Cara Mengenali Vaksin Palsu (dan Apa yang Harus Dilakukan Jika Sudah Telanjur)

Oleh

Belakangan ini terungkap adanya kasus vaksin palsu yang terjadi di beberapa rumah sakit dan bidan-bidan. Ini merupakan suatu tindakan kriminal yang sangat jahat. Anak yang tidak bersalah menjadi korbannya. Para ibu membawa anaknya ke rumah sakit atau bidan untuk mendapatkan vaksin dengan harapan agar anaknya terhindar dari penyakit, tetapi malah ada oknum-oknum tertentu yang memanfaatkannya demi mendapatkan materi semata.

Kasus ini sekarang sudah ditindaklanjuti dan sudah diberikan penanganan khusus oleh pemerintah. Bahkan Kementerian Kesehatan langsung membentuk satgas khusus yang bertujuan untuk menanggulangi kasus ini. Satgas khusus ini terdiri dari Kementerian Kesehatan, BPOM, Bareskrim Polri, dan IDAI.

Kasus ini tentu menambah kekhawatiran para ibu mengenai kesehatan anaknya. Bagaimana tidak, pemberian vaksin yang bertujuan untuk mencegah anak dari berbagai penyakit menular malah disalahgunakan. Untuk menanggulangi kasus ini, Kementerian Kesehatan sudah mulai memberikan vaksinasi ulang kepada anak-anak yang kemarin menerima vaksin palsu. Bagi Anda yang kemarin mengantar anaknya untuk mendapatkan vaksin, ayo coba diingat-ingat vaksin apa yang diberikan, dan pastikan tempat yang memberikan vaksin kepada anak Anda bukan menjadi salah satu tempat yang terkena kasus vaksin palsu.

Apa yang harus dilakukan jika anak mendapat vaksin palsu?

Menindaklanjuti adanya kasus vaksin palsu, Kementerian Kesehatan dengan cepat melakukan vaksinasi ulang kepada anak yang dulu diberikan vaksin palsu. Vaksin yang diberikan pada vaksinasi ulang ini ada dua jenis, yaitu vaksin pentavalen yang dapat mencegah lima jenis penyakit (difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, dan haemophilus influenza tipe B) dan vaksin oral polio untuk mencegah penyakit polio pada anak.

Pemberian kedua jenia vaksin ini didasarkan pada temuan bahwa jenis vaksin palsu yang beredar adalah jenis pediacel dan tripacel. Pediacel merupakan kombinasi beberapa jenis vaksin untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus atau biasa disingkat dengan DPT; polio; dan HiB (haemophilus influenza tipe B). Sedangkan tripacel mengandung vaksin DPT. Kedua jenis vaksin ini merupakan vaksin impor.

Tidak masalah jika anak diberikan vaksin lagi, ini justru diperlukan. Dilansir dari BBC Indonesia, dr. Dirga Sakti Rambe, seorang dokter bidang vaksinologi, menjelaskan bahwa anak yang diduga mendapatkan vaksin palsu perlu divaksinasi ulang karena dikhawatikan ia belum mendapatkan vaksin yang seharusnya ia dapatkan.

Selain itu, tidak masalah jika anak diberikan vaksin berkali-kali, tubuh anak mampu menanganinya dengan baik. Anak memiliki kemampuan yang sangat besar dalam merespon vaksin dengan aman sehingga terbentuk sistem kekebalan tubuh yang kuat.

Vaksin penting diberikan pada anak untuk mencegah berbagai penyakit menular. Vaksin bekerja dengan cara memasukkan antigen bakteri atau virus tertentu yang sudah dilemahkan atau dimatikan sehingga dapat merangsang sistem kekebalan tubuh mengenali antigen tersebut dan kemudian membentuk antibodi untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak. Sehingga peluang anak untuk terkena penyakit menular yang dapat dicegah dengan vaksin berkurang.

Bagaimana cara mendeteksi vaksin palsu?

Untuk ke depannya, tidak ada ada salahnya jika Anda sebagai ibu memperhatikan dulu vaksin yang akan diberikan kepada anak. Vaksin yang harganya lebih murah mungkin patut dicurigai. Setiap barang yang palsu pasti mempunyai celah perbedaan dengan yang asli, tidak mungkin sama persis. Begitu juga dengan vaksin palsu, walaupun susah ditemukan perbedaan dengan kasat mata, tetapi pasti dapat ditemukan perbedaannya.

Dikutip dari The Jakarta Post, Drajat Alamsyah, Kepala Sales Domestik PT Bio Farma mengatakan bahwa vaksin palsu dapat dilihat dari kualitas kemasannya yang sudah tidak bagus, kode produksi yang tertera dalam kemasan tercetak buram atau tidak jelas,  dan perbedaan warna pada karet penahan.

Dilansir dari Mother and Baby, dr. Dirga kembali menjelaskan tanda lain dari vaksin palsu yaitu tanggal kedaluwarsa dan kode produksi pada kemasan berbeda dengan isi, cairan vaksin palsu agak keruh berbeda dengan vaksin asli yang berwarna bening, dan memiliki penutup yang cacat atau segel rusak.

Selain dengan cara visual seperti di atas, vaksin palsu pasti mempunyai kandungan yang tidak sama dengan vaksin asli. Dengan melakukan uji laboratorium pasti ditemukan secara lebih akurat bahwa vaksin palsu memiliki kandungan dan kadar yang tidak sama dengan yang dimiliki oleh vaksin asli.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca