Mengenal Manfaat Diet FODMAP untuk Gangguan Usus Besar

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 November 2017 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Bagi orang yang mengalami gangguan pencernaan di usus besar atau irritable bowel syndrome (IBS), maka gejala yang ia alami akan berlangsung berbulan-bulan bahkan ada yang seumur hidup. Penyakit ini diakibatkan karena usus tidak bisa mencerna makanan dengan baik, sehingga menyebabkan gejala seperti perut kembung, bergas, diare, dan sulit buang air besar. Itu sebabnya, muncul diet FODMAP yang dianggap dapat meringankan gejala orang dengan irritable bowel syndrome. Lantas, apa itu diet FODMAP? Bagaimana diet ini bisa membantu orang dengan IBS?

Apa itu diet FODMAP? Mengapa baik untuk orang dengan IBS?

Diet FODMAP adalah sebenarnya diet yang menganjurkan sesorang untuk menghindari makanan yang mengandung sumber kabohidrat yang struktur kimianya berantai pendek. Sementara, singkatan diet ini diambil dari jenis karbohidrat yang harus dihindari tersebut, yaitu Fermentable Oligo-, Di-, dan Monosaccharides serta poliol.

Para ahli percaya bahwa makanan yang mengandung karbohidrat jenis tersebut akan sulit untuk dicerna oleh usus yang mengalami IBS, sehingga sebaiknya dihindari untuk meringankan gejala. Pasalnya, ketika makanan yang mengandung karbohirat tersebut tidak dicerna dengan baik, maka akan memicu bakteri-bakteri di dalam usus menghasilkan gas yang lebih banyak. Hal ini yang kemudian dapat menimbulkan gejala IBS.

Diet FODMAP ini bahkan telah dibuktikan dalam beberapa studi. Salah satunya studi yang diterbitkan dalam jurnal Gastroenterology, yang menyatakan bahwa 3 dari 4 orang dengan IBS, berhasil meringankan atau bahkan menghilangkan beberapa gejala gangguan pencernaan berkat menerapkan diet ini selama 7 hari atau lebih.

Makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi dalam menjalankan diet FODMAP?

Jenis makanan yang mengandung FODMAP dan sebaiknya dihindari adalah makanan yang mengandung:

  • Laktosa, seperti susu sapi, keju, yogurt, dan berbagai produk susu lainnya.
  • Fruktosa, yang terdapat dalam:
    • Buah-buahan seperti apel, pir, mangga, serta semangka
    • Pemanis buatan
    • Makanan yang mengandung sirup jagung yang tinggi
  • Fruktan, yang terkandung dalam:
    • Sayuran, seperti brokoli, asparagus, bawang-bawangan
    • Berbagai jenis gandum
  • Galaktan, yang ditemui dalam:
    • Kacang-kacangan, seperti kacang merah, kacang kedelai, dan kacang arab
    • Sayuran, seperti brokoli, kembang kol, dan kol
  • Poliol, yang ada dalam:
    • Buah-buahan, seperti aprikot, semangka, dan apel
    • Pemanis buatan yang mengandung sorbitol, manitol, dan xylitol
    • Sayuran, seperti kembang kol dan jamur

Jadi, sebagai gantinya Anda bisa mengonsumsi makanan berikut:

  • Susu yang tidak mengandung laktosa, seperti susu almond, atau produk susu sapi yang tak mengandung laktosa.
  • Buah-buahan seperti pisang, anggur, melon, kiwi, stroberi, dan jeruk
  • Sayuran misalnya sawi, bayam, daun selada, terong, dan mentimun.
  • Protein dari daging sapi, daging ayam, ikan, serta telur
  • Kacang-kacangan yaitu kacang almond, kacang walnut, dan kacang tanah.

Pada dasarnya, makanan yang mengandung FODMAP ini, tidak buruk bagi kesehatan. Semua jenis makanan tersebut memiliki manfaat dan dibutuhkan oleh tubuh. Namun, memang dalam hal ini makanan tersebut dapat memicu tumbuhnya bakteri-bakteri – yang sebenarnya juga tidak buruk bagi kesehatan – yang bisa menghasilkan gas berlebihan di dalam usus.

Bagaimana cara menerapkan diet FODMAP ini?

Dalam menerapkan diet FODMAP, maka ada beberapa tahap yang harus Anda lakukan. Namun, sebelumnya lebih baik Anda konsultasikan dulu pada dokter atau ahli gizi terkait diet yang akan Anda lakukan. Pasalnya, memang tak semua orang akan menunjukkan hasil yang sama jika melakukan diet FODMAP ini. Jadi, ketika Anda akan menerapkan diet FODMAP ini, maka dimulai dari:

  • Tahap eliminasi, pada tahap ini Anda dianjurkan untuk membatasi bahkan menghindari makanan yang mengandung FODMAP selama 3-8 minggu. Di tahap ini juga, Anda diminta untuk melihat apakah gejala yang Anda alami berkurang atau tidak.
  • Tahap pengenalan kembali. Setelah Anda menghindari makanan curigai menyebabkan gejala, maka Anda akan diminta untuk memasukan satu per satu jenis makanan tersebut ke dalam menu Anda kembali. Hal ini dilakukan selama 3-7 hari untuk satu jenis makanan. Dalam tahap ini, akan terlihat makanan yang selama ini jadi pemicu dari gejala IBS Anda.
  • Tahap akhir. Nah, setelah tahu apa yang bisa membuat gejala IBS Anda muncul, maka Anda akan diminta untuk kembali mengonsumsi makanan dengan normal dan hanya membatasi makanan yang menjadi pemicu saja. Selebihnya, Anda dapat tetap menerapkan pola makan yang sebelumnya Anda miliki.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

Anda sering melihat bullying tapi tidak tahu harus berbuat apa? Anda ingin menolong korban tapi takut? Cari tahu di sini apa yang harus Anda lakukan!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Psikologi 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Kencing dengan posisi berdiri kerap dilakukan pria, tapi mereka yang mengidap gangguan saluran kemih justru dilarang. Apa alasannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Urologi, Kandung Kemih 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

Istilah 'dingin sampai menusuk tulang' bisa terjadi pada penderita rematik Nyeri sendi akibat rematik kambuh bisa disebabkan oleh cuaca, bagaimana bisa?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cedera kaki pakai tongkat kruk

Begini Cara Menggunakan Tongkat Kruk yang Benar Saat Sedang Cedera Kaki

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
psoriasis kuku

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Psoriasis pada Kuku

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit
ensefalopati uremikum

Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hubungan suami istri terasa hambar

3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit