Makanan yang Jatuh “Belum 5 Menit”, Benarkah Masih Aman Dimakan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Kita semua pernah melakukannya — menjatuhkan makanan ke lantai, buru-buru memungutnya, lap sana-sini sedikit, lalu lanjut memakannya. Sementara beberapa orang dengan sangat tegas menolak untuk memasukkan makanan apapun yang sudah terjatuh ke lantai, seberapapun lamanya.

Sebagian besar masyarakat Indonesia pasti sudah akrab dengan prinsip “mumpung belum lima menit, masih boleh dimakan”. Mitos “belum lima menit” ini berpendapat bahwa jika sepotong makanan hanya menghabiskan waktu beberapa detik di lantai, kotoran dan kuman tidak memiliki cukup waktu untuk mencemari makanan tersebut.

Dari mana awal mula prinsip “belum lima menit” ini?

Jillian Clarke, seorang siswa magang di laboratorium mikrobiologi di University of Illinois, adalah orang pertama yang menyelidiki mitos urban ini secara ilmiah pada tahun 2003. Clarke beserta tim penelitinya menanamkan koloni bakteri E. coli — penyebab sakit perut, diare, dan muntah — pada dua jenis media: ubin kasar dan halus. Kemudian, ia menempatkan sebuah permen jelly dan kue kering pada kedua jenis ubin tersebut selama lima detik. Hasilnya, bakteri E.coli berpindah dari lantai yang halus ke makanan tersebut dalam waktu lima detik, bahkan bisa lebih cepat lagi pada jenis permukaan ubin yang halus.

Namun, yang tidak diperhitungkan dari penelitian ini adalah lantai laboratorium memang sangat bersih dan steril — layaknya laboratorium lain pada umumnya — dan tidak dilakukan pada kondisi lantai yang basah, karpet, atau menggunakan jenis makanan yang lain, misalnya permen karet atau es krim. Clarke berpendapat bahwa keadaan lantai yang kering tidak memungkinkan bagi banyak patogen, seperti salmonella, listeria, atau E.coli untuk hidup, karena bakteri membutuhkan kelembapan untuk bisa berkembang biak.

Makanan yang jatuh ke lantai ubin dan yang jatuh ke karpet

Dilansir dari The Guardian, sebuah studi tahun 2007 milik Paul Dawson, seorang profesor teknologi makanan di Clemson University, menemukan bahwa tingkat kekotoran lantai adalah faktor yang lebih penting dibanding seberapa lamanya sepotong makanan teronggok di lantai. Menggunakan sepotong roti dan seiris daging asap, ia menunjukkan bahwa lebih baik untuk menjatuhkan makanan di lantai berkarpet — yang sudah lebih dulu ditanami koloni salmonella — di mana hanya terjadi kurang dari 1% kontaminasi bakteri, daripada di permukaan ubin atau lantai kayu, yang menunjukkan 70% kontaminasi bakteri pada makanan.

Sebuah studi lainnya dari Aston University, dikutip dari CNN, menemukan bahwa, sesaat begitu makanan menyentuh permukaan lantai, makanan tersebut akan langsung terkontaminasi — terutama pada permukaan yang halus — tetapi jumlah bakteri dalam makanan akan bertambah sepuluh kali lipat setelah 3-30 detik teronggok di lantai.

Ronald Cutler, profesor mikrobiologis dari University of London, dilansir dari NHS, berpendapat bahwa prinsip “belum lima menit” memiliki sedikit dampak pada jumlah bakteri di makanan Anda dari permukaan lantai yang tercemar berat. Menurut hasil penelitiannya, setiap makanan yang diuji — di berbagai jenis permukaan dengan berbagai jenis koloni bakteri dan jangka waktu berbeda — sama tercemarnya. Lebih lanjut ia menyarankan, tidak peduli di lantai atau di karpet, begitu makanan terjatuh, sebaiknya buang saja.

Jadi, bolehkah memakan makanan yang jatuh “belum lima menit”?

Dari sudut pandang keamanan pangan, jika Anda memiliki jutaan sel mikroorganisme di sebuah permukaan, 0,1%-nya saja cukup untuk membuat Anda sakit. Selain itu, beberapa tipe bakteri tergolong sangat ganas, dan hanya sejentik kecil bisa membuat Anda sakit. Misalnya, 10 sel atau kurang dari spesies E. coli tertentu bisa menyebabkan sakit parah dan kematian pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.

Namun, bakteri ada di mana-mana, bahkan saat Anda menyapu dan mengepel lantai dengan bersih. Kuman dan bakteri tidak hanya menempel di tanah untuk menunggu kesempatan untuk hinggap ke makanan yang jatuh, berbanding terbalik dari kepercayaan masyarakat selama ini. Pada satu waktu, ada lebih dari sembilan ribu mikroorganisme dari spesies berbeda yang bersembunyi di setiap debu dalam rumah kita, termasuk 7,000 jenis bakteri berbeda, dilansir dari BBC. Sebagian besar dari mereka termasuk jinak.

Kuman dan bakteri juga ada di sekujur tubuh kita, setiap waktu. Manusia terus menerus merontokkan bakteri melalui kulit mati dan udara yang kita hirup. Peneliti bahkan menemukan bahwa rata-rata manusia memproduksi sekitar 38 juta sel bakteri ke lingkungan sekitar setiap jamnya.

Jika Anda termasuk yang tidak beruntung memiliki lantai rumah yang penuh dengan koloni bakteri ganas, besar kemungkinan bakteri ini juga ditemukan pada dinding atau pegangan pintu rumah Anda. Satu studi terbitan tahun 2006 menemukan bahwa ada lebih sedikit risiko terhadap paparan salmonella dalam lima detik daripada satu menit, akan tetapi risiko itu tetap masih ada. Walaupun sebenarnya sangat rendah kemungkinannya bagi bakteri ganas ini terombang-ambing menempel di permukaan umum rumah tangga.

Dengan kata lain, saat Anda mempertimbangkan untuk memungut makanan yang terjatuh dengan alasan “mumpung belum lima menit”, ambil saja. Walaupun begitu, anak-anak kecil dan golongan lanjut usia tidak direkomendasikan untuk mengikuti prinsip ini, karena sistem imun tubuh mereka mungkin tidak bisa melindungi mereka bahkan dari sedikit saja paparan bakteri.

Jika permukaan lantai sangat kotor, atau Anda tidak yakin, maka prinsip ini bisa tidak berlaku atas dasar naluri jijik dan kekotoran. Tetapi, peluang Anda untuk sakit akibat memakan makanan yang jatuh di lantai tergolong sangat kecil.

Anda tetap bisa terjangkit penyakit dari bakteri kapanpun dan dengan dengan cara apapun, terlepas dari apakah Anda memakan makanan yang baru saja dipungut dari lantai. Tidak ada penghalang ajaib antara tubuh Anda dengan dunia bakteri, sehingga bahkan kebersihan pribadi yang ketat pun tidak akan menjamin Anda terbebas dari bakteri.

Yang penting untuk diingat, penyakit akibat kontaminasi bakteri bisa dihindari dengan memelihara kebersihan pribadi, misalnya rajin cuci tangan, membersihkan rumah, dan menyiapkan dan memasak bahan makanan dengan baik.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Masalah bau badan tak sedap bikin kurang pede? Tenang, dua bahan alami ini bisa membantu mengurangi bau badan ketika deodoran saja tidak mempan.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

6 Kesalahan Saat Olahraga Lari yang Wajib Dihindari

Berlari tidak boleh sembarangan. Ada sejumlah kesalahan saat lari yang patut dihindari supaya waktu berolahraga Anda tak terbuang sia-sia.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Olahraga Kardio, Kebugaran 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

polip hidung

Penyebab dan Cara Ampuh Mengatasi Hidung Tersumbat Alias Mampet

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
mencium bau

Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit