Skin Care Alami Belum Tentu Aman, Ini Alasannya Menurut Ahli

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/11/2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Ramai-ramai orang beralih menggunakan skin care alami karena diyakini lebih sehat dan tidak memiliki efek samping seperti produk kecantikan dengan formulasi kimia. Kerja skin care alami juga dipercaya lebih ramah di kulit dan minim risiko terhadap sensitivitas kulit. Namun, benarkah demikian?

Kandungan alami dalam skin care tak sepenuhnya aman

Buah-buahan bahan skin care alami

Maraknya penggunaan skin care alami sekarang ini turut dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Survei yang dilakukan oleh Green Beauty Barometer mendapati 74% dari wanita berusia 18 sampai 34 tahun menganggap membeli produk kecantikan berbahan alami begitu penting. Pendapat paling umum yang beredar adalah produk berbahan alami memiliki kandungan yang lebih aman dibandingkan produk kimia.

Sayangnya, tak selamanya kandungan bahan alami menjadi alternatif yang lebih aman dan menyehatkan. Menurut Carla Burns, dermatologis dari Environmental Working Group (EWG), kandungan seperti lumpur yang kerap ada dalam produk kecantikan bisa saja terkontaminasi oleh racun yang berasal dari bahan logam.

Serupa dengan lumpur, ekstrak tumbuh-tumbuhan dalam minyak atsiri juga bisa berperan sebagai alergen, alias pemicu munculnya alergi tertentu.

Di samping itu, Joel DeKoven dari North American Contact Dermatitis Group memperingatkan penggunaan label alami yang kerap kali justru menyesatkan.

Banyak produk skin care alami yang menggunakan arsenik, tanaman rambat seperti poison ivy, dan jamur beracun.

Meski berasal dari alam, ketiganya memiliki toksin yang berbahaya bagi kulit bahkan mengancam keselamatan jiwa.

Skin care alami belum tentu seratus persen alami

Produk skin care alami

Penggunaan skin care alami memang tengah menjadi tren. Akan tetapi, pemanfaatan bahan-bahan yang berasal dari alam untuk perawatan tubuh manusia sebenarnya bukan sesuatu baru.

Jauh sebelum ditemukannya produk kecantikan kimia, tumbuh-tumbuhan untuk perawatan kulit juga telah banyak dipakai seperti untuk kosmetik atau sabun.

Persoalannya, belum dapat dipastikan apakah produk-produk skin care berlabel natural benar-benar terbuat dari bahan-bahan yang 100% alami.

Dalam hal ini, regulasi yang dilakukan lembaga pengawas obat dan kosmetik memiliki peranan signifikan. Di Amerika Serikat sendiri, FDA tidak mengeluarkan sertifikasi resmi untuk memvalidasi keaslian skin care alami.

Sejauh ini, departemen pertanian AS-lah yang berhak mengeluarkan sertifikat organik pada produk perawatan yang menggunakan bahan-bahan hasil pertanian dan tidak dimodifikasi secara genetik. Skin care organik juga masih terbatas pada produk yang tidak diolah menggunakan pestisida.

Sementara regulasi produk kosmetik dan perawatan kulit yang diatur BPOM Indonesia masih berfokus terhadap izin edar produksi dan belum mengarah spesifik pada sertifikasi komponen alami.

Meskipun kadar bahan alaminya tinggi, kepala peneliti dari Personal Care Products Council, Alexandra Kowcz menyangsikan menyatakan bahwa setiap skin care alami tidak melalui proses pengolahan yang alami pula.

Menurutnya, bahan alami asli mudah sekali hancur sehingga umumnya diperlukan campuran bahan sintetik, misalnya pengawet, agar tetap stabil.

Yang alami belum tentu yang terbaik

Krim organik salah satu jenis skin care alami

Minimnya bukti pengujian medis belum bisa memastikan bahwa skin care alami dapat efektif memperbaiki kualitas kulit. Jadi, bisa saja produk perawatan kulit sintetis alias buatan dengan bahan kimialah yang memberikan hasil lebih optimal.

Istilah sintetik memang kerap dikonotasikan secara negatif, tapi bukan berarti tidak aman.

Banyak bahan kimia yang digunakan pada skin care tidak berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Namun produk yang menggunakan pengawet sintesis seperti paraben dan methylisothiazolinone sebaiknya dihindari, karena dapat menyebabkan gangguan endokrin dan dermatitis.

Pada akhirnya terlepas mana yang lebih baik antara skin care alami atau sintetik, yang terpenting adalah memastikan setiap kandungannya aman bagi kulit Anda. Untuk memahani komponen alami dan kimia yang terdapat pada produk perawatan dan proses produksinya, Anda bisa mengecek  secara langsung di situs Cek Produk BPOM atau di EWG VERIFIED™.

Agar lebih yakin, Anda mungkin bisa berkonsultasi dengan dokter kulit Anda untuk mendapatkan jawaban yang lebih pasti.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Saja Produk Skincare yang Anda Butuhkan Saat Puasa?

Kulit wajah harus dirawat setiap hari termasuk di bulan Ramadan. Agar kulit tidak kering dan bermasalah, ini produk skincare di bulan puasa untuk Anda!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Hari Raya, Ramadan 07/05/2020 . Waktu baca 4 menit

5 Langkah Wujudkan Kulit Bening Bercahaya ala Glass Skin

Glass skin adalah tren kecantikan kulit bening bercahaya berasal dari Korea Selatan. Bagaimana langkah perawatan kulit untuk mendapatkannya?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Perawatan Kulit, Hidup Sehat, Kecantikan 03/05/2020 . Waktu baca 4 menit

7 Kesalahan yang Membuat Kulit Rentan Rusak Selama Bulan Puasa

Apabila tidak dijaga dengan baik, kulit wajah Anda bisa menjadi kurang nutrisi sampai rusak saat puasa. Ketahui beberapa penyebabnya di bawah ini!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Hari Raya, Ramadan 02/05/2020 . Waktu baca 4 menit

Mana yang Lebih Baik: Eksfoliasi Pakai Chemical Peeling atau Scrub?

Mungkin Anda bingung lebih baik pilih chemical peeling atau scrub untuk perawatan kulit. Ternyata perawatan kulit perlu menyesuaikan kondisi kulit Anda.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Perawatan Kulit, Hidup Sehat 26/03/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

skin fasting adalah

Menilik Skin Fasting, Tren ‘Puasa’ Skincare agar Kulit Lebih Cantik

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 28/06/2020 . Waktu baca 5 menit
jerawat gara-gara kacamata

Cara Mencegah Masalah Jerawat Gara-gara Pemakaian Kacamata

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 22/05/2020 . Waktu baca 4 menit
Skin care dengan asam aktif

Manfaat dan Cara Aman Pakai Skin Care yang Mengandung Asam Aktif

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 08/05/2020 . Waktu baca 4 menit
perbedaan hydrating dan moisturizing

Apa Bedanya Skincare yang Hydrating dan Moisturizing untuk Kulit Anda?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 08/05/2020 . Waktu baca 4 menit