Ini Penyebab Kenapa Lidah Anda Suka Makanan Asin

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Apakah Anda salah satu orang yang suka dengan rasa asin atau gurih? Sebagian orang suka dengan rasa asin, sebagian lagi cenderung suka rasa manis atau pun asam. Hal ini memang dipengaruhi dengan selera yang dimiliki oleh masing-masing individu. Tapi tahukah Anda ternyata pemilihan rasa dan selera makanan ternyata dipengaruhi oleh genetik? Anda yang suka dengan rasa asin dan gurih, sebenarnya memiliki gen yang berbeda dengan individu lainnya.

Selera terhadap rasa disebabkan oleh faktor genetik

Jika Anda termasuk orang yang suka rasa asin atau gurih, mungkin gen bisa jadi salah satu penyebabnya. Pernyataan ini muncul dari sebuah studi yang dilakukan American Heart Association pada tahun 2016. Studi ini mencatat kebiasaan diet dari 407 responden yang memiliki risiko untuk mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah. Tidak hanya mencatat dan memperhatikan pola makannya saja, responden juga diminta untuk melakukan tes DNA.

Di hasil akhir penelitian diketahui adanya perbedaan genetik, yaitu gen TAS2R38 yang mempengaruhi pemilihan rasa serta selera terhadap makanan. Sehingga sebagian orang dari total responden tersebut mengonsumsi garam (dari makanan asin) 1,9 kali lebih banyak dibandingkan dengan kelompok yang tidak mempunyai kelainan genetik.

Kenapa banyak orang tak suka makanan pahit?

Makanan yang mempunyai rasa pahit memang dihindari oleh banyak orang. Tetapi, pada orang yang memiliki gen TAS2R38, mereka memiliki kemampuan lebih untuk mendeteksi dan merasakan rasa pahit dalam suatu makanan. Sehingga, makanan yang dirasakan tidak pahit pada orang yang normal (yang tidak punya gen tersebut) tetap akan terasa pahit di mulut mereka, seperti pada brokoli dan beberapa jenis sayur-sayuran. 

Kemampuan yang lebih untuk merasakan rasa pahit ini justru membuat mereka cenderung memilih makanan dengan rasa asin yang kuat. Hal ini menyebabkan mereka sering kali menambahkan garam ke makanan mereka untuk menutupi rasa pahit yang mungkin saja muncul dari makanan yang mereka makan.

Faktor genetik penyuka rasa asin ini bisa menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan

Gen yang mempengaruhi selera rasa makanan memang tidak akan berdampak langsung pada kesehatan. Namun, gen ini akan mempengaruhi pemilihan makanan seseorang dan mengubah pola makannya. Orang yang mempunyai gen TAS2R38, yang cenderung memilih makanan dengan rasa asin, akan berisiko mengalami penyakit jantung koroner, gagal ginjal, stroke, dan serangan jantung.

Tidak hanya itu, bahkan dalam beberapa penelitian telah membuktikan bahwa orang yang suka dengan rasa asin, otomatis akan menambahkan garam ke dalam masakannya. Sementara terlalu garam mengandung natrium yang sangat berbahaya jika terlalu banyak dikonsumsi.

Dalam penelitian-penelitian tersebut, terlalu banyak mengonsumsi natrium juga dapat menyebabkan kemampuan kognitif seseorang menurun, menurunkan kepadatan tulang, meningkatkan risiko kanker perut, serta mengganggu fungsi ginjal.

Berapa batas konsumsi garam dalam satu hari?

American Heart Association menganjurkan untuk tidak mengonsumsi natrium (yang didapat dari garam) lebih dari 2.300 mg dalam sehari. Namun lebih baik lagi jika Anda dapat mengonsumsi natrium hanya 1.500 mg per hari. Seperempat sendok teh garam mengandung sekitar 600 mg natrium. sehingga untuk mengurangi natrium dalam makanan yang Anda makan, Anda harus mengurangi konsumsi makanan rasa asin yang berlebihan.

Selain itu, natrium tidak hanya ditemukan pada garam, tetapi juga pada makanan atau minuman kemasan. Hal ini harus Anda perhatikan, jika tidak maka risiko yang Anda miliki untuk mengalami penyakit jantung semakin besar.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Jangan sampai berbagai efek samping imunisasi (vaksin) bikin Anda takut apalagi ragu diimunisasi. Pelajari dulu seluk-beluknya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

Pilihan Obat Sakit Gigi Antibiotik dan Apotek yang Ampuh untuk Anda

Obat apa yang Anda andalkan ketika sakit gigi menyerang? Berikut adalah obat sakit gigi paling ampuh yang bisa dijadikan pilihan!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 16 Oktober 2020 . Waktu baca 13 menit

Alergi Binatang Kucing dan Anjing: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Suka gatal dan bersin saat di dekat hewan berbulu? Bisa jadi itu pertanda Anda alergi binatang seperti kucing atau anjing. Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 15 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

masalah seks pada pria

5 Masalah Seks yang Paling Mengganggu Pria (Plus Cara Mengatasinya)

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
pekerjaan rumah tangga saat hamil

Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
bikin kopi yang sehat

6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
daging ayam belum matang

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit