Menopause merupakan pertanda bahwa seorang wanita tidak aktif lagi dalam bereproduksi. Artinya, wanita tersebut sudah tidak bisa lagi memiliki anak. Biasanya menopause terjadi pada wanita usia di atas 41 tahun sampai 55 tahun. Pada beberapa kasus, ada juga wanita yang mengalami menopause lebih cepat dari usia rata-rata.

Kondisi ini disebut dengan menopause dini atau menopause prematur. Penyebabnya beragam, mulai dari genetik (keturunan), gaya hidup tak sehat seperti merokok, dan juga akibat kondisi medis tertentu. Nah, menurut penelitian, wanita yang pernah melakukan operasi angkat rahim memiliki risiko lebih besar mengalami menopause dini.

Bagaimana menopause dapat terjadi?

Wanita memiliki indung telur (ovarium) yang memproduksi hormon estrogen dan progesteron. Kedua hormon seksual tersebut mengendalikan siklus ovulasi (pelepasan sel telur dari indung telur) dan menstruasi.

Saat menopause terjadi, indung telur tidak lagi memproduksi hormon estrogen dan progesteron sehingga sel telur tidak lagi dilepaskan dan menstuasi tidak akan terjadi. Wanita yang mengalami kondisi ini, tidak lagi memiliki sel telur pada dinding rahimnya sehingga setelah berhubungan seksual, sperma yang masuk tidak dapat bertemu dengan sel telur. Akhirnya, pembuahan tidak akan bisa dilakukan dan kehamilan tidak dapat terjadi.

Risiko menopause dini pada wanita dengan operasi angkat rahim

prosedur operasi ambeien

Menopause normalnya terjadi pada wanita usia di atas 41 tahun. Namun, ada beberapa wanita yang mengalami menopause lebih cepat dari usia tersebut. Dilansir dari Healthline, wanita yang menjalani proses pembedahan seperti histerektomi (operasi angkat rahim) dan ooforektomi (operasi angkat indung telur, baik satu maupun dua indung telur) punya risiko lebih tinggi mengalami menopause dini.

Kemudian, Dr. Patricia G. Moorman, dosen Duke University bersama rekannya melakukan penelitian mengenai efek samping  histerektomi yaitu menopause dini pada wanita usia 30 sampai 47 tahun, seperti dilansir dari Obgyn. Peneliti mengamati 406 wanita yang menjalani histerektomi dan membandingkannya dengan 465 wanita sehat. Peneliti mengumpulkan sampel darah dan memberikan kuesioner kepada wanita tersebut setiap tahun selama 5 tahun.

Hasilnya menunjukkan bahwa wanita mengalami kegagalan fungsi indung telur sebesar 14,8 persen pada wanita dengan histerektomi, sedangkan wanita yang sehat memiliki risiko sebesar 8 persen. Risiko menopause dini memang lebih tinggi terjadi pada wanita yang menjalani operasi pengangkatan rahim sekaligus dengan indung telurnya. Namun, risiko juga tetap tinggi pada wanita dengan histerektomi yang kedua indung telurnya masih dipertahankan.

Ooforektomi memang dapat menyebabkan menopause lebih cepat terjadi, karena tempat hormon seks diproduksi dihilangkan. Prosedur pengangkatan satu buah indung telur (ooforektomi tunggal) menyebabkan jumlah hormon seks akan berkurang sehingga menyebabkan menopause lebih cepat terjadi. Sementara operasi pengangkatan dua buah indung telur (ooforektomi bilateral) menandakan produksi hormon seks benar-benar berhenti dan menopause bisa segera terjadi.

Lalu bagaimana dengan menopause dini pada wanita dengan histerektomi? Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Moorman, histerektomi memengaruhi aliran darah ke indung telur yang kemungkinan besar bisa menyebabkan produksi hormon seks menurun sehingga indung telur gagal dalam melakukan fungsi normal. Selain itu, histerektomi bisa menyebabkan kadar FSH (Follicle-stimulating hormon) meningkat sehingga mempercepat penipisan folikel, yang menjadi faktor penyebab menopause.

Apakah menopause dini berbahaya?

Selain gejalanya yang tidak nyaman yaitu hot flashes, vagina kering, atau susah tidur, menopause dini ternyata cukup berbahaya. Kondisi ini menurut penelitian dikaitkan dengan berbagai komplikasi seperti osteoporosis dan penyakit jantung yang bisa menyebabkan kematian dini pada wanita.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca