3 Tanda Anda Mungkin Mengidap Bacterial Vaginosis

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 04/06/2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Bacterial vaginosis (BV) adalah infeksi vagina yang disebabkan oleh bakteri. Biasanya, di dalam vagina terdapat koloni bakteri “baik” dan bakteri “jahat”. Bakteri yang baik bertugas mengatur ekosistem dalam vagina sekaligus mengendalikan pertumbuhan bakteri jahat. Pada seseorang yang memiliki bacterial vaginosis, keseimbangan antar dua bakteri ini terganggu. Di dalam vaginanya tidak terdapat cukup bakteri baik dan terlalu banyak bakteri jahat.

Para ahli tidak mengetahui pasti apa yang menyebabkan ketidakseimbangan populasi bakteri ini. Namun, ada beberapa hal yang diduga dapat meningkatkan risiko Anda terhadap bacterial vaginosis:

  • Memiliki lebih dari satu pasangan seksual, atau memiliki pasangan seksual baru — BV lebih umum ditemukan pada wanita yang aktif secara seksual. Namun, Anda yang tidak pun masih bisa terjangkit kondisi ini.
  • Melakukan vaginal douche (membersihkan vagina dengan sejenis alat semprot).
  • Aktif merokok.

Bacterial vaginosis pada umumnya merupakan masalah ringan yang dapat hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari. Tetapi, kondisi ini dapat mengarah pada masalah lain yang lebih serius. Maka dari itu, direkomendasikan untuk Anda memeriksakan diri ke dokter untuk mendapat diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Tanda dan gejala bacterial vaginosis

Tanda dan gejala bacterial vaginosis mungkin termasuk:

1. Keputihan berbau busuk

Keputihan berbau busuk adalah gejala dari bacterial vaginosis yang paling umum. Vagina yang telah terpengaruh oleh BV menunjukkan cairan keputihan yang berwarna putih susu, keabu-abuan, atau kuning, juga berbau amis sangat kuat — yang mungkin bertambah parah setelah berhubungan seks. Tekstur cairan keputihan juga mungkin terlihat berbusa atau berair.

Banyak hal yang dapat menyebabkan keputihan abnormal, termasuk beberapa jenis penyakit kelamin menular. Temui dokter Anda segera untuk menjalankan tes dan mendapatkan pengobatan yang tepat.

2. Nyeri saat buang air kecil

Nyeri saat buang air kecil adalah satu tanda umum dari infeksi saluran kandung kemih (ISK). ISK dapat disebabkan oleh infeksi bakteri — seperti bacterial vaginosis — atau peradangan pada saluran kandung kemih.

Ada beberapa kondisi medis lain yang dapat menyebabkan sensasi nyeri saat buang air kecil. Selain BV, Anda juga mungkin akan mengeluhkan kondisi yang sama jika Anda memiliki infeksi menular seksual, seperti herpes genital, gonore, atau klamidia.

Bahkan terkadang, sensasi nyeri dan terbakar tidak disebabkan oleh infeksi, melainkan dari penggunaan produk tertentu pada area genital. Sabun, lotion, dan busa mandi dapat mengiritasi jaringan vagina. Bahan kimia yang terkandung pada deterjen pencuci pakaian atau douche juga dapat menyebabkan rasa nyeri saat buang air kecil pada wanita-wanita yang sensitif.

Sangat penting untuk mendapatkan tes dan uji laboratorium di rumah sakit terdekat untuk mendiagnosis keluhan Anda, terutama jika Anda mengalami nyeri dan telah terlibat dalam hubungan seksual berisiko, misalnya seks tanpa kondom atau dengan pasangan lebih dari satu.

3. Vagina gatal dan iritasi

Keluhan vagina gatal umum ditemukan dalam kasus bacterial vaginosis. Vagina gatal merupakan gejala yang tidak nyaman, kadang menyakitkan, yang umumnya terjadi akibat iritan, infeksi, atau menopause. Kondisi ini juga dapat terjadi sebagai akibat dari gangguan kulit tertentu atau penyakit menular seksual. Pada kasus langka, vagina gatal mungkin timbul karena stres atau kanker vagina.

Sama halnya seperti BV, vagina gatal biasanya tidak harus menjadi suatu kekhawatiran. Namun, Anda harus temui dokter jika gatal-gatal terasa parah atau jika Anda mencurigai bahwa Anda menunjukkan gejala lain dari kondisi yang mendasarinya. Dokter dapat menentukan penyebab mengapa vagina Anda terasa gatal melalui pemeriksaan dan rangkaian uji laboratorium. Dokter juga dapat merekomedasikan pengobatan yang tepat untuk keluhan Anda.

Semua gejala di atas mungkin mirip dengan infeksi jamur vagina dan beberapa masalah kesehatan lainnya. Selain itu, banyak dari wanita yang mengidap BV dapat tidak menunjukkan tanda atau gejala apa pun.

Apa bedanya bacterial vaginosis dengan infeksi jamur?

Bacterial vaginosis dan infeksi jamur merupakan dua penyebab umum dari keputihan abnormal. Keduanya memiliki gejala yang sama, sehingga mungkin akan sulit bagi Anda untuk mengetahui apakah Anda terjangkit BV atau infeksi jamur. Hanya dokter dan tim perawat Anda yang dapat memberitahu dengan pasti apakah Anda memang benar memiliki bacterial vaginosis.

Bedanya, keputihan yang terpengaruh bacterial vaginosis mungkin berwarna putih susu atau keabu-abuan, dan juga mengeluarkan bau amis menyengat. Sementara itu, walaupun berwarna sama, keputihan akibat infeksi jamur memiliki tekstur seperti keju cottage (berbongkah dan sedikit cair).

BV ditangani dengan antibiotik resep dokter, sedangkan infeksi jamur dapat diobati dengan obat non-resep bebas yang dapat Anda beli di apotek terdekat. Bacterial vaginosis tidak dapat ditangani dengan obat-obatan infeksi jamur yang dijual bebas.

Apa yang terjadi jika bacterial vaginosis tidak diobati?

Bacterial vaginosis umumnya akan menghilang dengan sendirinya dan tidak menyebabkan komplikasi. Di sisi lain, terkadang BV juga dapat menyebabkan:

  • Masalah kehamilan, terutama jika Anda terjangkit BV selama masa kehamilan. Bacterial vaginosis meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur dan/atau berat bayi lahir rendah (kurang dari 2,5 kg saat lahir), dan infeksi saluran kandung kemih (ISK) setelah kehamilan.
  • Infeksi panggul, terutama jika Anda terjangkit saat Anda menjalankan prosedur panggul, seperti kelahiran caesar, aborsi, kuretase, atau histerectomi. BV kadang juga dapat menyebabkan peradangan panggul, sebuah infeksi pada rahim dan tuba fallopi yang dapat meningkatkan risiko ketidaksuburan
  • Peningkatan risiko penyebaran penyakit seks menular, terutama jika Anda terjangkit BV dan tergolong rentan terhadap penyakit kelamin menular, termasuk HIV, herpes simplex, gonore, dan klamidia. Bacterial vaginosos meningkatkan peluang Anda menularkan virus pada partner seks Anda.

Apa saja pengobatan untuk bacterial vaginosis?

Untuk mengobati BV, dokter biasanya meresepkan antibiotik dalam bentuk pil, krim, atau kapsul (disebut ovula) yang Anda masukkan ke dalam vagina Anda. Jika Anda sedang hamil, Anda akan diresepkan antibiotik pil.

Kondisi ini biasanya akan mereda dalam 2-3 hari setelah penggunaan antibiotik, tetapi lama pengobatan berlangsung selama 7 hari. Jangan hentikan penggunaan obat sebelum jangka waktu resep habis, bahkan jika Anda sudah merasa baikan. Pastikan untuk mentaati aturan pakai dan jangka waktu penggunaan dosis.

Antibiotik adalah opsi pengobatan paling efektif dan memiliki sedikit efek samping. Namun, penggunaan antibiotik bisa menyebabkan infeksi ragi. Infeksi ragi dapat menyebabkan gatal pada bagina, iritasi kemerahan, dan keputihan abnormal (tekstur kental putih susu). Jika selama dalam pengobatan antibiotik Anda menemukan gejala ini, bicarakan dengan dokter untuk langkah selanjutnya yang harus dilakukan.

Jika Anda memiliki BV, pasangan seks pria Anda tidak akan perlu diobati. Tapi, BV dapat menyebar pada hubungan seks antar perempuan. Jika partner seks Anda adalah perempuan, Anda berdua perlu memeriksakan diri ke dokter. Ia juga mungkin akan memerlukan pengobatan.

Masih sangat mungkin untuk kembali mendapatkan bacterial vaginosis di kemudian hari. Pelajari cara untuk menurunkan risiko Anda untuk BV.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Masker Vagina Aman untuk Digunakan? Ini Jawabannya

Tidak sekadar mengikut tren, penggunaan masker vagina sebaiknya dilakukan dengan hati-hati. Apa sebenarnya masker vagina? Apakah produk ini aman?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Perawatan Kewanitaan, Hidup Sehat 29/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Kalau Terlalu Sering Pakai Vibrator, Apa Efek Samping yang Ditimbulkan?

Ada beberapa cara memenuhi hasrat kepuasan seksual wanita, salah satunya memakai vibrator. Tapi kalau terlalu sering pakai vibrator, apa efeknya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Hidup Sehat, Seks & Asmara 26/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Rutin Berhubungan Seks Bisa Memperlambat Datangnya Menopause

Menurut penelitian, lebih sering berhubungan seks bisa membantu perempuan memperlambat datangnya masa menopause. Bagaimana penjelasannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Hidup Sehat, Seks & Asmara 03/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Bahaya yang Ditimbulkan Akibat Melakukan Aborsi Sendiri

Tahukah Anda, bahwa melakukan aborsi sendiri dapat menyebabkan munculnya penyakit ganas pada sang ibu? Itulah penyebab utama dari kematian ibu di dunia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Melahirkan, Kehamilan 01/04/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengobati isk tanpa antibiotik

Bisakah Infeksi Saluran Kemih Bisa Diobati Tanpa Antibiotik?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 26/06/2020 . Waktu baca 7 menit

Tidak Semua Perawatan Vagina Baik untuk Kesehatan, Ini 4 yang Bahaya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020 . Waktu baca 6 menit
cara membersihkan vibrato mainan seks sex toys

Begini Cara yang Benar Membersihkan Vibrator

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 05/05/2020 . Waktu baca 4 menit
infeksi saluran kemih saat hamil

5 Cara Efektif Mencegah Infeksi Saluran Kemih Saat Hamil

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 02/05/2020 . Waktu baca 4 menit