Apa Itu Antisosial dan Apa Bedanya Dengan Asosial?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/01/2020
Bagikan sekarang

“Ansos” adalah akronim modern yang dipopulerkan oleh kalangan muda Indonesia, yang berasal dari kepanjangan “antisosial”. Istilah ini sering digunakan untuk orang-orang yang dianggap penyendiri, tidak punya teman, dan “nggak gaul”.

Banyak orang yang masih salah paham dalam mengartikan atau menggunakan istilah ini hingga mengaburkan makna sesungguhnya. Pergeseran makna akibat pengaruh budaya modern ini menjadikan “ansos” dan “antisosial” dinilai terlalu kasual dan acap kali disamakan dengan asosial.

Antisosial tidak sama dengan introvert

Ciri kepribadian introvert sering diasumsikan sebagai sifat pemalu, fobia sosial, atau bahkan menghindar dari situasi sosial. Namun jangan salah. Banyak introvert yang bisa bersosialisasi dengan mudah; mereka hanya lebih nyaman jika sedang tidak bersosialisasi.

Saat bersosialisasi, sinyal yang dikirimkan amigdala dan neucleus accumbens (bagian otak yang terkait dengan rasa gembira dan sistem penghargaan) dalam otak orang introvert tidak akan menyala seaktif otak orang ekstrovert. Akibatnya, jika orang ekstrovert merasa bahagia saat sedang bersosialisasi, orang introvert tidak merasakan hal ini.

Orang introvert juga cenderung lebih banyak menggunakan lobus frontalis, yaitu bagian otak yang bertugas merencanakan, memikirkan penyelesaian masalah, serta mengingat. Seseorang yang introvert bukannya takut dengan aktivitas sosial, tapi mungkin terlihat demikian karena mereka cenderung memproses sesuatu secara internal dan berpikir terlebih dulu sebelum bicara.

Singkatnya, ansos dengan introvert adalah dua istilah dalam dunia psikologi yang sama sekali berlawanan.

Penting untuk memahami bahwa intovert hanyalah ragam tipe kepribadian, dan sama sekali bukan gangguan kepribadian. Ini merupakan hasil bentukan dari berbagai macam faktor, baik internal maupun eksternal.

Jadi, antisosial itu apa?

Gangguan kepribadian adalah sebuah kondisi yang terbentuk dari pengalaman pribadi dan perilaku menyimpang, biasanya gejala awal terlihat di usia remaja atau dewasa muda, bersifat stabil dari waktu ke waktu, dan mengarah pada penderitaan atau kecacatan personal.

Gangguan kepribadian merupakan kondisi kesehatan mental serius yang memengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasakan, menerima gagasan, atau berhubungan dengan orang lain.

Gangguan kepribadian antisosial ditandai dengan pola perilaku yang eksploitatif, penuh tipu muslihat, mengabaikan hukum, melanggar hak orang lain, serta kasar (cenderung kriminal), tanpa motif yang jelas atau logis. Orang yang mengidap gangguan antisosial akan memiliki riwayat masalah perilaku pada masa kanak-kanak, seperti membolos, melanggar norma (misalnya, melakukan kejahatan atau penyalahgunaan zat), dan perilaku merusak atau agresif lainnya.

Tingkat keparahan gejala antisosial dapat bervariasi. Pola perilaku yang terlihat sangat berbahaya, kejam, dan mengerikan mengacu pada gangguan psikopatik atau sosiopatik. Masih terdapat banyak perdebatan mengenai keakuratan deskripsi dari keduanya, namun perilaku sosiopatik ditandai oleh hati nurani yang cacat; tahu benar dan salah tapi mereka mengabaikannya. Sementara seorang psikopat ditandai dengan minimnya nurani (atau, tidak ada sama sekali).

Karena kecenderungan manipulatif ini, akan sulit bagi orang awam untuk bisa membedakan mana yang jujur atau tidak dari setiap perkataan mereka.

Apa bedanya antisosial dengan asosial?

Di sisi lain, asosial adalah disfungsi kepribadian yang ditandai dengan menarik diri dan menghindar secara sukarela terhadap interaksi sosial apapun. Seorang asosial cenderung tidak mempedulikan orang lain, kadang kasar.

Asosial berbeda dari perilaku antisosial, di mana antisosial menyiratkan perilaku membenci orang lain atau antagonisme terhadap orang lain maupun tatanan sosial umum. Sifat asosial sering terlihat pada beberapa orang introvert, namun asosialitas yang ekstrem biasanya timbul pada orang-orang yang mengalami berbagai kondisi klinis tertentu, seperti gangguan bipolar, autisme, skizofrenia, depresi, sindrom Asperger, dan social anxiety disorder.

BACA JUGA:

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"

    Yang juga perlu Anda baca

    Kesehatan Mental Karyawan Kena PHK Karena Pandemi COVID-19

    PHK secara tiba-tiba karena COVID-19 berpotensi menimbulkan masalah bagi para karyawan, terutama pada kesehatan mental mereka.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Coronavirus, COVID-19 15/04/2020

    Bagaimana Atlet Menjaga Fisik dan Mental Selama Pandemi COVID-19?

    Saat pandemi COVID-19 semua kejuaraan olahraga harus tertunda, ini bisa mempengaruhi performa, kesehatan fisik, dan kesehatan mental para atlet.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Coronavirus, COVID-19 14/04/2020

    Kepribadian Seseorang Bisa Berubah, Benarkah?

    Kemungkinan kepribadian bisa berubah atau tidak, mungkin ditentukan dari pengalaman hidupnya. Namun apakah benar kepribadian bisa berubah seutuhnya?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Maria Amanda

    Pentingnya Kecerdasan Emosional di Tempat Kerja

    Pentingnya kecerdasan emosional saat bekeja dapat mempengaruhi kemapuan Anda dalam menjaga hubungan sesama teman kerja hingga kesuksesan dalam berkarir.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Roby Rizki

    Direkomendasikan untuk Anda

    crab mentality adalah

    Crab Mentality, Sindrom Psikologis yang Menghambat Orang Lain untuk Sukses

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020
    marah saat lapar

    Kenapa Kita Mudah Marah Saat Sedang Lapar?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Dipublikasikan tanggal: 10/05/2020
    pentingnya support system

    5 Alasan Pentingnya Punya Tim Support System untuk Kesehatan Mental

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 07/05/2020
    Manfaat yoga bridge pose

    Manfaat Rutin Melakukan Yoga Bridge Pose pada Fisik dan Mental

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 06/05/2020