Main Boneka di Usia Lanjut Ternyata Bisa Bantu Atasi Penyakit Pikun

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21/06/2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang
Artikel ini berisi:

Boneka sangat identik sebagai koleksi atau mainan anak perempuan. Bukan sekadar menghibur, main boneka memiliki segudang manfaat, terutama dalam mendukung tumbuh kembang anak. Ternyata, manfaatnya juga berdampak pada lansia, khususnya untuk menangani pasien Alzheimer atau demensia. Bagaimana boneka bisa mengatasi gejala alzheimer?

Sekilas mengenai penyakit alzheimer

Penyakit Alzheimer adalah kondisi penurunan fungsi otak, khususnya dalam daya ingat dan kemampuan untuk berpikir, berkomunikasi, atau membuat penilaian sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Penyakit ini biasanya banyak terjadi pada orang yang berusia 65 tahun atau lebih.

Seiring berkembangnya penyakit, daya ingat yang semakin buruk membuat pasien Alzheimer sulit untuk mengenali keluarga. Sebagian besar pasien juga memiliki kondisi fisik lain sehingga memerlukan bantuan orang-orang di sekitarnya dalam beraktivitas maupun untuk merawat diri mereka sendiri.

Walaupun tidak bisa disembuhkan, gejala Alzheimer masih bisa dikelola dengan pengobatan dan terapi. Namun, perawatan untuk pasien tidak sembarangan diberikan. Perawatan harus disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien, seberapa parah penyakit, seberapa ampuh obat bekerja, dan adakah pengasuh atau orang memang fokus untuk merawatnya.

Main boneka bantu atasi gejala Alzheimer atau demensia

Terapi yang sedang dikembangkan untuk mengatasi gejala alzheimer adalah terapi boneka. Di berbagai negara maju, rumah perawatan untuk lansia dengan Alzheimer telah menggunakan cara ini untuk menenangkan pasien. Faktanya, boneka yang biasanya menjadi mainan anak-anak ini diyakini memberikan efek yang baik pada orang dengan alzheimer.

Dilansir dari WebMD, Ruth Drew, direktur informasi, layanan dan dukungan untuk Alzheimer’s Association berkata, “Banyak orang dengan Alzheimer merasa bosan dan mungkin menjadi depresi, gelisah, atau tidak bahagia karena mereka tidak terlibat dalam banyak kegiatan”.

mengatasi gejala alzheimer

Bagaimana boneka diyakini bisa membantu mengurangi gejala Alzheimer?

Boneka inilah yang bisa memperbaiki suasana hati pasien, menenangkan mereka dari kegelisahan, dan memberi rasa persahabatan di saat pasien merasa terisolasi dengan orang di sekitar yang sulit untuk diingatnya.

Kemudian, bermain boneka juga membuat lansia yang tidak dapat berpartisipasi dalam banyak kegiatan merasa dibutuhkan dan berguna karena bertanggung jawab dalam merawat boneka. Apalagi boneka juga mengurangi rasa kesepian pasien dengan membawa kembali kenangan indah para pasien saat menjadi orangtua.

Sayangnya, penelitian yang mendukung hal ini masih sangat terbatas.  Hanya pasien wanita yang bisa melakukannya, dan ada pula yang tidak setuju dengan terapi boneka ini. Keluarga pasien merasa khawatir dengan bagaimana tanggapan orang disekitarnya. Mereka merasa bahwa boneka adalah mainan untuk anak-anak sehingga tidak cocok untuk dijadikan terapi untuk pasien yang usianya sudah sangat tua.

Selain itu, kemungkinan lain dari terapi boneka juga bisa memperburuk kondisi pasien. Misalnya saja pasien yang sudah sangat terikat dengan boneka akan mengalami kecemasan ketika bonekanya rusak atau tidak berada di sampingnya.

Jadi, mereka lebih memilih untuk meningkatkan fungsi otak dan meringankan gejala alzheimer dengan seni dan musik sebagai terapi. Bahkan masih banyak kegiatan lain yang bisa dijadikan terapi, seperti berkebun, menari, atau memelihara binatang kesayangan.

Namun, Drew tidak melarang bila pasien tetap ingin melakukan terapi boneka. Selama boneka bisa memberikan kenyamanan pada pasien. Terlebih, cara ini termasuk aman untuk meningkatkan kualitas hidup orang dengan Alzheimer, meskipun penelitian yang ada tidak menunjukkan bukti yang kuat. Yang terpenting adalah peran keluarga untuk selalu mendukung dan berada di samping pasien Alzheimer.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pikun Tidak Selalu Gejala Alzheimer: 3 Hal Ini Mungkin Penyebabnya

Selain Alzheimer, ada banyak hal yang bisa menjadi penyebab pikun meski usia Anda belum senja. Misalnya karena hobi begadang atau habis operasi jantung.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Fakta Unik 13/02/2019 . 4 mins read

5 Solusi Saat Orang dengan Demensia Menolak Minum Obat

Ada kalanya orang yang mengidap demensia menolak minum obat. Jangan panik dulu, ini cara yang bisa Anda lakukan untuk membujuknya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Hidup Sehat, Perawatan Lansia 20/01/2019 . 4 mins read

Apakah Alzheimer Dapat Disebabkan Oleh Infeksi Bakteri di Otak?

Hingga kini penyebab penyakit Alzheimer sebenarnya masih jadi misteri. Namun katanya, infeksi kuman dan bakteri di otak mungkin saja jadi dalangnya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Fakta Unik 16/12/2018 . 4 mins read

6 Tips Manjur Agar Pengidap Demensia Selalu Ingat Jadwal Minum Obat

Rutin minum obat merupakan salah satu kunci penting dalam pengobatan demensia. Demi memudahkan Anda, jajal beberapa cara ini supaya tidak lupa minum obat!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 05/12/2018 . 5 mins read

Direkomendasikan untuk Anda

Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 4 mins read
perbedaan demensia dengan delirium dan depresi

Kenali Perbedaan Demensia dengan Delirium dan Depresi

Ditulis oleh: dr. Alfonsa Angwarmase
Dipublikasikan tanggal: 09/03/2020 . 6 mins read
demensia berpikir negataif main game mendeteksi demensia

Faktanya, Main Game di Ponsel Bisa Bantu Mendeteksi Demensia Lho!

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/11/2019 . 3 mins read
detak jantung tidak teratur

Waspada, Detak Jantung Tidak Teratur Dapat Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2019 . 3 mins read