/covid-19-losing-one-sense-of-smell-and-regaining-it/

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui Jan 13
    Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.