Kenapa Kita Harus Berhenti Minum Softdrink

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Minuman ringan alias softdrink saat ini sudah tersedia dalam berbagai varian dan sangat mudah ditemukan. Tidak jarang minuman ringan juga menjadi salah satu menu wajib yang harus ada saat jam makan siang Anda. Contoh minuman ringan yaitu soda, jus kemasan, teh dan kopi kemasan, minuman berenergi, hingga minuman yang diklaim dapat menggantikan elektrolit tubuh. Saat ini penelitian terkait minuman ringan semakin banyak dilakukan, karena ternyata walaupun terlihat sepele dan beberapa bahwa terkesan “sehat”, minuman ringan terutama yang ditambahkan gula, dapat meningkatkan risiko seseorang mengidap penyakit degeneratif.

Beberapa fakta terkait minuman ringan

  • Kurang lebih 11% dari kalori yang Anda konsumsi bisa berasal dari minuman ringan.
  • Setiap 350 ml minuman ringan yang dikonsumsi oleh anak-anak dapat meningkatkan risiko mereka menderita obesitas hingga 60%
  • Pada anak usia satu hingga lima tahun, konsumsi minuman ringan terutama yang bersoda meningkatkan risiko mereka menderita karies gigi sebesar 80-100%.
  • Untuk membakar kalori yang dihasilkan dari satu kaleng soda, dibutuhkan 25 menit berjalan kaki dengan kecepatan sedang.
  • Suatu penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi minuman ringan cenderung memiliki kualitas pola makan yang buruk secara keseluruhan.
  • Mereka yang mengonsumsi minuman ringan secara rutin setidaknya satu kali atau lebih per harinya berisiko menderita diabetes tipe 2 hingga 26% lebih besar jika dibandingkan dengan mereka yang jarang mengonsumsi minuman ringan.
  • Konsumsi satu botol minuman ringan per hari dapat menambah berat badan hingga 11 kg dalam setahun.
  • Berdasarkan penelitian di Amerika, 1 dari 4 orang setidaknya mendapat 200 kalori tambahan dari minuman ringan setiap harinya. Dan 5% orang setidaknya mengonsumsi 567 kalori yang berasal dari minuman ringan, ini setara dengan 4 kaleng soda.

Bahaya minuman ringan untuk kesehatan

Salah satu hal yang layak Anda perhatikan ketika memutuskan mengonsumsi minuman ringan adalah bahan tambahan pangan apa saja yang sudah ditambahkan ke dalam minuman Anda. Pemanis, pewarna, pengawet merupakan beberapa jenis bahan tambahan pangan yang mungkin berada di minuman Anda. Tetapi di antara bahan-bahan tersebut, pemanis adalah yang paling menjadi sorotan jika dikaitkan dengan kesehatan.

Pemanis, baik alami maupun buatan, sama-sama memiliki efek buruk bagi kesehatan Anda. Dan terkadang Anda tidak sadar berapa banyak gula yang Anda konsumsi bersamaan dengan minuman Anda.

Minuman ringan dan obesitas

Konsumsi minuman ringan dapat menyebabkan peningkatan berat badan karena kadar gulanya yang terkadang luput dari perhatian. Sebagai contoh, kebanyakan minuman dalam kemasan ukuran 500 ml memiliki kadar gula 40-50 gram (atau setara dengan 4-5 sendok makan). Menurut Pedoman Gizi Seimbang yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, anjuran konsumsi gula dalam sehari adalah 4 sendok makan. Dengan meminum satu botol minuman ringan, Anda sudah menggunakan jatah konsumsi gula Anda dalam sehari dan sekaligus menambah asupan kalori Anda sekitar 150-200 kalori. Penambahan kalori tentunya meningkatkan risiko Anda mengalami kenaikan berat badan.

Mudah sekali untuk mengalami kenaikan berat badan yang diakibatkan oleh minuman ringan, karena Anda tidak sadar Anda sedang mengonsmsi kalori tambahan. Berbeda dengan makanan solid atau padat, di mana Anda cenderung ‘sadar’ bahwa Anda sedang mengonsumsi sesuatu. Sebagai perbandingan, satu botol minuman ringan bisa memiliki jumlah kalori yang sama dengan 100 gram nasi putih, atau 100 gram daging segar tanpa lemak. Ketiga jenis pangan tersebut mengandung kalori yang sama, kurang lebih 150-200 kalori.

Minuman ringan dan diabetes

Selain kegemukan, diabetes tipe 2 juga merupakan salah satu jenis penyakit yang sering dikaitkan dengan minuman ringan. Suatu penelitian terkait kesehatan, The Nurses’ Health Study meneliti 90.000 orang wanita selama 8 tahun. Berdasarkan penelitian ini, mereka yang setidaknya mengonsumsi satu atau lebih minuman ringan yang mengandung tambahan gula memiliki risiko dua kali lipat lebih besar mengidap diabetes tipe 2 di masa depan dibanding yang jarang mengonsumsi minuman ringan. Penelitian lain yaitu Framingham Heart Study juga menemukan mereka yang mengonsumsi satu atau lebih minuman ringan, akan berisiko mengalami kesulitan dalam mengatur kadar gula darah serta 50% lebih mungkin mengidap sindrom metabolik.

Alternatif minuman ringan

  • Pilihlah air mineral. Air mineral tidak mengandung kalori dan sudah pasti dapat menghilangkan rasa haus Anda.
  • Jika Anda bosan dengan air mineral yang tidak ada rasanya, maka Anda bisa menambahkan perasan buah (seperti lemon atau jeruk) ke dalam air mineral Anda.
  • Jika Anda ingin mengonsumsi minuman ringan, pilihlah jenis minuman yang rendah kalori atau rendah gula. Perhatikan juga kadar gula per sajiannya.
  • Anda bisa mencoba infused water, campurkan irisan buah ke dalam botol minuman Anda dan taruh di dalam kulkas, Anda akan mendapatkan minuman segar berperisa buah dan nyaris tanpa kalori.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

Istilah 'dingin sampai menusuk tulang' bisa terjadi pada penderita rematik Nyeri sendi akibat rematik kambuh bisa disebabkan oleh cuaca, bagaimana bisa?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

Hati-hati jika Anda sering minum obat penghilang nyeri, seperti paracetamol. Efek samping paracetamol berlebihan dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Alergi Paracetamol

Paracetamol sering diresepkan untuk merdakan demam dan nyeri. Tapi tahukah Anda bahwa ada orang yang alergi obat paracetamol?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ensefalopati uremikum

Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hubungan suami istri terasa hambar

3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
melihat bullying

5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit
kencing berdiri

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit