Jenis-Jenis Obat Antihistamin Generasi Pertama dan Kedua untuk Alergi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Obat antihistamin biasanya adalah yang pertama kali diberikan apoteker untuk meredakan gejala alergi. Namun, tahukah Anda obat antihistamin terbagi dalam dua generasi berbeda? Memang apa bedanya? Obat alergi Anda masuk generasi yang mana?

Apa itu antihistamin? 

Antihistamin adalah obat untuk meredakan gejala alergi. Namun, tidak semua gejala alergi bisa diobati dengannya.

Obat ini hanya bisa meredakan gejala ringan yang berupa gatal-gatal, bersin, ruam biduran pada kulit, hidung berair, sesak napas, dan mata merah berair. Obat ini tidak bisa digunakan untuk mencegah kekambuhan alergi atau mengobati reaksi alergi yang parah seperti anafilaktik.

Obat alergi ini bekerja mengurangi atau memblokir produksi histamin dalam tubuh. Histamin adalah zat kimia yang diproduksi oleh sistem imun tubuh untuk melawan alergen yang sebenarnya tidak berbahaya. Histaminlah yang menyebabkan jaringan di hidung, mata, dan Anda membengkak sehingga terasa gatal.

Antihistamin itu sendiri terbagi menjadi dua generasi, yaitu generasi pertama dan kedua.

Obat antihistamin generasi pertama 

Seperti namanya, obat generasi pertama adalah kelompok obat yang pertama kali dirancang dan tersedia untuk mengatasi alergi.

Antihistamin generasi pertama adalah obat alergi yang sangat umum ditemukan. Namun di sisi lain, efek obatnya tidak bisa bertahan lama sehingga Anda perlu minum berulang kali sampai sembuh. Beberapa orang mungkin butuh dosis yang lebih tinggi agar efeknya bisa lebih tahan lama.

Beberapa contoh obat dari generasi pertama adalah:

1. Diphenhydramine

Diphenhydramine adalah obat untuk membantu meredakan reaksi alergi seperti bersin, mata gatal, atau tenggorokan gatal. Diphenhydramine juga dapat digunakan untuk mengobati serta mengurangi kemerahan akibat gatal di tubuh.

Obat ini bekerja memblokir efek histamin yang menyebabkan gatal. Produk ini juga mengandung bahan lain (seperti allantoin dan zinc acetate) untuk meredakan masalah kulit, seperti kering, basah, atau bernanah.

Diphenhydramine bisa didapat bebas di apotek dalam bentuk bentuk topikal, seperti krim dan gel, serta semprotan hidung. Namun, beberapa jenis dan merek dari obat ini tidak dianjurkan untuk anak kurang dari 2, 6, atau 12 tahun kecuali bila diresepkan oleh dokter.

Maka itu, baca dulu aturan pakai dan dosisnya yang tertera pada kemasan untuk informasi lebih lanjut.

2.Chlorpheniramine

Chlorpheniramine adalah antihistamin generasi pertama untuk membantu meredakan pilek, bersin, mata gatal atau berair, dan hidung dan tenggorokan gatal akibat alergi. Chlorpheniramin tersedia dalam sediaan tablet kunyah, permen, kapsul, dan suspensi cair.

Kapsul, tablet telan, tablet kunyah, dan suspensi cair direkomendasikan diminum setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan. Sementara unttuk ablet dan kapsul jangka panjang (long acting) diminum dua kali sehari pada pagi dan sore hari sesuai kebutuhan.

3. Clemastine

Clemastine adalah obat antihistamin generasi pertama untuk meredakan gejala alergi termasuk bersin, pilek, gatal, dan mata berair.

Versi generik dari Clemastine dalam bentuk tablet dan suspensi cair dapat dibeli di apotek. Obat ini perlu diminum dua atau tiga kali sehari. Ikuti petunjuk pada label resep dan minum clemastine persis seperti yang diarahkan dokter atau apoteker. 

4. Promethazine

Promethazine juga obat antihistamin generasi pertama untuk mengobati gejala alergi seperti gatal, pilek, bersin, mata gatal, atau mata berair. 

Promethazine dapat dikombinasikan dengan obat-obatan lain untuk mengobati syok anafilaksis akibat reaksi alergi parah. 

Penggunaan obat ini harus dengan resep dan di bawah pengawasan dokter. Pasalnya, promethazine dapat menyebabkan pernapasan melambat atau berhenti. Promethazine juga tidak boleh diberikan kepada bayi atau anak-anak karena dapat menyebabkan bahaya yang fatal.

Efek samping obat generasi pertama

Salah satu efek samping yang paling umum dari obat generasi pertama adalah rasa kantuk. Namun pada dasarnya obat generasi pertama kini tidak lagi menjadi rekomendasi pertama karena menyimpan banyak risiko efek samping. Beberapa di antaranya adalah:

  • Mulut, hidung dan tenggorokan terasa kering
  • Sakit kepala atau pusing
  • Mual
  • Muntah
  • Kehilangan selera makan
  • Sembelit atau susah buang air besar
  • Dada terasa sesak
  • Kelemahan otot
  • Hiperaktif, terutama pada anak-anak
  • Gugup 

Efek samping yang serius dapat termasuk:

  • Masalah penglihatan, contoh mata jadi buram
  • Kesulitan buang air kecil atau nyeri saat buang air kecil

Efek samping ini lebih sering terjadi pada orang tua.

Obat antihistamin generasi kedua

Generasi kedua selanjutnya dikembangkan untuk menyempurnakan generasi pertama yang efeknya kurang tahan lama.

Obat generasi kedua bekerja lebih cepat dan tahan lama karena langsung menargetkan aksi pada reseptor yang lebih spesifik. Dengan begitu, Anda tidak perlu lagi minum obat sampai berulang kali dan dalam dosis yang tinggi. 

Obat generasi kedua juga lebih minim risiko efek samping dan tidak begitu membuat ngantuk sehabis diminum.

Beberapa contoh obat antihistamin generasi kedua adalah:

1. Cetirizine

Cetirizine adalah obat antihistamin generasi kedua yang banyak diresepkan untuk alergi ringan. Cetirizine tersedia dalam bentuk tablet, sirup, dan obat tetes mata.

Sebuah studi kecil dari San Martino Hospital Italia yang diterbitkan dalam jurnal European Annals of Allergy and Clinical Immunology melaporkan, penggunaan obat cetirizine setiap hari selama tiga tahun dapat mengurangi gejala alergi.

Namun, penelitian ini hanya menguji keampuhan cetirizine pada satu jenis alergi saja dan itu pun pada anak. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut lagi untuk benar-benar menemukan manfaat tunggal obat ini untuk alergi.

Obat ini hanya perlu diminum sekali sehari. Apabila dokter meresepkan dosis lebih sedikit atau lebih banyak, konsumsi sesuai anjuran dokter. 

Selain itu,  

2. Loratadine

Loratadine adalah obat yang digunakan untuk mengobati gatal-gatal akibat alergi. Mirip dengan cetirizine, loratadine tidak menyebabkan kantuk dan cukup diminum sekali sehari.

Meski demikian, efek antihistamin pada obat cetirizine masih lebih cepat mengobati gatal daripada loratadine. 

3. Fexofenadine

Fexofenadine adalah obat antihistamin untuk meringankan gejala alergi termasuk bersin, mata merah, gatal, atau berair. Obat ini umumnya dapat digunakan pada orang dewasa dan anak-anak berusia 2 tahun ke atas. 

Fexofenadine hadir dalam bentuk tablet dan suspensi (cair) untuk dikonsumsi. Biasanya diminum dengan cara dicampur air sebanyak sekali atau dua kali sehari. Fexofenadine akan bekerja lebih baik jika tidak dikonsumsi bersama jus buah seperti jeruk, jeruk bali, atau jus apel. 

Sebelum digunakan, kocok botol agar zat obat tercampur merata. Takar dosis fexofenadine persis seperti yang diarahkan pada kemasan. Jangan menakar lebih atau kurang dari itu atau mengonsumsinya lebih sering daripada yang ditentukan oleh dokter Anda.

Efek samping antihistamin generasi kedua

Ada beberapa efek samping umum yang bisa didapat dari obat pemblokir histamin generasi kedua ini. Antara lain sebagai berikut: 

  • Mengantuk
  • Sakit kepala
  • Sakit perut
  • Mulut kering
  • Efek samping yang serius dapat berupa kesulitan bernapas atau menelan.

Obat antihistamin yang lebih baru seperti loratadine dan cetirizine mengandung zat bius dalam dosis rendah. Artinya, Anda mungkin masih akan merasa mengantuk setelah minum obat. Namun, efek ngantuknya belum terbukti bisa mengganggu kemampuan Anda untuk menyetir, berkendara, atau mengoperasikan mesin berat.

Aturan minum obat antihistamin

Minumlah obat seperti yang dijelaskan dalam kemasan obat, atau seperti yang disarankan oleh apoteker atau dokter.

Selain itu, perhatikan juga beberapa hal berikut ini:

  • Bagaimana cara mengonsumsinya? Beberapa obat antihistamin ada yang dikonsumsi dengan cara dicampurkan di air atau makanan. Perhatikan juga bagaimana cara pakai obat ini apabila menggunakan jenis tetes mata atau semprotan hidung.  
  • Berapa banyak dosis yang digunakan? Dosis obat umumnya bervariasi tergantung pada hal-hal seperti usia dan berat badan Anda. 
  • Kapan harus meminumnya? Sebelum mengonsumsi obat cari tahu atau tanyakan terlebih dahulu seberapa banyak Anda harus minum obat ini dalam sehari. Pasalnya, tidak semua obat harus diminum dalam aturan umum yaitu 3 kali dalam sehari. Ketahui juga kapan harus minum obat tersebut. Beberapa obat antihistamin ada yang harus diminum sebelum tidur karena punya efek yang bikin Anda jadi mengantuk. 
  • Berapa lama boleh mengonsumsi obat tersebut? Beberapa jenis dapat digunakan untuk waktu yang lama. Akan tetapi ada juga obat yang cuma boleh diminum dalam waktu beberapa hari karena dapat menimbulkan efek samping. 

Untuk mengetahui secara jelas serta lengkap beberapa pertanyaan di atas, ada baiknya Anda tanyakan kepada dokter atau apoteker. Nantinya, mereka akan menjelaskan aturan minum yang benar. Tanyanya juga apa yang harus dilakukan apabila Anda melewatkan dosis atau minum dosis lebih banyak dari yang disarankan. 

Interaksi obat antihistamin

Sama seperti obat lainnya, antihistamin juga dapat berinteraksi secara negatif di dalam tubuh jika cara pemakaiannya sembarangan. Maka itu, beri tahu dokter dan apoteker terkait obat-obatan dan suplemen lain yang masih Anda gunakan sarang.

Obat ini tidak boleh diminum berbarengan dengan alkohol karena dapat meningkatkan rasa kantuk. Obat alergi ini juga tidak boleh digunakan berbarengan dengan pil tidur, obat penenang, atau pelemas otot.

Selain itu, antihistamin sering dikombinasikan dengan obat dekongestan atau penghilang rasa sakit. Jika Anda minum obat kombinasi, penting untuk mengetahui setiap bahan aktif di dalamnya. Karena mengonsumsi satu atau lebih obat pemblokir histamin dapat berinteraksi dengan obat lain yang Anda gunakan.

Begitu pula jika Anda memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti penyakit hati dan ginjal, asma, dan pembesaran prostat. Penyakit hati dan ginjal dapat memengaruhi cara tubuh memproses cetirizine, obat antihistamin jenis kedua. 

Sementara dalam kasus yang jarang, obat generasi kedua perna terbukti menyebabkan kejang bronkial pada penderita asma. Jika Anda mencurigai mengalami overdosis obat antihistamin, seperti kebingungan, sakit kepala, pupil mata melebar, lemas, mengantuk, jantung berdebar, sulit bernapas, dan tremor segera beri tahu dokter. 

Bagi pria yang memiliki pembesaran prostat, obat-obatan ini dapat memperburuk masalah buang air kecil Anda. 

Jadi, obat antihistamin apa yang paling baik?

Tidak ada penelitian atau saran medis yang menunjukan bahwa antihistamin generasi tertentu lebih baik daripada yang lainnya. Beda orang, berbeda pula kebutuhan dan efek obatnya. Ada yang merasa obat tertentu bekerja lebih baik untuk dirinya sementara orang lain tidak mendapatkan efek yang sama. 

Anda mungkin perlu mencoba lebih dari satu jenis untuk menemukan yang cocok untuk Anda. Maka, minta saran dokter obat apa yang harus dicoba, karena tidak semua antihistamin cocok untuk semua orang.

Jika Anda tidak memiliki kondisi apa pun yang menghalangi konsumsi antihistamin, obat generasi kedua mungkin jadi pilihan terbaik karena tidak terlalu bikin ngantuk. Sebaliknya jika gejala alergi justru membuat Anda susah tidur nyenyak, generasi pertama mungkin adalah solusi buat Anda karena membuat tidur pulas.

Pada umumnya semua orang yang mengalami reaksi alergi boleh mengonsumsi obat antihistamin. Namun, beri tahu dokter dan apoteker dulu sebelum meminumnya jika Anda sedang hamil atau menyusui. Ini karena dikhawatirkan obat bisa mengganggu perkembangan janin atau bayi yang masih menyusu.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca