6 Faktor Risiko Depresi yang Paling Umum dan Harus Anda Waspadai

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 06/09/2018 . 3 menit baca
Bagikan sekarang

Depresi bisa dialami oleh siapa pun di usia berapa pun. Sayangnya, tidak ada penyebab pasti dari depresi. Namun para ahli kesehatan jiwa sedunia sepakat bahwa ada beragam faktor yang bisa memengaruhi risiko seseorang mengalami depresi. Beberapa di antaranya bahkan tidak selalu bisa dicegah. Lantas, apa saja faktor risiko yang paling umum dari depresi?

Faktor risiko penyebab depresi yang paling umum

Depresi kemungkinan besar muncul sebagai hasil dari kombinasi rumit dari berbagai faktor yang meliputi:

1. Ketidakseimbangan zat kimia otak

Depresi bisa terjadi akibat ketidakseimbangan zat kimia dalam otak yang menyebabkan kadar serotonin jadi sangat sedikit. Serotonin adalah senyawa yang bertanggung jawab untuk mengatur emosi dan mood. 

Kadar serotonin yang tinggi identik dengan perasaan bahagia dan sejahtera. Itu kenapa tingkat serotonin yang rendah umumnya dikaitkan dengan gejala depresi. Jenis depresi ini dikenal sebagai depresi klinis.

2. Perubahan hormon

Perubahan keseimbangan hormon juga bisa jadi penyebab depresi. Wanita dua kali lipat lebih rentan terkena depresi karena perubahan hormon yang terjadi selama hidupnya, seperti saat menstruasi (PMDD), kehamilan, melahirkan (depresi pascamelahirkan), dan perimenopause. Biasanya, risiko depresi pada wanita akan menurun setelah lewat usia menopause.

Masalah keseimbangan hormon akibat penyakit tiroid juga dapat memicu munculnya gejala depresi, baik pada perempuan atau laki-laki.

3. Kejadian traumatis di masa lalu

Pengalaman buruk di masa lalu seperti pelecehan seksual, kematian orang tercinta, atau perceraian orangtua, bisa berkembang menjadi trauma yang terbawa seumur hidup dan memicu gejala depresi. Begitu pula dengan stres berat yang terkait dengan kejadian di masa sekarang, misalnya kebangkrutan akibat masalah finansial atau putus cinta.

Ketika seseorang terlalu terpukul dan tubuh serta pikirannya tidak mampu beradaptasi dengan tekanan tersebut, maka risiko mengalami depresi akan semakin tinggi.

4. Memiliki penyakit kronis

Pada kebanyakan kasus, stres dan rasa sakit yang berkelanjutan dari penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, atau kanker, dapat menjadi penyebab depresi berat.

Maka itu, saat sedang sakit, dukungan orang sekitar sangat diperlukan untuk menurunkan risiko depresi.

5. Kecanduan minum alkohol

Alkohol adalah zat depresan kuat yang bekerja menekan susunan saraf pusat otak. Kecanduan alkohol lama-lama dapat merusak fungsi otak, terutama menyebabkan kerja hipotalamus otak terhambat. Hipotalamus adalah bagian otak yang bertanggung jawab mengatur emosi dan suasana hati si pemilik tubuh.

6. Kekurangan zat gizi

Kekurangan vitamin dan mineral tertentu dapat memicu gejala depresi. Misalnya, kekurangan omega 3. Omega -3 berperan mencegah kerusakan otak dan diketahui mencegah risiko depresi.

Selain itu, pola makan tinggi gula juga bisa memicu seseorang mengalami depresi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Stres dan depresi tidak sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Maka jika penanganannya keliru, depresi bisa berakibat fatal. Cari tahu, yuk!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 26/05/2020 . 6 menit baca

6 Perubahan Gaya Hidup untuk Anda yang Sering Depresi

Hidup dengan depresi memang tidak mudah, namun berikut adalah perubahan kecil untuk gaya hidup Anda yang bisa bantu mengurangi gejalanya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Hidup Sehat, Psikologi 15/02/2020 . 4 menit baca

Masalah Psikologis Transgender: Depresi hingga Penyalahgunaan Obat

Transgender adalah salah satu kelompok yang paling rentan mengalami masalah psikologis akibat tekanan sosial. Apa saja contohnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Psikologi 14/02/2020 . 5 menit baca

Komplikasi Osteoporosis yang Perlu Diwaspadai (Plus Cara Mencegahnya)

Sama seperti penyakit lainnya, osteoporosis bisa menyebabkan berbagai komplikasi. Namun, komplikasi ini bisa dicegah lho. Berikut cara-caranya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Osteoporosis, Health Centers 09/01/2020 . 6 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

sumber stres dalam pernikahan

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 menit baca
pro kontra antidepresan

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18/06/2020 . 5 menit baca
depresi pasca melahirkan ayah

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14/06/2020 . 5 menit baca
perbedaan stres dan depresi, gangguan kecemasan

Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 09/06/2020 . 6 menit baca