Memahami Prosedur Flebotomi, yang Dapat Membantu Mengatasi Kondisi Kelainan Darah

Oleh    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Ada banyak penyakit kelainan darah, mulai dari yang paling umum seperti anemia, sampai yang cukup jarang terdengar seperti polisitemia vera. Pengobatan untuk masing-masing kondisi kelainan darah tidak selalu sama, beberapa di antaranya kadang harus menempuh prosedur flebotomi demi memulihkan kondisinya. Ya, flebotomi adalah salah satu jenis prosedur laboratorium yang memang dikhususkan untuk mengobati beberapa penyakit kelainan darah, seperti polisitemia vera. Agar lebih paham, berikut ulasan lengkapnya.

Flebotomi adalah salah satu cara atasi penyakit kelainan darah

Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, phlebotomy atau flebotomi adalah prosedur laboratorium yang dilakukan dengan mengeluarkan sejumlah darah. Jadi, flebotomi dilakukan dengan cara memasukkan jarum ke dalam pembuluh darah vena guna mengeluarkan darah dari dalam tubuh.

Proses ini sebenarnya bisa dilakukan pada bagian tubuh mana pun. Namun biasanya, akan dipilih area lipatan siku karena memiliki ukuran pembuluh darah vena yang cukup besar. Seperti proses pengambilan darah pada umumnya, kulit akan dibersihkan terlebih dahulu dengan cairan antiseptik.

Selanjutnya, jarum berukuran agak besar mulai dimasukkan secara perlahan ke dalam kulit. Ukuran jarum yang dipakai dalam flebotomi cukup besar, sehingga berbeda dengan jarum yang biasanya digunakan untuk mengambil darah dalam jumlah sedikit.

Ukuran jarum yang besar ini bertujuan untuk melindungi komponen sel yang diambil agar tidak mudah hancur dan rusak. Semua prosedur ini dilakukan oleh seorang ahli yang disebut flebotomist atau phlebotomist.

Flebotomist akan membantu mengeluarkan darah di dalam tubuh tergantung dari berat dan tinggi badan Anda. Umumnya, mulai dari 450-500 mililiter (ml) atau bahkan sekitar 1 liter darah, yang akan disesuaikan dengan kondisi tubuh Anda.

Darah yang sengaja dikeluarkan adalah komponen darah yang memang bermasalah. Entah itu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), plasma darah, trombosit (keping darah), atau zat besi sebagai pembentuk sel darah merah.

Keputusan untuk mengeluarkan sejumlah komponen darah tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya, jika terus dibiarkan berada di dalam tubuh untuk waktu lama, tentu akan membawa dampak buruk yang mengancam kesehatan tubuh.

Apa saja penyakit yang membutuhkan tindakan flebotomi?

Ada beberapa kondisi yang membutuhkan prosedur flebotomi sebagai perawatannya, yakni:

1. Polisitemia vera

Polsitemia vera adalah kondisi yang terjadi ketika terlalu banyaknya produksi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit dari sumsum tulang belakang. Akibatnya, jumlah komponen penyusun darah, terutama sel darah merah, yang melebih batas normal tersebut akan membuat darah menjadi lebih kental.

Itulah mengapa nantinya laju aliran darah di dalam tubuh menjadi jauh lebih lambat. Prosedur flebotomi adalah salah satu tindakan yang setidaknya mampu mencegah perkembangan penyakit, sekaligus menurunkan jumlah produksi sel darah merah.

2. Hemokromatosis

Hemokromatosis adalah suatu kondisi medis yang disebabkan oleh terlalu banyaknya penyerapan zat besi dari makanan sehari-hari. Zat besi dalam jumlah banyak ini kemudian disimpan di dalam organ tubuh, seperti jantung, hati, serta pankreas.

Pengobatan dengan flebotomi diyakini dapat membantu mengurangi jumlah zat besi yang berlebihan, dengan cara mengeluarkan sejumlah sel darah merah dari dalam tubuh. Cara tersebut juga merangsang sumsum tulang belakang untuk menghasilkan sel darah merah baru, menggunakan zat besi yang disimpan oleh tubuh.

Jika tidak segera diobati, hemokromatosis berisiko merusak fungsi jantung, hati, dan pankreas. Lebih dari itu, kondisi ini pun dapat mengancam nyawa karena menyebabkan penyakit kanker, sirosis hati, hingga aritmia.

3. Porfiria

Porfiria adalah suatu kondisi langka yang terjadi karena proses pembentukan heme (komponen dari sel darah merah), terhambat karena tubuh kekurangan enzim tertentu. Normalnya, ada banyak enzim yang terlibat untuk mendukung proses pembentukan heme.

Kekurangan salah satu enzim dapat mengakibatkan senyawa kimia menumpuk di dalam tubuh, yang dikenal sebagai porfirin. Itu sebabnya, gejala dari porfirin ini disebut porfiria, yang membuat kulit terbakar dan melepuh saat terkena sinar matahari.

Dalam kasus ini, prosedur flebotomi akan membantu mengeluarkan sejumlah sel darah merah dari tubuh.

Adakah efek samping dari tindakan flebotomi?

Setiap prosedur kesehatan yang dilakukan tentu memiliki efek samping tertentu, tak terkecuali dengan flebotomi. Efek samping utama dari prosedur pengeluaran darah dari dalam tubuh ini dapat mengubah volume darah dalam tubuh.

Atas dasar inilah, beberapa orang mengeluhkan pusing karena hemoglobin darah merosot rendah (anemia) usai melakukan flebotomi.

Inilah mengapa setelah donor darah, teknisi meminta Anda untuk duduk perlahan sebelum berdiri. Anda harus minum banyak air sesudahnya. Jika gejalanya menetap atau tidak dapat ditoleransi, setelah darah dikeluarkan, cairan normal salin dapat diberikan melalui infus untuk menggantikan volume yang dihilangkan.

Hidup sehat Hidup bahagia