Cara Mengurangi Paparan Merkuri dari Seafood dan Ikan Laut

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Apakah Anda dan keluarga suka makan ikan laut atau makanan laut lain seperti udang, kepiting, cumi-cumi, dan lain-lainnya? Jika iya, maka Anda harus berhati-hati dengan zat kimiawi yang mungkin saja terdapat dalam seafood yang Anda makan. Salah satu zat yang paling berbahaya baik tubuh adalah merkuri.

Apa itu merkuri?

Merkuri adalah zat kimia yang merupakan hasil buangan dari berbagai aktivitas manusia, seperti pembakaran, pertanian, dan limbah dari pabrik-pabrik yang menggunakan merkuri. Limbah rumah tangga maupun limbah dari pabrik, biasanya dibuang ke sungai dan berakhir pada laut. Di dalam air, merkuri berubah menjadi zat yang disebut dengan metilmerkuri. Kemudian metilmerkuri berikatan dengan protein yang ada pada otot ikan

Jika Anda mengonsumsi ikan atau seafood yang mengandung merkuri, maka merkuri tersebut juga akan termakan dan menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan. Merkuri yang termakan itu akan terakumulasi di dalam tubuh, bahkan dapat mempengaruhi ASI pada ibu yang sedang menyusui. Jumlah metilmerkuri yang sudah terakumulasi tersebut dapat menjadi racun bagi sistem saraf yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan bahkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin yang ibunya mengonsumsi ikan yang terkontaminasi merkuri.

Apakah semua ikan laut mengandung merkuri?

Sebenarnya, hampir semua ikan maupun sumber makanan laut lainnya telah terkontaminasi merkuri. Namun, pada dasarnya seafood merupakan sumber makanan yang baik dan tinggi protein serta berbagai zat gizi lain seperti zat mineral, lemak tak jenuh, dan asam lemak omega-3. Untuk orang yang sehat, mengonsumsi ikan laut atau seafood  yang terkontaminasi merkuri tidak akan menimbulkan masalah. Contohnya saja di Amerika, diketahui bahwa orang yang sering mengonsumsi ikan laut memiliki kadar merkuri dalam darah yang dianggap aman, yaitu kurang dari 5,8 mcg per liter.

Sebuah penelitian pernah memberitakan bahwa terdapat orang yang mengonsumsi sushi dua kali dalam sehari selama satu dekade, yang kemudian merasakan gejala seperti mati rasa di beberapa bagian tubuh dan gangguan keseimbangan serta koordinasi, ternyata memiliki kadar merkuri sebanyak 72 mcg per liter di dalam darahnya, di mana angka tersebut 12 kali lebih tinggi dibandingkan dengan batas aman yang telah ditentukan. Semakin banyak makan ikan atau makanan laut yang terkontaminasi merkuri, maka semakin banyak jumlah merkuri yang terkumpul dalam darah. Oleh karena itu, perlu diperhatikan kelompok usia yang sangat rentan dengan dampak dari kontaminasi merkuri. Salah satunya adalah bayi dan janin dalam kandungan, karena merkuri dapat ,engganggu pertumbuhan serta perkembangan sistem saraf anak.

Siapa saja yang harus rentan terkena dampak kandungan merkuri dari seafood?

Food and Drug Administration (FDA) dan Environmental Protection Agency (EPA) menganjurkan untuk mengurangi konsumsi berbagai sumber makanan dari laut untuk beberapa kelompok yang rentan terhadap merkuri, seperti:

Kelompok  tersebut sangat rentan terhadap merkuri, karena itu mereka tidak boleh mengonsumsi ikan yang mengandung merkuri tinggi dan hanya boleh mengonsumsi makanan laut yang rendah merkuri beberapa kali dalam seminggu.

Amannya, seberapa sering kita boleh makan seafood?

Proses menyiapkan serta memasak makanan laut tidak akan bisa menurunkan kadar merkuri yang ada di dalam makanan tersebut. Oleh karena itu, Anda harus mengetahui jenis ikan apa yang rendah merkuri dan tidak berbahaya bagi tubuh. Berikut adalah tips untuk mengonsumsi seafood yang aman:

  • Untuk seafood yang mengandung merkuri tinggi, yaitu ikan hiu, ikan makarel raja, ikan tuna bigeye, ikan todak atau pedang, ikan tuna sirip kuning, lebih baik jenis ikan-ikan ini dihindari. Apalagi untuk kelompok yang rentan akan merkuri, tidak dianjurkan untuk mengonsumsi ikan tersebut.
  • Konsumsi maksimal 340 gram dalam satu minggu. Ikan yang boleh dikonsumsi sebanyak 340 gram atau sekitar dua porsi per minggu adalah, ikan salmon, udang, ikan sarden, ikan tuna kaleng, ikan pollock, ikan anchovies, ikan trout, dan ikan herrin.
  • Konsumsi maksimal 170 gram atau satu porsi per minggu. Untuk menghindari keracunan merkuri, maka dianjurkan untuk mengonsumsi ikan sebanyak 170 gram dalam satu minggu, kecuali ikan yang sudah diketahui memiliki merkuri tinggi.

Jika Anda sudah mengonsumsi satu jenis ikan atau makanan laut sebanyak satu porsi dalam satu minggu, sebaiknya tidak mengonsumsi sumber makanan laut jenis lainnya di minggu yang sama. Namun, konsumsi makanan laut melebihi jumlah yang dianjurkan dalam satu minggu sebenarnya tidak akan langsung mengubah kadar metilmerkuri di dalam tubuh. Anjuran tersebut hanya patokan saja porsi yang aman untuk dimakan, Anda bisa saja tidak mengonsumsi seafood pada minggu berikutnya jika telah mengonsumsi banyak seafood pada minggu sebelumnya.

BACA JUGA

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Psoriasis pada Kuku

    Semua bagian tubuh bisa saja terserang psoriasis, termasuk kuku Anda. Simak ulasan lengkap tentang gejala dan perawatan psoriasis kuku dalam artikel ini.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Penyakit Kulit, Psoriasis 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit

    Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

    Hati-hati jika punya riwayat penyakit ginjal kronis atau akut. Komplikasinya bisa merambat sampai otak, disebut dengan ensefalopati uremikum.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Urologi, Ginjal 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

    Lama-lama, seks bisa jadi membosankan. Apakah artinya sudah tak saling cinta lagi? Bisakah hubungan suami istri terasa nikmat seperti dulu lagi?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hidup Sehat, Seks & Asmara 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

    Anda sering melihat bullying tapi tidak tahu harus berbuat apa? Anda ingin menolong korban tapi takut? Cari tahu di sini apa yang harus Anda lakukan!

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Hidup Sehat, Psikologi 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    Seks dengan Lampu Menyala

    6 Alasan Seks Lebih Menyenangkan dengan Lampu Menyala

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    kebugaran jantung

    Cara Mudah Ukur Kebugaran Jantung dan Paru, Tak Perlu Periksa ke Rumah Sakit

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
    Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    pasangan malu berhubungan intim

    6 Tips Membantu Pasangan yang Malu Berhubungan Intim

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    cedera kaki pakai tongkat kruk

    Begini Cara Menggunakan Tongkat Kruk yang Benar Saat Sedang Cedera Kaki

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit