Apakah Anda Orang yang Pasif Agresif? Ini Ciri-cirinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Istilah pasif agresif mungkin asing di telinga Anda, tetapi pola perilaku ini sering ditemui sehari-hari. Dalam hidup Anda, Anda pasti mengenal paling tidak satu orang yang pasif agresif. Bisa juga ternyata Anda sendirilah yang memiliki kecenderungan tersebut. Pasif agresif adalah cara seseorang untuk menyampaikan kekecewaan atau rasa marah secara tersirat, alias tidak langsung. Biasanya sikap ini didorong oleh rasa takut atau enggan untuk mengungkapkan emosi negatif secara langsung.

Pasif agresif biasanya ditandai dengan memendam emosi negatif sehingga emosi yang dipendam tersebut akan secara tidak sadar terungkap lewat tindakan atau kata-kata Anda. Atau Anda sering merasa bahwa orang lain tidak bisa memahami dan menuruti keinginan Anda tetapi Anda tak bisa marah. Pada akhirnya Anda hanya akan mendiamkan orang tersebut sampai orang itu menyadari kesalahan apa yang dibuatnya. Merasa bahwa hal tersebut sering Anda alami? Baca terus penjelasan di bawah ini untuk mengecek apakah Anda termasuk orang yang pasif agresif serta cara mengubah perilaku tersebut.

Ciri-ciri orang yang pasif agresif

Meskipun cukup banyak orang yang pasif agresif, sifat ini tak mudah dikenali begitu saja. Pada kebanyakan kasus, orang yang pasif agresif justru tidak akan menyadari atau mungkin menyangkal bahwa dirinya memiliki kecenderungan tersebut. Maka, perhatikan baik-baik ciri-ciri dan contoh perilaku pasif agresif berikut ini. Jika Anda merasa bahwa kebanyakan tanda yang disebutkan sesuai dengan kondisi Anda, bisa jadi Anda adalah orang yang pasif agresif.

  • Mengambek dan merajuk saat kesal
  • Memendam emosi supaya bisa menghindari konflik
  • Tidak suka bicara secara lugas
  • Sering menggunakan sindiran atau sarkasme
  • Mengakhiri argumen atau pertengkaran dengan kata-kata seperti, “Terserah,”, “Ya udah,” atau “Ok, fine!
  • Selalu berpikiran negatif dan sinis
  • Tidak percaya diri
  • Sering mengeluh bahwa dirinya tak dihargai atau selalu dicurangi
  • Cenderung menyalahkan keadaan atau orang lain saat melakukan kesalahan
  • Berat hati jika disuruh atau dimintai tolong
  • Dengan sengaja melupakan, menunda-nunda, atau tidak menyelesaikan suatu pekerjaan dengan maksimal jika keberatan dengan pekerjaan yang dilakukan
  • Berharap bahwa orang lain bisa memahami isi pikiran dan perasaan Anda

Mengubah perilaku pasif agresif

Pasif agresif adalah sebuah pola perilaku yang dipelajari dan dikembangkan sendiri, bukan diwarisi secara genetik. Maka, siapa pun bisa mengubah perilaku tersebut jika memang memiliki motivasi yang kuat. Biasanya perilaku ini muncul perlahan-lahan sejak Anda masih kecil. Jika anak tumbuh dengan ancaman atau hukuman setiap kali ia menunjukkan emosi negatif, ia pun akan belajar untuk memendam emosi tersebut dan secara naluriah menghindari pertengkaran. Namun, perilaku ini juga bisa muncul apabila seseorang tak pernah belajar untuk mengutarakan pendapat atau perasaannya secara terbuka. Bisa jadi karena kurang komunikasi yang terbuka dengan orangtua dan pengasuhnya atau karena anak diajari bahwa amarah adalah sebuah emosi yang tidak bisa diterima. Berikut adalah lima kunci utama yang harus dikuasai orang yang pasif agresif supaya bisa mengendalikan kecenderungan tersebut.  

1. Mencari tahu penyebab perilaku Anda  

Dengan mengetahui apa yang menyebabkan perilaku pasif agresif Anda, Anda akan menyadari dan menerima bahwa sifat tersebut tidak akan menguntungkan siapa pun. Mempertahankan sifat tersebut sama saja memancing masalah dengan orang-orang di sekitar Anda. Misalnya, Anda mulai berperilaku pasif agresif karena dulu orang tua Anda juga bersikap demikian. Dari situ, Anda belajar bahwa sifat tersebut justru menyebabkan kerenggangan di antara hubungan Anda dan orangtua. Supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama, Anda akan jadi lebih terdorong untuk mengubah sifat Anda saat ini.

2. Memahami polanya

Sifat pasif agresif pasti muncul setiap ada pemicunya. Maka, pahami benar-benar pola perilaku Anda. Hal ini bisa dilakukan dengan rutin menulis buku harian sehingga Anda bisa melihat kembali kejadian tertentu dengan pandangan yang lebih objektif. Lama-lama Anda akan hafal apa saja pemicu sifat pasif agresif Anda. Pengalaman dan pengetahuan tersebut akan kemudian menjadi acuan ketika emosi negatif mulai melanda. Jika Anda sudah merasakan tanda-tanda pasif agresif dalam kata-kata atau tindakan Anda, tahan diri dan paksa diri untuk berpikir ulang sebelum terlambat.

3. Berpikir sebelum bertindak

Triknya adalah dengan menggunakan logika. Misalnya, Anda kesal karena pasangan Anda sudah makan duluan sebelum menjemput Anda. Sebelum mulai merajuk dan mendiamkan pasangan, pikir-pikir dulu. Apakah tadi Anda mengajaknya makan? Atau Anda berharap bahwa dia sudah tahu Anda ingin makan bersama? Tanamkan dalam benak bahwa orang lain tak akan pernah bisa memenuhi keinginan Anda jika Anda tak pernah menyampaikan secara langsung apa yang Anda mau.

Logika tersebut tampaknya sederhana, tetapi jika sedang dilanda emosi biasanya susah untuk berpikir dengan jernih. Supaya lebih mudah, ciptakan sendiri mantra khusus dalam melatih kebiasaan berpikir sebelum bertindak. Misalnya, ingat-ingat bahwa bukan tugas orang lain untuk membaca pikiran Anda, tapi Anda sendiri yang harus mengungkapkannya.  

4. Belajar untuk menerima emosi yang bergejolak

Orang yang pasif agresif kesulitan untuk mengelola emosi negatif seperti duka, kekecewaan, atau amarah. Itulah sebabnya Anda lebih memilih untuk tidak menunjukkannya secara langsung. Maka, Anda harus belajar untuk memahami bahwa emosi negatif adalah sesuatu yang wajar, baik untuk dirasakan maupun diungkapkan. Tak ada orang yang sempurna di dunia ini, sehingga marah atau sedih bisa dialami siapa pun. Jika kesulitan untuk memproses emosi tersebut, Anda bisa mencurahkan isi hati pada sahabat yang Anda percaya atau mencari bantuan profesional seperti konselor dan psikolog.

5. Jujur dalam mengutarakan maksud dan perasaan Anda

Biasakan untuk bersikap jujur dan terbuka setiap kali Anda merasakan emosi tertentu. Meskipun keterbukaan berisiko menyebabkan pertengkaran atau konflik, paling tidak saat bertengkar Anda bisa saling berkomunikasi dan mengutarakan maksud masing-masing secara lebih jelas. Dengan begitu, penyelesaian masalah pun jadi lebih mudah daripada jika Anda diam saja dan berharap orang lain bisa berubah sesuai ekspektasi Anda. Lagipula, tak semua pertengkaran itu buruk, kok.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

    Kenikmatan kopi sudah tidak diragukan. Namun, tahukan Anda ada beberapa cara membuat kopi yang dapat menjadikan manfaatnya lebih baik untuk kesehatan.

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hidup Sehat, Tips Sehat 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

    Kenapa Ada Orang yang Mengalami Alergi Bawang Putih dan Bisakah Diobati?

    Selain alergi susu dan kacang, ada juga alergi bawang putih. Apa penyebabnya dan adakah cara mengatasinya? Simak penjelasan berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Alergi, Alergi Makanan 20 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

    4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

    Anda suka nekat makan daging ayam belum matang? Awas, akibatnya bisa fatal. Ini dia berbagai bahaya dan ciri-ciri daging ayam yang belum dimasak sempurna.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

    MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    KDRT konflik rumah tangga

    Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    tips menghindari perceraian

    7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
    masalah seks pada pria

    5 Masalah Seks yang Paling Mengganggu Pria (Plus Cara Mengatasinya)

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    pekerjaan rumah tangga saat hamil

    Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit