4 Jenis Obat Alzheimer yang Diandalkan untuk Meringankan Gejala Penyakit

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Penyakit Alzheimer (AD) adalah penyakit kerusakan fungsi saraf yang ditandai dengan kesulitan dalam berpikir dan mengingat. Penyakit ini merupakan penyebab utama dari demensia atau penyakit pikun. Meski memang sampai saat ini belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan penyakit saraf ini, ada beberapa jenis obat yang dapat mengurangi gejala penyakit Alzheimer. Lalu apa saja obat penyakit Alzheimer yang biasa digunakan?

Berbagai jenis obat penyakit Alzheimer yang bisa mencegah gejala muncul

Ada 4 obat yang telah disetujui oleh FDA Amerika Serikat dan juga Badan POM untuk penyakit Alzheimer yaitu donepezil, rivastigmin, galantamin, dan memantin. Masing-masing obat tersebut memiliki cara kerja yang berbeda. Lalu apa saja dan bagaimana cara kerjanya masing-masing?

1. Donepezil

Donepezil  adalah obat yang digunakan untuk memperlambat gejala penyakit Alzheimer yang ringan hingga parah. Obat ini juga biasa digunakan untuk pengobatan cedera otak dan penyakit Parkinson yang disebabkan oleh demensia. 

Efek samping yang umum terjadi seperti insomnia, muntah, diare, dan infeksi. Pada 2015 Badan POM mengingatkan adanya 2 risiko yang jarang terjadi tapi berpotensi serius dari penggunaan obat ini, yaitu kerusakan otot (rhabdomyolysis) dan gangguan neurologis yang disebut neuroleptic malignant syndrome (NMS).

Maka itu, sebelum menggunakannya Anda perlu konsultasi dahulu dengan dokter. Jika tiba-tiba mengalami kelemahan otot, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter. 

Donepezil (Aricept dan berbagai merek obat generik lainnya), tersedia dalam sediaan tablet dan tablet hisap. Obat ini dapat diminum sebelum tidur dan makan, karena makanan tidak akan memengaruhi kerja obat. Namun, pastikan dalam penggunaannya Anda mengikuti semua anjuran dokter serta apoteker.

2. Rivastigmin

Rivastigmin (Exelon), tersedia dalam kapsul  yang bisa diminum dua kali sehari dan patch transdermal (plester seperti koyo). Untuk orang yang mengalami gejala Alzheimer parah, biasanya obat ini diberikan dalam bentuk transdermal ketimbang oral.

Sama halnya dengan donepezil, perlu perhatian khusus dalam menggunakan obat rivastigmin, apalagi jika pasien memiliki berat badan kurang dari 50 kilogram. Pasalnya, obat Alzheimer ini dapat menimbulkan efek samping seperti rasa mual berlebihan dan muntah. Jadi berisiko menurunkan berat badan pasien secara drastis.

Obat Alzheimer ini bisa diminum bersama makanan (sarapan dan makan malam). Sedangkan obat yang berbentuk plester tersebut dapat tempelkan sekali sehari pada punggung bawah atau atas. Hindari menempelkan obat pada bagian tubuh yang sama selama 14 hari. Pastikan menekan kuat plester obat (minimal 30 detik) pada kulit yang bersih untuk memastikan semua bagian menempel sempurna.

Efek samping yang mungkin terjadi dalam penggunaan obat ini yaitu:

  • Dermatitis alergi
  • Gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, dan diare
  • Memengaruhi kerja jantung
  • Memengaruhi kemampuan koordinasi otak

3. Galantamin

Galantamin (Reminyl) yang tersedia dalam kapsul maupun tablet ini dapat diminum saat sarapan atau makan malam. Namun untuk lebih pastinya, tanyakan dokter serta apoteker Anda tentang anjuran minum obat Alzheimer yang satu ini. 

Bila sebelumnya Anda menggunakan obat donezepil atau rivastigmin (kelompok obat kolinesterase) maka Anda harus menunggu hingga 7 hari untuk meminum galantamin, supaya efek samping obat sebelumnya sudah hilang. Sementara pasien yang tidak mengalami efek samping akibat donepezil atau rivastigmin dapat memulai terapi galantamin sehari segera setelah penghentian terapi sebelumnya.

Efek samping yang mungkin terjadi saat penggunaan obat ini yaitu beberapa reaksi kulit, seperti ruam-ruam. Jika masalah kulit yang dialami tak kunjung membaik, segera periksakan diri ke dokter.

4. Memantin

Memantin (Abixa), tersedia dalam bentuk tablet dan bisa digunakan sebelum atau sesudah sarapan. Sama seperti obat Alzheimer lainnya, obat ini juga memiliki efek samping yaitu dapat menimbulkan masalah pada kulit. 

Efek samping yang paling parah adalah menyebabkan masalah pada kornea. Maka itu penggunaannya harus sesuai anjuran dan pengawasan dokter.

Baca Juga:

Sumber