Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian utama di Indonesia. Ya, kian banyak orang yang mengalami berbagai penyakit jantung, seperti serangan jantung hingga gagal jantung. Untuk mengetahui kondisi kesehatan jantung Anda, maka ada beberapa tes darah yang harus dilakukan. Apa saja tes darah tersebut? Kapan harus melakukan tes darah tersebut? Cari tahu jawabannya di bawah ini.

Jenis-jenis tes darah yang dilakukan untuk menilai kesehatan jantung

Darah adalah salah satu bagian tubuh yang biasanya digunakan untuk memeriksa berbagai gangguan fungsi tubuh, termasuk kesehatan jantung. Sebuah studi telah membuktikan bahwa ada beberapa jenis tes darah yang bisa membantu deteksi penyakit jantung sejak awal.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the American Association ini mengungkapkan bahwa tes darah dapat mendeteksi gejala bahkan dari 15 tahun sebelum diagnosis ditentukan. Meskipun memang, temuan ini masih harus dipelajari lebih lanjut, namun pemeriksaan darah adalah tes dasar yang harus dilakukan untuk mengetahui kesehatan jantung.

Lantas, apa saja jenis tes darah yang biasanya dilakukan untuk memeriksa kesehatan jantung seseorang?

1. Tes kolesterol

Mungkin Anda sudah sering dengar tes darah jenis ini. Ya, tes kolesterol memang bertujuan untuk melihat jumlah kolesterol dalam tubuh Anda. Kadar kolesterol menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada jantung atau tidak. Ada tiga jenis tes kolesterol yang akan dilakukan yaitu:

Kolesterol total

Tes ini melihat kadar kolesterol total yang ada di dalam tubuh. Semakin tinggi jumlahnya, maka kian tinggi juga risiko Anda terkena penyakit jantung. Jika Anda sehat, maka kolesterol harus berada di bawah 200 mg/dL.

Low-density lipoprotein (LDL)

Biasanya, jenis kolesterol ini disebut dengan kolesterol jahat, karena bisa menyebabkan pembuluh darah tersumbat jika terlalu banyak jumlahnya di dalam tubuh. Normalnya, kolesterol jahat harus kurang dari 130 mg/dL.

High-density lipoprotein (HDL)

Kebalikannya, HDL disebut dengan kolesterol baik karena memiliki cara kerja yang bertolak belakang dengan LDL. HDL membantu  menjaga pembuluh darah agar tidak tersumbat akibat LDL. Maka itu, sebaikya kadar HDL yang harus dimiliki adalah lebih dari 40 mg/dL (untuk pria) dan lebih dari 50 mg/dl (untuk wanita).

2. Tes C-reactive protein (CRP)

CRP adalah sejenis protein yang dihasilkan hati (liver) ketika terjadi peradangan atau luka di dalam tubuh. Jadi, kalau hasil tes darah menunjukkan bahwa jumlah CRP tinggi, maka hal ini bisa saja disebabkan akibat salah satu bagian organ tubuh mengalami luka, tak hanya jantung.

Karena itu, biasanya tes ini baru akan dilakukan ketika seseorang sudah merasakan gejala awal dari penyakit jantung.Kadar CRP di atas 2,0 mg dapat dicurigai bahwa Anda mengalami gangguan fungsi jantung.

3. Tes lipoprotein (a)

Lipoprotein (a) atau Lp (a) adalah salah satu jenis dari kolesterol jahat (LDL). Kadar Lp (a) di dalam tubuh sebenarnya tergantung dengan genetik yang Anda bawa, faktor lingkungan tak begitu memengaruhi.

Jadi, ketika memang kadar Lp (a) tinggi, maka bisa dibilang Anda berisiko mengalami gangguan kesehatan jantung akibat genetik. Biasanya, pemeriksaan ini dianjurkan bagi orang yang memiliki anggota keluarga yang pernah terkena penyakit jantung.

4. Tes brain natriuretic peptides (BNP)

BNP juga merupakan jenis protein yang dihasilkan oleh jantung dan pembuluh darah. Protein ini bertanggung jawab dalam mengatur aliran darah dan membuat pembuluh darah lebih rileks. Nah, ketika memang ada gangguan kesehatan jantung, maka jantung akan mengeluarkan BNP lebih banyak ke dalam pembuluh darah.

Biasanya, tes ini menjadi pendeteksi adanya gagal jantung atau penyakit jantung lainnya. Bagi Anda yang pernah alami serangan jantung, maka pemeriksaan ini akan dianjurkan untuk dilakukan secara rutin.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca