Apakah Prosedur Tubektomi Bisa Mengganggu Siklus Mestruasi?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Salah satu metode kontrasepsi untuk mencegah kehamilan pada wanita adalah prosedur  tubektomi (ligasi tuba). Prosedur ini dikenal juga dengan KB steril ini bersifat permanen. Namun, hal yang sering dipertanyakan, apakah wanita yang tubektomi masih menstruasi? Apakah tubektomi mengganggu menstruasi? Yuk, simak ulasan berikut ini.

Efek tubektomi terhadap siklus menstruasi

Tubektomi atau ligasi tuba adalah prosedur pembedahan untuk mencegah kehamilan. Metode kontrasepsi yang juga sering disebut sterilisasi ini dilakukan dengan memotong atau mengikat saluran tuba falopi untuk mencegah sel telur dilepaskan oleh indung telur ke rahim.

Oleh karena itu, meskipun ada sel sperma yang masuk ke saluran reproduksi wanita, tidak akan terjadi pembuahan. Biasanya prosedur ini akan dilakukan jika pasangan sudah berniat tidak ingin memiliki anak lagi atau terkait dengan kondisi kesehatan wanita jika kehamilan terjadi.

Ligasi tuba sebenarnya tidak mengganggu hormon tubuh, tidak seperti alat kontrasepsi lainnya. Maka itu, prosedur tubektomi tidak akan mengganggu siklus menstruasi maupun menopause. Artinya, Anda masih akan menstruasi meski telah menjalani prosedur tubektomi.

Tindakan yang dilakukan hanyalah menghalangi pertemuan antara sel telur dengan sperma. Namun, meski tubektomi tidak mengganggu menstruasi, pada beberapa kasus, wanita yang telah menjalani prosedur sterilisasi ini mengeluhkan mengalami gangguan pada siklus menstruasinya. Apakah ini sama artinya dengan tubektomi mengganggu siklus menstruasi?

Gangguan siklus menstruasi yang mungkin terjadi setelah  tubektomi

Sebenarnya, menjalani prosedur tubektomi memang tidak mengganggu siklus menstruasi Anda. Bahkan, wanita yang menjalani sterilisasi ini memiliki periode menstruasi yang lebih singkat, perdarahan yang tidak berlebihan, hingga nyeri perut karena haid yang menjadi lebih jarang terjadi.

Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa ada beberapa wanita yang mengalami gangguan menstruasi setelah menjalani prosedur ini. Akan tetapi, Anda tetap perlu mengingat bahwa adanya gangguan siklus menstruasi ini tidak berarti tubektomi mengganggu siklus menstruasi Anda.

Ada beberapa ciri Anda mengalami gangguan menstruasi setelah menjalani prosedur tubektomi, seperti:

  • mual seperti ingin muntah.
  • payudara terasa nyeri.
  • menstruasi terlambat atau tidak menstruasi sama sekali.
  • perut bagian bawah terasa nyeri dan sakit sekali.

Hasil penelitian mengenai gangguan pada siklus menstruasi setelah tubektomi

Tubektomi sebenarnya tidak akan mengganggu siklus menstruasi Anda. Akan tetapi, prosedur sterilisasi ini berpotensi menimbulkan berbagai gangguan terhadap siklus menstruasi yang Anda jalani.

Dilansir dari sebuah penelitian yang dimuat pada International Journal of Fertility and Sterility, dr. Shahideh Jahanian Sadatmahalleh dan rekan-rekannya meneliti hubungan antara ligasi tuba dengan gangguan menstruasi.

Sebanyak 140 wanita dengan tubektomi setelah satu tahun dan 140 wanita menggunakan alat kontrasepsi jenis kondom selama tiga bulan mengisi kuesioner rutin mengenai siklus menstruasi mereka. Hasil dari penelitian tersebut yaitu:

  • Wanita dengan tubektomi lebih banyak mengalami menstruasi tidak teratur.
  • Wanita dengan tubektomi juga lebih banyak mengalami polimenorea (siklus menstruasi lebih singkat dari 21 hari dengan jumlah darah yang dikeluarkan lebih banyak), hipermenorea (mentruasi terjadi lebih dari tujuh hari), menoragia (menstruasi berat dan jangka panjang), serta menometroragia (pendarahan yang terjadi di luar siklus haid).

Namun, penelitian tersebut tidak menunjukkan secara langsung bahwa prosedur tubektomi ini mengganggu siklus menstruasi. Gangguan menstruasi yang terjadi setelah prosedur ligasi tuba dikaitkan dengan post-tubal ligation syndrome. Sindrom ini tentu tidak ada kaitannya dengan tubektomi mengganggu siklus menstruasi. Akan tetapi,  sindrom tersebut sebenarnya belum terbukti dan tidak diakui dalam dunia medis.

Jadi, bisa disimpulkan, adanya gangguan menstruasi setelah prosedur tuba ligasi, tidak sama artinya dengan menjalani prosedur tubektomi dapat mengganggu siklus menstruasi. Hal yang perlu Anda ingat, tubektomi tak sama dengan metode kontrasepsi lainnya yang dapat memperbaiki siklus menstruasi.

Meski tidak mengganggu siklus menstruasi, tubektomi tidak dapat berfungsi seperti pil KB. Pil KB bisa membantu Anda memperbaiki siklus menstruasi, tapi tidak dengan prosedur tubektomi. Biasanya, jika siklus menstruasi Anda tidak teratur sebelum menjalani tubektomi, siklus menstruasi Anda setelahnya juga akan tidak teratur juga.

Bisakah hamil setelah menjalani tubektomi?

Adanya perubahan atau gangguan siklus menstruasi setelah melakukan tubektomi sangatlah kecil. Hal ini disebabkan pada dasarnya prosedur tersebut tidak mengganggu siklus menstruasi atau memengaruhi fungsi indung telur yang memproduksi hormon yang mengatur siklus menstruasi.

Namun, apabila sudah menjalani prosedur tubektomi tidak mengganggu siklus menstruasi, apakah hal ini menandakan bahwa Anda masih bisa hamil lagi setelah menjalani prosedur ini? Jawabannya masih bisa.

Meski tubektomi tidak mengganggu siklus menstruasi, hamil lagi setelah menjalani prosedur tubektomi sebenarnya termasuk hal yang jarang terjadi. Namun, hal ini bisa saja terjadi jika tuba falopi Anda tumbuh kembali seiring berjalannya waktu.

Bahkan, pada kasus-kasus tertentu, prosedur tubektomi yang tidak dijalankan dengan baik tak hanya mengganggu siklus menstruasi, tapi juga menyebabkan Anda masih bisa hamil lagi.

Maka itu, tak heran jika prosedur ligasi tuba ini dianggap bisa meningkatkan risiko Anda mengalami kehamilan ektopik, yaitu suatu kondisi di mana sel telur yang berhasil dibuahi justru tumbuh di luar rahim Anda. Tentu kondisi ini bisa membahayakan kondisi Anda, oleh karena itu Anda harus berhati-hati terhadap kondisi ini.

Akan tetapi, tidak hanya itu saja, ada pula wanita yang ingin kembali hamil padahal telah melakukan sterilisasi. Sebenarnya, bukannya tidak mungkin mengembalikan kondisi Anda seperti semula, tapi tentu tidak akan benar-benar sama.

Tuba falopi yang telah dipotong bisa kembali diupayakan agar bisa menyatu kembali. Namun, potensi keberhasilannya hanya mencapai angka 70% saja. Biasanya, wanita yang melakukan tubektomi dan kembali ingin memiliki keturunan adalah wanita dengan usia 18-24 tahun dibandingkan dengan wanita yang telah berusia lebih tua.

Jika Anda berubah pikiran setelah menjalani prosedur tubektomi, Anda bisa berupaya memiliki keturunan melalui prosedur in vitro fertilization (IVF) atau lebih dikenal dengan sebutan bayi tabung.

Apa yang harus dilakukan jika timbul gangguan siklus menstruasi setelah tubektomi?

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, meski tubektomi tidak mengganggu siklus menstruasi, Anda mungkin harus segera berkonsultasi kepada dokter jika mengalami rasa sakit, perdarahan, dan berbagai gejala lain setelah menjalani prosedur tersebut.

Ada kemungkinan bahwa gangguan menstruasi yang Anda alami bukan karena tubektomi dapat mengganggu siklus Anda, tapi mungkin ada kondisi lain yang menjadi penyebabnya. Dengan berkonsultasi kepada dokter, dokter juga akan membantu Anda untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat untuk menangani gejala yang muncul.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: April 12, 2018 | Terakhir Diedit: Maret 24, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca