Komen yang Merendahkan Perempuan, Dampaknya Besar Secara Psikologis

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 April 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

“Eh, liat deh pakaian cewek itu, paha dipamer-pamerin gitu. Pantes disiulin tukang ojek!”

“Maksudnya apa coba nge-post foto seksi gitu? Dasar cewek gatel.”

“Perempuan kok tingkahnya murah. Pasti banyak yang ‘pake’ deh.”

Komen merendahkan seperti ini terdengar familiar di telinga Anda?

Anda mungkin bertanya-tanya apa yang membuat persoalan ini begitu layak diangkat menjadi sebuah topik pembicaraan. Lagipula, apa salahnya, sih, sedikit berkomentar nyinyir? Apalagi kita tumbuh besar di tengah masyarakat yang hobi mempreteli “kecacatan” orang lain sebagai pembenaran untuk menjadi yang paling suci. Tunggu dulu. Dampaknya bisa fatal, lho!

Standar ganda merugikan korban kekerasan seksual

Kita sering mencoba untuk mengajarkan sesama agar menjunjung nilai dan moral pribadi. Ironisnya, kita juga berada di tengah masyarakat yang memperdagangkan seksualitas wanita. Menurut anggapan masyarakat, wanita yang sensual dan bertubuh seksi adalah tipe wanita idaman.

Namun jika Anda memenuhi kriteria ini, Anda malah akan merisikokan diri sendiri untuk dipermalukan dan dihakimi. Jika seorang perempuan dianggap “terlalu seksi” dan merenggut terlalu banyak perhatian, ia bakal dicap sebagai wanita yang melanggar kodrat, murahan, tidak suci, vulgar, hingga bahkan pelacur.

Di sisi lain, para lelaki yang memamerkan perut sixpack maskulin dan punya “portofolio” petualangan seks lengkap justru akan dipuja-puji atas pencapaiannya. Ini adalah esensi dari standar ganda.

Kaum Adam diharapkan untuk menginginkan dan mendapatkan seks tanpa dibatasi, sementara perempuan hanya diizinkan terlibat dalam aktivitas seksual ketika itu melibatkan cinta “sejati” atau pernikahan sah.

Pakaian terbuka bukan berarti undangan seks gratis

Alih-alih mengajarkan untuk menanamkan rasa hormat pada setiap orang, tubuh perempuan dipukul rata sebagai obyek pengundang nafsu birahi.

Ketika melihat berita perkosaan yang mendeskripsikan detail pakaian korban, beberapa dari kita mungkin otomatis jadi berpikir, “Salah sendiri jalan sendirian malem-malem pake baju begitu? Pantes aja diperkosa.” Hampir semua orang pernah melontarkannya, atau setidaknya pernah terbersit dalam benak mereka.

Tak jarang argumen memojokkan serupa juga dipergunakan oleh aparat penegak hukum dalam memproses kasus kekerasan wanita.

Ini kemudian makin menegaskan asumsi kolot bahwa perempuanlah satu-satunya pihak yang harusnya disalahkan atas “nasib” mereka sendiri. Hal ini juga semakin mewajarkan tindak kekerasan seksual yang terjadi di tengah masyarakat.

Dilansir dari Your Tango, penelitian profesor Raquel Bergen dari St. Joseph University tentang kekerasan terhadap perempuan mengungkapkan bahwa orang di sekitar cenderung untuk enggan menolong wanita yang mengenakan pakaian terbuka.

Menurut masyarakat, wanita yang berpakaian terbuka tidak lagi memiliki nilai dan martabat yang sama dengan wanita “sopan” pada umumnya sehingga ia tidak lagi berhak terhadap akses terkait perlindungan hak asasi manusia dasar, seperti keadilan. Ini memengaruhi semua perempuan tanpa pandang bulu, dari anak sekolah hingga wanita dewasa.

Komentar nyinyir sama dengan bullying

nyinyir adalah

Perempuan diharapkan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya, tapi juga terus dipojokkan ketika ia mewujudkannya dengan mulai aktif secara seksual, memiliki figur tubuh indah, atau dari cara berpakaian yang tidak sesuai “norma”.

Dengan kata lain, budaya suka komentar seksis mengajarkan kita untuk mempermalukan, menghina, atau merendahkan martabat perempuan yang ingin bebas menjelajahi identitas dirinya. Termasuk dari cara berpakaian dan perilaku tertentu sebagai ekspresi diri mereka.

Ini sebenarnya sama dengan upaya pelecehan pada siapapun yang menjadi buntut perkara. Tidak ubahnya tindak bullying yang bisa mengakibatkan kerugian serius pada kejiwaan seseorang.

Apa dampaknya pada mental wanita?

Pernah dengar peribahasa “pena lebih tajam daripada pedang” atau “mulutmu harimaumu”? Kira-kira begitulah prinsipnya. Jika luka fisik bisa disembuhkan, lain ceritanya dengan luka batin yang diterima dari pedasnya mulut warganet.

Perempuan yang berulang kali menjadi obyek komentar merendahkan kerap diselimuti oleh rasa bersalah, malu, tidak berharga, dan sakit hati sehingga luka ini dapat terwujud menjadi sebuah kepribadian diri yang sama sekali baru.

Wanita yang kerap menjadi buntut dari cemoohan seksis kerap mengalami goncangan jiwa berat yang menyebabkan trauma sampai kehilangan kepercayaan diri, isolasi diri, gangguan makan, trauma, kebencian terhadap diri sendiri, hingga depresi atau penyakit kejiwaan lain yang bisa dialami bahkan seumur hidup.

Maka, tak jarang banyak dari wanita-wanita korban bullying tersembunyi lama kelamaan merasa bahwa ia memang pantas diperlakukan demikian. Dalam hal ini disakiti, direndahkan, atau bahkan dieksploitasi secara seksual.

Victim-blaming dapat berakibat fatal

Konsekuensi dari upaya bullying misoginistik serta komentar seksis terhadap perempuan tak hanya mengorbankan kesejahteraan emosionalnya saja. Tidak sedikit pula wanita korban kekerasan yang sampai kehilangan pekerjaannya dari tindakan “main hakim sendiri” ini.

Pada kebanyakan kasus, upaya victim-blaming justru berakhir fatal — seperti bunuh diri. Dilansir dari Liputan 6 News, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan sekitar 40 persen anak remaja Indonesia meninggal karena bunuh diri akibat tak tahan menjadi korban bullying.

Seorang perempuan remaja berinisial ES asal Medan, ditemukan tewas setelah menenggak racun rumput karena ia tak sanggup menanggung aib sebagai korban perkosaan sementara kasusnya diremehkan oleh kepolisian, seperti yang dilaporkan Tribun News.

Sementara itu, laporan dari Pojok Satu menyebutkan seorang perempuan belia korban perkosaan asal Deliserdang juga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya lantaran pihak kepolisian memaksanya untuk berdamai dan menikah dengan si pelaku.

Stop nyinyirin korban kekerasan seksual!

Pelajaran yang bisa dipetik dalam hal ini adalah untuk berpikir seribu kali sebelum Anda menghardik atau melontarkan komentar merendahkan berdasarkan apa yang mereka kenakan atau cara mereka bertindak.

Seksisme dan budaya misoginistik adalah masalah nyata yang perlu diberantas habis. Perilaku ini bisa memiliki konsekuensi merugikan yang bersifat abadi bagi perempuan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Perkembangan Anak Usia 13 Tahun, Bagaimana Tahapan yang Sesuai?

    Pada usia 13 tahun, anak akan mengalami tahapan perkembangan baru yang meliputi fisik, kognitif, psikologi, dan bahasa. Apa saja yang dialami anak saat itu?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Remaja, Tumbuh Kembang Remaja, Parenting 19 September 2020 . Waktu baca 8 menit

    Penyebab Gangguan Makan pada Remaja dan Cara Mengatasinya

    Takut gemuk dan anggapan body goals adalah yang tinggi, kurus, dan langsing kerap jadi penyebab gangguan atau penyimpangan makan pada remaja.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Remaja, Kesehatan Mental Remaja, Parenting 19 September 2020 . Waktu baca 10 menit

    Normalkah Jika Darah Haid Saya Berwarna Cokelat?

    Meski pada umumnya darah menstruasi berwarna merah pekat, ada beberapa warna darah haid yang perlu Anda waspadai. Ini mungkin berisiko pada kesehatan Anda

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Hidup Sehat, Fakta Unik 10 September 2020 . Waktu baca 6 menit

    Ketagihan Mie Instan? Ini 6 Trik Jitu Mengatasinya

    Bagi Anda yang ketagihan mie instan, sekadar diingatkan apa bahaya kebanyakan mie instan saja tak akan mempan. Lebih baik coba pakai cara ampuh ini!

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 28 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    melihat bullying

    5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit
    minum antidepresan saat hamil

    Minum Antidepresan Saat Hamil, Boleh Atau Tidak?

    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    pikiran bunuh diri karena depresi positif covid-19

    Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit
    mencium spidol

    Meski “Wangi”, Hobi Menghirup Aroma Spidol Bisa Membahayakan Kesehatan

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit