Lebih Sehat Mana, Gula Batu atau Gula Pasir?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Terdaftarnya gula menjadi salah satu bahan dari daftar sembako Indonesia, menandakan bahwa masyarakat memang tidak bisa lepas dari gula. Seperti yang diketahui, tubuh yang kebanyakan gula dapat menyebabkan diabetes atau bahkan obesitas.

Selain itu, sekarang digadang-gadang kalau gula batu dikatakan lebih sehat daripada gula pasir yang biasa dikonsumsi. Benarkah demikian? Mari simak penjelasannya di bawah ini

Apa itu gula batu? Bagaimana cara pembuatannya?

Gula yang bentuknya seperti batu ini, didapatkan dari proses kristalisasi larutan gula cair. Bahan yang digunakan untuk membentuk gula batu merupakan larutan gula cair jenuh. Larutan tersebut kemudian dikristalisasi sehingga kemudian menghasilkan gula yang keras layaknya batu. Proses ini hanya mengubah bentuknya, tapi tidak sampai mengubah kandungannya. Kalaupun ada perbedaan kandungan gula, selisihnya hanya 0,21%.

Apa gula batu lebih sehat dari gula pasir?

Mengenai kandungan nutrisinya, karena berasal dari bahan dan kandungan yang sama, maka kandungan nutrisi yang dikandung gula batu hampir sama dengan gula pasir, yaitu jenis gula sukrosa. Dalam 100 gram gula pasir misalnya, terdapat karbohidrat sebanyak 99,98 gram. Sementara dalam 100 gram gula batu, karbohidratnya ada dalam jumlah 99,70 gram.

Melihat angka yang tidak jauh berbeda tersebut, terbukti bahwa gula batu tidak lebih sehat dari pada gula pasir. Jika ingin dibandingkan mana yang lebih sehat untuk penderita diabetes, keduanya masih berbahaya jika dikonsumsi dengan takaran banyak, dan masih dibutuhkan penelitian serta bukti akurat lebih lanjutnya.

Jadi gula batu sama saja bahayanya dengan konsumsi gula pasir

Sebagaimana yang disarankan WHO, konsumsi gula yang aman bagi kesehatan tubuh yaitu maksimal 50 gram, atau setara dengan 4 sendok makan setiap harinya. Jika ingin mendapat manfaat tambahan, maka jumlah yang harus dibatasi adalah setengahnya atau 25 gram saja setiap hari. Jika ditelisik dari kandungan nutrisi gula batu di atas, nyatanya sama dengan kandungan gula pasir. Yang mana jika dikonsumsi dalam takaran berlebih, juga dapat menjadi pemicu diabetes.

Beberapa bahan pengganti gula pasir atau gula batu yang lebih sehat

Mengingat ada beberapa jenis gula yang kalau dikonsumsi berlebihan tidak baik, Anda masih bisa menikmati rasa manis tanpa harus melonjaknya kada gula darah Anda. Ada beberapa alternatif lain pengganti gula yang masih aman dikonsumsi. Berikut 2 pengganti gula yang aman untuk dikonsumsi para penderita diabetes ataupun obesitas:

1. Stevia

Stevia adalah pemanis alami yang terbuat dari daun tanaman stevia (Stevia rebaudiana Bertoni). Tanaman ini aslinya dari Paraguay, dan kebanyakan ditanam di di Brasil. Stevia atau steviol glikosida adalah pemanis yang punya rasa 250-300 kali lebih manis daripada gula sukrosa, bentuknya bisa dalam bentuk cair atau bubuk. Pemanis jenis ini tidak memiliki dan memiliki indeks glikemik nol, dan sering digunakan sebagai bahan asupan makan bagi mereka yang sedang diet.  

2. Madu

Madu adalah cairan manis alami yang terbuat dari nektar bunga dan dikumpulkan oleh lebah madu. Kandungan madu terdiri dari 80% gula alami, 18% air dan 2% mineral, vitamin, tepung sari dan protein. Madu sedikit lebih tinggi banyak kandungan nutrisi dan kalori dibanding gula pasir atau gula batu.

Dalam 100 gram madu murni murni setara rata-rata menghasilkan 330 kalori energi dan 81g karbohidrat. Masih lebih rendah jika dibandingkan dengan 100 gram gula pasir biasa yang mengandung 400 kalori.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Umur Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Disunat?

Momen anak disunat menjadi salah satu hal penting, khususnya di Indonesia. Tapi, dari sisi medis, kapan waktu yang tepat untuk melakukan sunat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 07/07/2020 . Waktu baca 4 menit

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Banyak gejala penyakit yang sering kali kita abaikan karena terkesan remeh. Padahal, jika dibiarkan justru efeknya bisa fatal.

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Khasiat Mujarab Kacang Almond untuk Penderita Hipertensi

Camilan yang gurih memang menggoda. Namun, sebaiknya mulai ganti camilan Anda dengan kacang almond, terutama untuk penderita hipertensi.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hipertensi, Health Centers 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Apakah Anda Termasuk Orang yang Cukup Bersih? Cek Dulu di Sini!

Selama ini Anda sudah mahir menjaga kebersihan diri atau belum? Ini dia tips-tips supaya tubuh selalu bersih dan bebas dari penyakit.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Tips Sehat 22/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kode wadah plastik pada makanan atau minuman

Apakah Wadah Plastik untuk Makanan Anda Aman Bagi Kesehatan? Cari Tahu Lewat Kode Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat bersepeda

Yuk, Ketahui Beragam Manfaat Bersepeda Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit
kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit