Obat Ranitidine Mengandung Zat Pemicu Kanker, Masih Boleh Digunakan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/12/2019 . 4 mins read
Bagikan sekarang

Munculnya masalah perut kembung, mual, dan nyeri akibat masalah lambung pasti sangat mengganggu. Untungnya, kondisi ini bisa diatasi dengan obat yang bisa Anda beli di apotek, salah satunya ranitidine. Namun, baru-baru ini badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat, FDA, melaporkan bahwa ranitidine kemungkinan mengandung zat pemicu kanker. Benarkah? Cari tahu lebih lanjut pada ulasan berikut.

Benarkah ranitidine mengandung zat pemicu kanker?

Ranitidine adalah kelompok obat histamin-2 blocker yang biasanya digunakan untuk mengobati GERD (gastroesophageal reflux disease). Ini adalah kondisi naiknya asam lambung hingga ke kerongkongan.

Obat ini bekerja dengan mengurangi jumlah asam yang dihasilkan lambung.

Meskipun cukup ampuh untuk mengobati refluks asam lambung, baru-baru ini temuan FDA melaporkan bahwa ranitidine mengandung zat pemicu kanker.

FDA telah menemukan adanya zat NDMA (N-Nitrosodimethylamine) dalam obat ranitidine.

NDMA adalah cairan tidak berbau yang biasanya digunakan untuk bahan bahan bakar roket. Biasanya, kadar tinggi NDMA dapat ditemukan pada air, tanah, bahkan udara di area sekitar pembuatan bahan bakar roket.

Zat ini dapat mencemari lingkungan bahkan ada pada makanan, termasuk daging, produk susu, atau sayuran.

FDA menyebutkan bahwa NDMA masuk dalam deretan zat yang kemungkinan bersifat karsinogenik (penyebab kanker) pada manusia.

Sebelumnya, FDA telah menemukan bahwa NDMA juga ditemukan dalam obat hipertensi dan gagal jantung. Beberapa obat yang memiliki kadar NDMA tinggi telah ditarik dari pasaran dan tidak boleh digunakan lagi sejak Juli 2019 lalu. Lantas, bagaimana dengan obat ranitidine yang mengandung zat kanker?

Hasil penelitian yang ditemukan oleh FDA adalah kandungan NDMA pada ranitidine cukup rendah. Namun, penelitian lebih lanjut sedang dilakukan untuk melihat apakah kadar rendah NDMA pada ranitidine menimbulkan risiko yang berbahaya bagi kesehatan atau tidak.

Efek NDMA pada kesehatan selain kanker

metastasis kanker

Menurut CDC, tikus sehat yang diberikan makanan atau minuman yang terkontaminasi NDMA selama beberapa minggu, terkena kanker hati dan paru, serta kerusakan hati. Kemungkinan besar, zat ini memengaruhi sel tubuh yang sehat dan fungsi hati.

Selain itu, tikus hamil yang diberi makanan yang terkontaminasi NDMA juga mengalami kematian. Meskipun belum jelas efeknya pada manusia, penggunaan tikus sebagai bahan penelitian memungkinkan adanya kesamaan efek. Pasalnya, tikus diketahui memiliki karakteristik biologis, genetik, dan perilaku yang mirip dengan manusia.

Apa yang harus saya lakukan?

pergi ke dokter kandungan

Pemberitaan FDA mengenai ranitidine yang mengandung zat kanker tentu menimbulkan kekhawatiran, terlebih jika Anda memiliki GERD.

FDA sendiri masih meneliti lebih jauh efek dari kadar NDMA dalam jumlah rendah yang ditemukan dalam ranitidine bagi kesehatan.

Meski begitu, setelah melakukan beberapa kali uji sampel, BPOM RI dalam laman resminya (11/10) memutuskan untuk memerintahkan penarikan seluruh produk ranitidine yang ada di pasar sebagai upaya kehati-hatian melindungi kesehatan masyarakat Indonesia.

Para pelaku di industri farmasi juga diminta menghentikan sementara produksi dan distribusi obat yang mengandung ranitidine.

Apabila Anda memang sedang menjalani pengobatan dengan ranitidine, konsultasikanlah dengan dokter Anda untuk mendapatkan obat penggantinya.

Menurut Linda Nguyen, seorang ahli gastroenterologi di Stanford Health Care, terdapat beberapa obat lain yang memiliki fungsi sama dengan ranitidine, yakni famotidine atau cimetidine. Keduanya berada dalam golongan obat yang sama. Meski begitu, jangan mengganti obat tanpa persetujuan dokter.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berapa Lama Harapan Hidup Pasien Kanker Paru?

Kanker paru biasanya baru terdiagnosis ketika sudah memasuki stadium akhir. Masih bisakah disembuhkan? Berapa lama harapan hidup pasien kanker paru?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kanker Paru, Health Centers 13/02/2020 . 4 mins read

Apa Itu Kanker Hati?

DefinisiApa itu penyakit kanker hati? Kanker hati adalah karsinoma paling umum pada sel hati, yaitu tumor utama yang tumbuh di hati dan bukan disebabkan oleh penyebaran dari organ lain dalam tubuh. Hati adalah ...

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 16/01/2020 . 12 mins read

Apa Itu Kanker Paru?

DefinisiApa itu kanker paru? Kanker paru – dalam hal ini kanker paru primer – adalah tumor ganas yang berasal dari epitel bronkos/karsinoma bronkos adalah kondisi ketika sel-sel jaringan di paru-paru ...

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 16/01/2020 . 10 mins read

Bahaya Kesehatan yang Mengintai di Balik Lezatnya Kol Goreng

Kol goreng kini menjadi favorit bagi banyak orang karena cita rasanya amat menggugah selera. Namun, inilah beragam bahaya dari mengonsumsi kol goreng.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Nutrisi, Hidup Sehat 13/01/2020 . 3 mins read

Direkomendasikan untuk Anda

kanker-muncul-kembali

4 Penyebab Kanker Kembali Lagi Setelah Sembuh

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 21/06/2020 . 6 mins read
kista saat hamil di usia tua

Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 mins read
kanker usus besar

Kanker Usus Besar

Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 13/04/2020 . 7 mins read
pengobatan kanker ginjal

Berbagai Pilihan Pengobatan Efektif untuk Kanker Ginjal

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 27/02/2020 . 5 mins read