5 Prosedur Medis Paling Mengerikan Sepanjang Sejarah

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Tak bisa disangkal, segala kemajuan pengobatan modern yang kita nikmati saat ini tak lepas dari sepak terjang dokter di masa lampau. Sayangnya rekam jejak sejarah tak selalu menunjukkan cerita bahagia. Di kala dokter dan ilmuwan seharusnya mengabdi di bawah sumpah “tidak akan pernah mencelakai”, tak jarang mereka bertindak melenceng; menggunakan berbagai metode mengerikan untuk menyembuhkan pasiennya.

Berikut adalah 10 dari praktek medis yang paling mengerikan yang pernah dilakukan pada manusia sepanjang sejarah.

1. Morfin untuk balita rewel

Di abad ke-19, Charlotte N. Winslow, seorang bidan dan pengasuh anak, meramu sebuah obat paten yang bertujuan untuk menenangkan anak-anak balita yang rewel dan bandel selama masa-masa teething alias tumbuh gigi. Sepertinya tak ada yang salah, bukan?

Namun, setiap ons dari Mrs’ Winslow Soothing Syrup, begitu nama merek dagangnya, mengandung 65 mg morfin dan alkohol murni. Dan tidak hanya itu, sirup “menenangkan” ini kadang juga mengandung ramuan narkotika lain sebagai kombinasi morfin, berkisar dari natrium karbonat, kloroform, kodein, heroin, opium bubuk, spirit foeniculi, ammonia, hingga ganja.

Sepanjang tahun 1800-an, produsen dan pedagang obat tidak diwajibkan untuk mencantumkan bahan-bahan komposisi pada label kemasan obat, sehingga para konsumen sering tidak mengetahui apa isi dari obat yang mereka beli. Akibatnya, banyak anak-anak ini meninggal dunia akibat keracunan dan overdosis. Mrs’ Winslow Soothing Syrup dikecam oleh American Medical Association pada tahun 1911, tapi tetap beredar di pasaran hingga akhir 1930-an.

Versi dewasa dari obat penenang ini juga umum dipasarkan untuk mengobati batuk — mengandung heroin murni.

2. Trepanation, mengebor kepala tanpa bius

Trepanation adalah istilah kedokteran zaman dulu untuk pengeboran lubang di kepala, tanpa obat bius. Trepanation adalah prosedur bedah tengkorak tertua dalam sejarah, tercatat kembali zaman manusia gua sejauh 7 ribu tahun lalu di era Mesolitik awal.

Pengeboran kepala pasien dalam keadaan sangat sadar ini paling sering digunakan sebagai pengobatan untuk epilepsi dan kejang, migrain, abses, pembekuan darah, dan bahkan kegilaan. Menariknya, ada rekam bukti bahwa sebagian besar pasien dari prosedur ini selamat dan mampu bertahan hidup. Di zaman modern ini, dokter masih menggunakan trepanation, meskipun hanya untuk beberapa operasi terbatas yang sangat spesifik dan dalam metode yang jauh lebih aman.

3. Lobotomi

Lobotomi, juga dikenal sebagai leucotomy, adalah operasi bedah saraf yang melibatkan memutuskan koneksi di lobus prefrontal otak. Lobotomi sampai saat ini masih dikatakan kontroversial, tapi secara luas dilakukan selama lebih dari dua dekade sebagai pengobatan untuk skizofrenia, depresi manik dan gangguan bipolar, serta penyakit mental lainnya. Lobus frontal menjadi sasaran karena hubungannya dengan perilaku dan kepribadian. Pencetus prosedur, seorang ahli saraf Portugis António Egas Moniz dianugerahi Hadiah Nobel untuk karyanya pada tahun 1949.

Terinspirasi oleh kesuksesan Egas Moniz, seorang dokter bernama Walter Freeman di tahun 1950-an menyusun prosedur yang lebih cepat namun lebih mengerikan: menghujamkan pisau pembelah es ke sudut mata pasien saat ia terbaring tak sadarkan diri — kadang saat sadar. Operasi brutal ini sangat jarang berakhir baik, justru membuat pasien lumpuh secara mental atau meninggal di tempat.

4. Membuang darah

Dokter di Abad Pertengahan percaya bahwa tubuh manusia dipenuhi dengan empat zat dasar, disebut humor, yaitu dahak, empedu kuning, empedu hitam, dan darah. Mereka juga percaya bahwa kebanyakan penyakit diakibatkan oleh “darah kotor”, jadi untuk membersihkan darah kotor dan sekaligus mengembalikan keselarasan empat zat dasar tubuh, dokter akan menguras kelebihan darah dalam jumlah besar dari tubuh pasien — hingga 4 liter!

Salah satu metodenya adalah dengan mengiris langsung pembuluh vena, umumnya di siku dalam untuk menguras darah kotor yang akan ditampung dalam sebuah mangkuk. Di beberapa kasus, dokter akan menggunakan lintah untuk mengisap darah pasien.

Pengurasan darah ini diresepkan dokter untuk mengobati segala jenis penyakit, mulai dari radang tenggorokan sampai The Great Plague. Metode pengobatan ini akhirnya tenggelam dari mata publik karena perkembangan zaman dan teknologi, walaupun begitu terapi alternatif lintah dan bekam masih umum digunakan dalam pengobatan modern sebagai bentuk pengurasan darah yang lebih terkontrol.

5. Terapi “penyembuhan” gay

Sebelum American Psychiatric Association (APA) mencoret homoseksualitas sebagai gangguan mental pada tahun 1973, terapi ini digunakan secara rutin dengan harapan bahwa praktik ini akan mencegah atau menghilangkan perilaku homoseksual.

Di antara tahun 1971 dan 1989, banyak “pasien” yang dipaksa untuk menerima pengebirian kimia dan terapi kejut listrik langsung ke alat kelamin mereka, dimaksudkan untuk menyembuhkan mereka dari homoseksualitas mereka. Sebanyak 900 orang gay, berusia sekitar 16-24 tahun menjadi sasaran operasi paksaan “pengembalian gender”. Pria-pria ini diubah menjadi wanita melalui prosedur bedah melawan kehendak mereka, kemudian dikembalikan ke dunia nyata. Penugasan kembali gender ini sering tidak komplit, dan tanpa dimaksudkan untuk melibatkan resep obat hormon untuk mempertahankan identitas seksual baru mereka.

BACA JUGA:

Share now :

Direview tanggal: November 29, 2016 | Terakhir Diedit: Februari 29, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca