Pacaran Putus-Nyambung Terus? Mungkin Tanda Anda Mengidap OCD

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 September 2017 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Dalam lika-liku berpacaran, pasti akan datang satu momen di mana kita sesekali dihampiri keraguan mengenai hubungan kita dengan si dia. Apakah Anda benar-benar bahagia hidup dengannya? Apakah Anda benar-benar mencintainya? Apakah ia benar-benar mencintai Anda? Atau, apakah Anda dan si pacar adalah tipe pasangan yang suka putus-nyambung?

Hingga batas tertentu, semua ini adalah hal yang wajar dan biasanya hanya akan terpintas sekilas, tidak cukup menonjol untuk dianggap serius. Namun, bagi orang dengan gangguan obsesif kompulsif (OCD), keraguan dan ketakutan mereka bisa sangat mengaburkan kenyataan sehingga menyebabkan mereka terobsesi dengan terus mempertanyakan apakah pasangan mereka cukup pantas untuk dirinya atau jika mereka adalah benar jodoh sehidup-semati yang dikirim Tuhan untuknya.

Anda salah satunya?

Mengenal gangguan obsesif kompulsif dalam hubungan berpacaran

Gangguan obsesif kompulsif alias OCD adalah suatu gangguan mental yang menyebabkan seseorang memiliki obsesi yang berasal pemikiran, perasaan, ide, atau sensasi tertentu sehingga memicu mereka melakukan perilaku yang sama secara berulang (kompulsif; ritual).

Orang dengan OCD memiliki pemikiran obsesif tentang hal-hal yang paling penting bagi mereka. Bagi beberapa orang kebersihan adalah hal yang maha penting bagi mereka, jadi mereka terobsesi dengan sanitasi dan selalu khawatir akan kontaminasi dan kuman. Bagi yang lainnya, mungkin segi keamanan yang jadi obsesinya, sehingga mereka terus menerus disibukkan oleh kekhawatiran akan dilukai atau melukai orang lain. Nah, bagi beberapa orang, gangguan obsesif kompulsif bisa diwujudkan dalam hubungan romantis.

Seseorang dengan OCD bisa menjalin hubungan romantis dengan orang lain dan jelas dilihat dari kacamata penonton (dan dari pihak pasangan satunya) bahwa hubungan mereka berjalan dengan baik. Namun orang tersebut sangat terobsesi untuk memastikan bahwa mereka benar jatuh cinta pada pasangan mereka dengan terus-menerus melakukan ritual khasnya. Mereka akan memiliki obsesi atas hubungannya (ingat, bukan obsesi kepada individu pacarnya itu sendiri) sehingga mereka sering mengalami pemikiran yang mengganggu dan menimbulkan tekanan terkait kekuatan hubungan serta kualitas dan sifat sebenarnya dari pasangan mereka.

Bentuk obsesi pengidap OCD cenderung berupa pemikiran sehingga bisa sulit terdeteksi oleh orang lain. Tetapi obsesi terhadap pasangan juga dapat terlihat dari tindakan yang dilakukan secara kompulsif untuk mengurangi stres mental yang ditimbulkan oleh pemikiran-pemikiran tersebut. Selain adanya bakat mengalami OCD, pemikiran obsesif yang meragukan  pasangan juga dapat berasal dari miskonsepsi figur pasangan yang terdapat pada media seperti lagu, film dan novel sehingga mereka cenderung memiliki ekspektasi fiktif tertentu dan sulit menerima sifat dan karakteristik pasangan mereka yang sebenarnya.

Tanda dan dampak perilaku OCD pada hubungan

Perilaku berulang atau kompulsif sebagai tanda seseorang pengidap OCD pada suatu hubungan dapat diwujudkan dalam bermacam-macam hal. Pengidap OCD tidak memikirkan bagaimana ia bisa membangun sebuah hubungan pacaran yang sehat dan baik dengan si pacar, tapi justru akan selalu memikirkan atau meragukan beberapa hal terkait pasangannya, seperti:

  • Apakah ia pantas menjadi pasanganku? (Bukan kesombongan untuk memandang rendah orang lain, namun lebih kepada keraguan maha dashyat)
  • Meragukan perasaannya terhadap si pasangan
  • Menilai/membandingkan tingkat kecantikan/ketampanan pasangan
  • Mempertanyakan seberapa besar mereka menginginkan pasangannya sebagai partner seks
  • Mempertanyakan kecocokan dalam jangka panjang
  • Berfokus pada kekuarangan atau aspek negatif pasangan
  • Membanding-bandingkan  hubungan sekarang dengan sebelumnya — “lebih baik” atau “lebih buruk”

Secara umum perilaku tersebut dikategorikan dalam beberapa kelompok di antaranya:

Perilaku kompulsif yang ditujukan kepada pasangan

Ini bisa berupa  tindakan yang dilakukan berkali-kali hanya untuk mengetahui tingkat kekuatan hubungan, gairah seks, atau kedekatan emosional — seperti dengan berhubungan seks, menceritakan bahwa ia ragu akan hubungan mereka, terlalu sering putus-nyambung, atau menguji perasaan dengan mendekati atau memperhatikan orang lain dan membandingkannya dengan pasangan.

Dorongan kompulsif OCD juga dapat melibatkan usaha keras untuk memeriksa kesetiaan pasangan, seperti berulang-ulang menghubunginya, memeriksa email atau riwayat pencarian internet atau secara terus-menerus bertanya apakah mereka sungguh-sungguh ketika mengekspresikan cinta mereka.

Perilaku menghindar secara berlebihan

Ini merupakan tindakan yang bertujuan untuk menjauhkan diri dan perasaan terhadap pasangan baik secara verbal maupun fisik. Perilaku ini juga menjauhkan pemicu rasa ragu terhadap pasangan mereka, seperti menghindari orang-orang yang mereka anggap berpenampilan menarik atau mantan pasangan yang dapat membuat mereka merasa ragu terhadap hubungan yang sedang dijalani.

Perilaku kompulsif untuk mencari dukungan orang lain

Hal ini dilakukan dengan cara mengkonfirmasi kecocokan hubungan mereka berdua, kepantasan pasangan dengan dirinya dengan terus menanyakan hal tersebut pada orang sekitar tanpa henti. Hal tersebut dilakukan untuk memperkuat keyakinan si pengidap OCD terhadap hubungan tersebut.

Perilaku berulang semata dilakukan untuk mengatasi beban stres mental akibat gejala OCD

Setiap perilaku berlebihan yang dilakukan oleh pengidap OCD akan memiliki dampak, dan jika terjadi pada hubungan maka akan menyebabkan kesalahpahaman dan konflik antar pasangan yang bisa berujung pada berakhirnya hubungan tersebut. Mereka juga cenderung merasa bersalah akan perilaku, pemikiran, dan perasaan yang dialaminya, namun cenderung dilakukan lagi.

Tapi bagi mereka, pengulangan ini bukanlah kesengajaan untuk menyakiti perasaan si pasangan. Bagi pengidap OCD, penting untuk terus melakukan ritual ini karena hubungan pacaran adalah hal yang mereka anggap penting dalam hidupnya sehingga bahkan berpikir untuk mengakhirinya bisa sangat membuat mereka stres dan terpuruk.

Perilaku berulang (kompulsif) adalah salah satu gejala OCD yang hadir sebagai teknik pertahanan diri untuk menghindari beban mental ini, atau berusaha untuk menguranginya. Ironisnya, meskipun pengidap OCD tidak sengaja melakukan hal tersebut, namun dengan melakukan perilaku berulang seperti menyatakan keraguannya terhadap hubungan mereka maka secara tidak langsung ia jadi memberi tekanan mental dan emosi terhadap pasangannya.

Apa yang bisa dilakukan jika pasangan mengidap OCD?

Jika Anda mengalami permasalahan serupa, maka sebaiknya pastikan kondisi OCD yang dialami dengan cara kenali ada atau tidaknya faktor risiko OCD pada keluarga atau gangguan OCD yang pernah dialami pada waktu sebelumnya. Pada dasarnya gangguan obsesif kompulsif dapat dikelola dengan melakukan terapi perilaku kognitif. Terapi ini diperlukan untuk membentuk ulang pola pikir dan respon terhadap pemikiran yang obsesif terhadap hubungan atau pasangan.

Hal terpenting yang dapat dilakukan untuk menghindari pemikiran obsesif adalah mengganti fokus hal yang ada dipikiran. Kenali kondisi di mana pemikiran Anda merasa paling nyaman dan tidak terganggu oleh pemikiran obsesif dan fokuslah terhadap hal yang menimbulkannya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Masturbasi Aman untuk Perempuan, Bagaimana Caranya?

Ada banyak manfaat masturbasi untuk perempuan, salah satunya meredakan nyeri perut saat PMS. Tapi masturbasi tak boleh sembarangan, bagaimana caranya?

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Seks & Asmara 15 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

7 Hal yang Harus Anda Persiapkan Sebelum Naik Gunung

Anda ingin mencoba mendaki gunung? Ada sejumlah persiapan yang perlu dilakukan sebelum mendaki gunung khususnya bagi pemula agar pendakian aman.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Tips Sehat 15 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Benarkah Bahaya Cyber Bullying Bisa Memicu Bunuh Diri?

Sekecil apapun bahaya cyber bullying tidak bisa dianggap remeh. Lambat laun, penindasan di dunia maya ini bisa berisiko pada tindakan bunuh diri.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Psikologi 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Sering Merasa Kebelet Pipis Saat Berhubungan Seks, Normalkah?

Mengompol bukan cuma dialami oleh bayi dan balita. Tak jarang ada orang dewasa yang tak sengaja ngompol, terutama saat seks. Apa penyebab ngompol saat seks?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Seks & Asmara 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

KDRT konflik rumah tangga

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
tips menghindari perceraian

7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
obat herbal dan alami untuk kanker prostat

Pedoman Memilih Suplemen dan Obat Herbal yang Aman Dikonsumsi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
tips menjaga kesehatan gigi dan mulut

11 Prinsip Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Sehari-hari

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit