Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Mengenal 5 Jenis Koyo dan Fungsinya yang Berbeda-beda

    Mengenal 5 Jenis Koyo dan Fungsinya yang Berbeda-beda

    Banyak orang memilih menggunakan obat tempel atau koyo untuk meminimalisir efek samping dari pengobatan secara oral ataupun suntikan. Nah, jika selama ini orang hanya mengetahui koyo sebagai obat untuk pegal-pegal dan nyeri otot, ternyata koyo memiliki beragam jenis yang disesuaikan dengan kegunaannya, loh! Simak penjelasan mengenai jenis koyo dan kegunaannya dalam artikel ini.

    Apa itu koyo?

    Koyo atau bahasa medisnya disebut dengan transdermal patch adalah jenis obat luar yang ditempelkan di atas permukaan kulit pasien untuk membantu mengobati masalah medis tertentu. Koyo dibuat dari berbagai macam bahan kimia obat yang dirancang sedemikian rupa sehingga obat tersebut bisa meresap ke kulit. Kandungan obat diserap melalu lapisan luar kulit lalu masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam. Di lapisan kulit terdalam tersebut obat diserap ke dalam aliran darah yang kemudian diedarkan melalui tubuh.

    Sebagian masyarakat Indonesia umumnya hanya mengetahui jenis koyo untuk menghilangkan pegal-pegal, nyeri otot, ataupun persendian pada tubuh. Padahal jenis koyo itu beragam. Di dunia medis, dokter menggunakan koyo untuk mengobati beberapa kondisi medis tertentu, apabila tidak memungkinkan untuk memberikan obat oral ataupun suntikan pada pasien.

    Menurut Johns Hopkins Medicine, koyo bisa membantu mencegah efek samping seperti gangguan gastrointestinal – sistem pencernaan, dan perdarahan internal yang terkadang diakibatkan akibat meminum obat pil.

    Mengenal jenis koyo dan kegunaannya

    Berikut ini beberapa jenis koyo dalam dunia medis beserta kegunaanya:

    1. Analgetik topikal

    Beragam obat over-the-counter (OTC) tersedia di pasaran untuk menghilangkan rasa sakit pada beberapa kondisi. Umumnya, orang mengetahui koyo jenis ini untuk mengatasi pegal-pegal dan cedera pada tulang dan otot. Cara kerja koyo plester ini dengan membawa obat anti radang (Non-steroid anti-inflammatory drugs/NSAID) langsung ke area yang sakit. Dengan demikian, efek anti radang pun dapat dirasakan dengan segera tanpa memengaruhi organ tubuh lainnya.

    2. Nicotine patch

    Nicotine patch adalah koyo yang digunakan untuk membantu orang untuk berhenti merokok. Kandungan bahan kimia di dalam koyo ini memberikan jumlah nikotin yang lambat dan stabil ke aliran darah, sehingga mencegah pasien untuk menghisap rokok. Tujuan pengobatan ini adalah agar membuat pasien berhenti menggunakan nikotin sama sekali.

    Beberapa orang yang mencoba berhenti merokok menggunakan koyo nikotin mengaku merasakan perawatan yang lebih bersahabat ketimbang harus mengonsumsi permen karet atau pelega tenggorokan.

    3. Nitrogliserin patch

    Jenis koyo ini digunakan oleh orang yang mengalami angina, yaitu nyeri dada yang disebabkan karena pembuluh darah menyempit di jantung (penyakit arteri koroner). Nah, fungsi koyo nitrogliserin ini untuk melemaskan pembuluh darah tersebut sehingga jantung mendapat lebih banyak darah dan lebih banyak oksigen. Patch nitrogliserin dapat mencegah nyeri angina, namun tidak digunakan untuk mengobati nyeri dada. Koyo ini biasanya dipakai selama 12 – 14 jam sehari.

    4. Fentanyl patch

    Fentanyl patch marupakan koyo yang mengandung narkotika kuat dan hanya digunakan untuk mengobati rasa sakit kronis. Koyo ini bekerja melalui sistem saraf pusat untuk memberikan penghilang rasa sakit jangka panjang. Karena mengandung narkotika yang kuat, fentanyl bisa menjadi adiktif. Itu sebabnya, pengobatan menggunakan koyo ini hanya tersedia dengan resep dokter yang harus terus dipantau dalam penggunaannya.

    5. Lidocaine patch

    Menurut American Cancer Society, lidocaine patches adalah jenis koyo anestesi lokal yang biasanya digunakan dokter untuk mengobati kesemutan dan rasa sakit yang menyengat seperti terbakar. Misalnya, rasa sakit yang mungkin Anda alami jika mengalami kondisi saraf yang mengalami peradangan atau biasa disebut dengan istilah ruam. Sebelum menggunakan jenis koyo ini, hal yang harus diperhatikan adalah lindocaine patch dapat berinteraksi dengan obat lain, terutama jika Anda memang sedang mengonsumsi obat jantung. Tidak hanya itu, wanita hamil juga harus menghindari menggunakan jenis koyo ini.


    Pernah alami gangguan menstruasi?

    Gabung bersama Komunitas Kesehatan Wanita dan dapatkan berbagai tips menarik di sini.


    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    What Kind Of Pain Patches Are There? – http://www.livestrong.com/article/282266-what-kind-of-pain-patches-are-there/ diakes pada 19 Juni 2017

    What Are The Different Type Of Pain Management Patches? – http://www.wisegeekhealth.com/what-are-the-different-types-of-pain-management-patches.htm diakses pada 19 Juni 2017

    Using Skin Patch Medicines Safely – http://www.poison.org/articles/2012-aug/using-skin-patch-medicines-safely diakses pada 19 Juni 2017

    Mathews, Leya, et al. (2016). Management of Pain Using Transdermal Patches Review. Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research. [Offline]  Diakses pada 19 Juni 2017

    Fentanyl Transdermal Patch – https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a601202.html diakses pada 20 Juni 2017

    How to Apply Transdermal Patch – http://www.healthline.com/health/general-use/how-to-use-transdermal-patch#introduction1 diakses pada 20 Juni 2017

    Nicotine Patch – https://www.drugs.com/cdi/nicotine-patch.html diakses pada 20 Juni 2017

    Nitroglycerin Transdermal Patch – https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a601085.html diakses pada 20 Juni 2017

    Lidocaine Transdermal Patch – https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a603026.html diakses pada 20 Juni 2017

    Transdermal Drug Delivery in Pain Management – http://www.medscape.com/viewarticle/739204_4 diakses pada 20 Juni 2017

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Risky Candra Swari Diperbarui Sep 05, 2017
    Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri
    Next article: