Pedoman Memilih Suplemen dan Obat Herbal yang Aman Dikonsumsi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Ramuan obat herbal yang diracik dari dedaunan, kulit kayu, buah, bunga, dan akar-akaran wangi telah digunakan dari generasi ke generasi untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tapi tak semua obat herbal aman untuk dikonsumsi.

Pasalnya banyak produk herbal di pasaran yang diketahui mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan efek samping serius, seperti gangguan jantung dan tekanan darah. Banyak pula produk suplemen tidak memiliki izin edar BPOM alias ilegal. Untuk itu, Anda sebagai konsumen harus lebih bijak dalam memilih dan membeli obat herbal yang aman. Simak tipsnya di bawah ini.

Bagaimana cara memilih suplemen dan obat herbal yang aman dikonsumsi?

Berikut adalah tips memilih produk suplemen dan obat herbal yang aman berdasarkan pedoman dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

1. Cek kemasannya

Sebelum membeli, teliti dahulu kemasan produknya. Pastikan kemasan tidak robek, gompal, penyok, berlubang, berkarat, atau bocor. Cek kapan produk tersebut dibuat dan kapan tanggal kedaluwarsanya. Pastikan juga bahwa informasi berikut disertakan pada label semua suplemen herbal:

  • Nama suplemen
  • Nama dan alamat pabrik atau distributor
  • Daftar bahan komposisi lengkap — baik di brosur yang disertakan dalam kemasan atau tercantum di wadah
  • Saran penyajian, dosis, dan jumlah bahan aktif
  • Nomor izin edar BPOM

2. Baca labelnya

Baca dan teliti label kemasan. Apakah ada kontraindikasi dan larangan? Seperti apa cara pakai yang benar, dan adakah batasan dosis per harinya? Apa saja bahan aktif yang mungkin terkandung di dalamnya? Apakah Anda memiliki alergi terhadap salah satu dari komposisi yang tertera? Apakah dokter atau kondisi kesehatan yang Anda miliki saat ini melarang Anda untuk mengonsumsi salah satu bahan yang ada? Apa ada pantangan makanan, minuman, obat-obatan, dan aktivitas yang harus dihindari sewaktu minum obat herbal tersebut?

Produsen suplemen herbal bertanggung jawab untuk memastikan bahwa klaim yang mereka buat tentang produk mereka tidak salah atau menyesatkan dan didukung oleh bukti yang memadai. Namun, mereka tidak diwajibkan menyerahkan bukti ini ke BPOM. 

Oleh karena itu, meski terbuat dari bahan alami, banyak obat herbal yang mengandung senyawa kimia alami berpotensi menimbulkan risiko efek samping merugikan. Temulawak diklaim ampuh sebagai obat peningkat nafsu makan dan mengatasi sembelit, namun temulawak memiliki sifat pengencer darah yang bisa menyebabkan perdarahan ginjal akut pada penderita penyakit hati. Suplemen daun dewa dan daun belalai gajah yang diklaim dapat mengobati kanker terbukti dapat menyebabkan keracunan hati. BPOM telah menegaskan bahwa tidak ada jamu, suplemen herbal, maupun obat tradisional yang dapat menggantikan kemoterapi atau prosedur lainnya untuk menyembuhkan kanker.

3. Pastikan ada izin edarnya

Pastikan produk herbal yang ingin Anda beli memiliki izin edar dari BPOM. Untuk memastikan keasliannya, Anda dapat mengecek nomor yang tercantum di tautan berikut http://cekbpom.pom.go.id/. Klik di sini untuk melihat daftar lengkap obat tradisional yang diakui BPOM. Untuk daftar obat-obat tradisional yang telah ditarik dan dilarang edar, Anda bisa kunjungi laman BPOM ini.

Jika Adnda menggunakan racikan dari herbalis, pastikan bahwa herbalis tersebut memiliki izin praktik dan terdaftar resmi di Dinas Kesehatan.

4. Lihat logo golongan obatnya

Berdasarkan ketentuan BPOM, obat tradisional dibagi menjadi 3 kategori, yaitu Jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan Fitofarmaka. 

Agar sebuah obat herbal bisa dinyatakan aman, produk tersebut haruslah terlebih dulu dibuktikan keamanannya secara ilmiah melalui serangkaian uji klinis. Obat herbal juga harus diuji dosis, cara penggunaan, efektivitas, monitoring efek samping, dan interaksinya dengan senyawa obat lain. Fitofarmaka adalah satu-satunya golongan obat herbal yang telah lulus semua uji praklinis dan klinis pada manusia.

Sayangnya, kebanyakan obat herbal yang beredar di Indonesia tergolong dalam kategori jamu dan OHT. Keduanya merupakan jenis obat tradisional yang belum terbukti keamanannya berdasarkan uji klinis.

Khasiat OHT hanya dapat dibuktikan sejauh eksperimen pada hewan lab. Hasil percobaan inilah yang seringkali dijadikan dasar bahwa obat herbal dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Padahal, efeknya belum tentu sama pada manusia. Sementara itu, jamu yang biasanya menggunakan racikan resep turun temurun tidak memiliki dosis dan indikasi yang pasti. Ini bisa menimbulkan manfaat dan risiko efek samping yang berbeda untuk setiap orang.

Tak semua orang boleh minum jamu dan obat herbal

Mengonsumsi jamu dan obat-obatan herbal sebagai alternatif pelengkap dari obat sintetik (baik resep maupun nonresep) sebenarnya boleh dilakukan. Obat herbal racikan berupa rebusan relatif aman karena zat-zat toksik yang mungkin terkandung di dalamnya sudah mengalami perubahan struktur kimia sehingga aman untuk dikonsumsi. Namun obat herbal yang diracik dengan metode lain harus selalu dipertanyakan keamanannya.

Suplemen herbal biasanya baru menampakkan manfaatnya jika dikonsumsi rutin dalam jangka panjang. Hanya saja, perhatikan dosis dan waktu penggunaan jamu herbal jika Anda sedang menggunakan obat lain. Obat-obatan herbal jangan diminum sebelum obat medis untuk menghindari risiko interaksi senyawa kimia, dan sebaiknya dikonsumsi 1-2 jam setelah obat medis.

Karena itu obat herbal sebaiknya hanya dikonsumsi untuk menjaga kesehatan, pemulihan penyakit, atau menurunkan risiko dari penyakit — bukan untuk menyembuhkan. Untuk menyembuhkan penyakit dibutuhkan obat resep dokter dan penanganan medis.

Jadilah konsumen yang cerdas dan pilah-pilih mana obat herbal yang aman untuk dikonsumsi. Jangan terbutakan oleh rayuan iklan yang bombastis.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Agustus 16, 2017 | Terakhir Diedit: September 5, 2017

Sumber
Yang juga perlu Anda baca