Stockholm Syndrome: Ketika Sandera Justru Bersimpati Pada Penculiknya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/03/2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Jika Anda pernah mendengar kasus-kasus aneh di mana korban penculikan justru mengasihani, menyukai, atau bahkan membenarkan tindakan penculiknya, itu adalah contoh dari Stockholm Syndrome

Namun, akhir-akhir ini definisi Stockholm Syndrome makin meluas. Tak hanya mencakup kasus penculikan saja, bahkan juga merambah hingga kasus kekerasan seperti KDRT dan kekerasan dalam pacaran.

Mengulik asal-usul Stockholm Syndrome

Sindrom Stockholm Stockholm syndrome adalah istilah yang lahir dari seorang kriminolog dan psikiater, Nils Bejerot. Bejerot menggunakannya sebagai penjelasan terhadap reaksi psikologis yang dialami korban sandera dan kekerasan.

Nama Stockholm Syndrome diambil dari sebuah kasus perampokan bank Sveritges Kreditbank yang terjadi pada 1973 di  Stockholm, Swedia. Perampokan ini dimulai ketika tim penjahat ulung bernama Jan-Erik Olsson dan Clark Olofsson menyerbu masuk bank dan menjadikan empat orang karyawan bank yang terjebak di dalamnya sebagai sandera. Para sandera dikurung dalam ruang penyimpanan uang (vault) selama 131 jam atau sekitar 6 hari.

Laporan investigasi polisi menunjukkan bahwa selama disandera para korban menerima berbagai perlakuan kejam serta ancaman pembunuhan. Akan tetapi, ketika para polisi mengusahakan negosiasi dengan kedua perampok, empat orang sandera tersebut justru membantu dan menawarkan saran bagi Jan-Erik dan Clark supaya tidak menyerah pada polisi.

Mereka bahkan mengkritik usaha polisi dan pemerintah yang tidak peka terhadap cara pandang kedua perampok itu. Setelah kedua perampok tertangkap, keempat sandera juga menolak untuk bersaksi melawan Jan-Erik dan Clark di pengadilan.

Sebaliknya, para sandera malah menyatakan bahwa para perampok tersebut telah mengembalikan hidup mereka. Bahkan mereka malah mengatakan lebih takut pada aparat kepolisian daripada kedua perampok. Yang tak kalah menarik, satu-satunya sandera perempuan dalam perampokan tersebut justru menyatakan cintanya pada Jan-Erik hingga mereka bertunangan.

Sejak itu, kasus-kasus serupa juga dikenal sebagai sindrom Stockholm.

Stockholm Syndrome adalah bentuk pertahanan diri

Sindrom Stockholm atau Stockholm Syndrome adalah reaksi psikologis yang ditandai oleh rasa simpatik atau kasih sayang yang muncul dari korban penculikan terhadap pelaku.

Stockholm Syndrome muncul sebagai mekanisme pertahanan diri yang bisa dilakukan secara sadar atau tidak sadar oleh korban. Pada dasarnya, reaksi pertahanan diri membuat seseorang menunjukkan perilaku atau sikap yang berlawanan dengan apa yang sesungguhnya mereka rasakan atau harusnya lakukan.

Mekanisme pertahanan diri ini dilakukan semata-mata dilakukan korban untuk melindungi dirinya sendiri dari ancaman, kejadian traumatis, konflik, serta berbagai perasaan negatif seperti stres, gelisah, takut, malu, atau marah. 

Korban justru bersimpati terhadap pelaku

Ketika seorang sandera penculikan atau korban KDRT ditahan dalam situasi yang menakutkan, korban akan merasa marah, malu, sedih, takut, dan benci pada pelaku. Namun, menanggung beban perasaan-perasaan tersebut untuk waktu yang cukup lama akan membuat mental korban kelelahan.

Akibatnya, korban mulai membentuk mekanisme pertahanan diri dengan cara membentuk reaksi yang berlawanan sepenuhnya dengan apa yang sesungguhnya dirasakan atau seharusnya dilakukan. Maka, rasa takut akan berubah menjadi rasa iba, amarah akan berubah menjadi kasih sayang, dan kebencian akan berubah menjadi rasa solidaritas.

Selain itu, beberapa ahli menyebutkan bahwa tindakan-tindakan penyandera seperti memberi makan atau membiarkan korbannya tetap hidup justru diterjemahkan sebagai bentuk penyelamatan.

Hal tersebut mungkin terjadi karena korban merasa bahwa nyawanya sedang terancam. Sementara satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan dan menerima dirinya adalah pelaku itu sendiri. Entah itu lewat makanan yang diberikan pelaku atau sekadar membiarkan korban tetap hidup.

Gejala Sindrom Stockholm yang khas

Stockholm syndrome adalah suatu kelainan. Bahkan, para ahli sepakat bahwa kondisi ini sebagai bentuk dari hubungan yang tidak sehat.

Sama seperti gangguan kesehatan pada umumnya, Stockholm syndrome juga menunjukkan tanda-tanda atau gejala. Berbagai tanda dan gejala paling khas dari sindrom Stockholm adalah:

  • Memunculkan perasaan positif terhadap penculik, penyandera, atau pelaku kekerasan.
  • Berkembangnya perasaan negatif terhadap keluarga, kerabat, pihak berwenang, atau masyarakat yang berusaha untuk membebaskan atau menyelamatkan korban dari pelaku.
  • Memperlihatkan dukungan dan persetujuan terhadap kata-kata, tindakan, dan nilai-nilai yang dipercaya pelaku.
  • Ada perasaan positif yang muncul atau disampaikan secara terang-terangan oleh pelaku terhadap korban.
  • Korban secara sadar dan sukarela membantu pelaku, bahkan untuk melakukan tindak kejahatan sekali pun. 
  • Tidak mau berpartisipasi maupun terlibat dalam usaha pembebasan atau penyelamatan korban dari pelaku.

Pada beberapa kasus, korban bahkan bisa merasakan kedekatan emosional dengan pelaku. Interaksi dan komunikasi yang intens antara pelaku dan korban yang biasanya terisolasi bisa membuat korban melihat kemiripan dirinya dengan pelaku, baik secara sosial, emosional, atau psikologis. Nah, dari situ, korban bisa memunculkan rasa iba dan simpati terhadap pelaku, bahkan kasih sayang.

Usaha rehabilitasi pengidap Stockholm Syndrome

Kabar baiknya, orang dengan sindrom Stockholm dapat sembuh meski memang tak bisa sekejap. Biasanya, tim medis bersama dengan psikolog akan menganjurkan korban untuk menjalani rehabilitasi.

Lamanya masa rehabilitasi ini akan berbeda-beda pada setiap orang karena tergantung pada seberapa kuat hubungan yang dibangun dengan pelaku dan apakah korban masih berkomunikasi dengan pelaku.

Seperti kebanyakan kasus trauma serius, pendekatan suportif dan psikoterapi harus dijalankan. Perhatikan dan dukungan dari keluarga atau kerabat terdekat juga sangat dibutuhkan. Apalagi jika korban mengalami komplikasi seperti depresi.

Dukungan moril dari orang-orang terdekat korban bisa membuat proses rehabilitasi berjalan lebih optimal, sehingga peluang korban untuk cepat pulih dari sindrom ini juga semakin besar. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Pentingnya Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental untuk Pebisnis Startup

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 07/07/2020 . Waktu baca 5 menit
PTSD pandemi COVID-19

Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . Waktu baca 4 menit
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit