Mengenal Lobotomi, Bedah Otak Mengerikan untuk “Mengobati” Gangguan Jiwa

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/03/2020 . 4 menit baca
Bagikan sekarang

Di masa lalu, ilmu dan penelitian seputar gangguan kejiwaan belum memadai seperti saat ini. Akibatnya, penanganan terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) cenderung semena-mena dan bisa dikatakan sadis. Salah satunya adalah prosedur lobotomi atau leucotomy. Lobotomi adalah tindakan bedah otak mengerikan dari pertengahan abad 20 yang sudah tidak dipraktikkan lagi saat ini. Seperti apa prosedurnya dan bagaimana hasilnya? Simak di bawah ini, ya!

Apa itu lobotomi?

Lobotomi adalah operasi pembedahan otak bagi pasien gangguan jiwa seperti skizofrenia, depresi, gangguan bipolar, dan PTSD. Pencetusnya yaitu ahli saraf asal Portugal bernama António Egas Moniz. Prosedur ini kemudian dikembangkan oleh para ahli bedah saraf di seluruh dunia, termasuk Walter Freeman dari Amerika Serikat. Lobotomi marak dipratikkan tahun 1935 sampai 1980-an.  

Tujuan melakukan lobotomi adalah “menenangkan” pasien gangguan jiwa dengan cara merusak atau memotong jaringan-jaringan otak dalam lobus prefrontal, letaknya di bagian depan. Pasalnya, dulu gangguan jiwa diduga disebabkan oleh emosi dan reaksi seseorang yang berlebihan. Maka, memotong jaringan-jaringan lobus prefrontal otak diharapkan mampu menghilangkan “kelebihan” emosi dan reaksi tersebut. Dengan begitu, pasien pun jadi lebih tenang dan mudah dikendalikan.

Bagaimana prosedur lobotomi dijalankan?

Pada awal penerapan lobotomi, tengkorak pasien di bagian depan akan dilubangi. Dari lubang tersebut, dokter menyuntikkan cairan etanol untuk menghancurkan serat-serat dalam lobus prefrontal. Serat-serat inilah yang menghubungkan lobus prefrontal dengan bagian otak lainnya.  

Kemudian, prosedur ini diperbarui dengan cara merusak bagian depan otak dengan kawat besi. Kawat ini juga dimasukkan lewat lubang dari tengkorak.  

Seolah kedua cara tersebut belum cukup sadis, Walter Freeman menciptakan metode baru yang lebih kontroversial. Tanpa melubangi tengkorak, Walter akan mengiris bagian depan otak dengan alat khusus seperti obeng dengan ujung besi yang sangat runcing. Alat ini dimasukkan lewat rongga mata pasien. Pasien tidak dibius dengan obat, melainkan disengat dengan gelombang listrik khusus agar pasien tak sadarkan diri.

Lobotomi adalah prosedur berbahaya yang tidak membantu pasien

Praktik lobotomi mulanya dinilai berhasil karena pasien memang jadi lebih tenang. Akan tetapi, tenang di sini justru maksudnya menjadi lumpuh, baik secara mental maupun fisik. Dicatat oleh seorang pakar saraf dan kejiwaan dr. John B. Dynes, para korban lobotomi menunjukkan gejala-gejala layaknya mayat hidup. Mereka jadi kehilangan kemampuan bicara, berkoordinasi, berpikir, dan merasakan emosi.

Memang jadi lebih mudah bagi keluarga untuk mengurus pasien karena mereka sudah tidak meledak-ledak lagi. Namun, keadaan mental pasien tidak membaik. Laporan dari keluarga menyebutkan bahwa pasien sehari-hari hanya bisa menatap kosong ke kejauhan. Ujung-ujungnya pasien malah harus dirawat di rumah sakit jiwa seumur hidup karena tak bisa melakukan aktivitas seperti orang biasanya, misalnya makan dan bekerja.

Wajar saja, ini lantaran lobus prefrontal mereka telah dirusak sedemikian rupa. Lobus prefrontal bertanggung jawab untuk menjalankan fungsi eksekutif otak. Misalnya mengambil keputusan, bertindak, membuat perencanaan, bersosialisasi dengan orang lain, menunjukkan ekspresi dan emosi, serta mengendalikan diri.

Dalam banyak kasus lainnya, pasien meninggal dunia setelah melakukan operasi lobotomi. Penyebabnya yaitu perdarahan otak hebat.  

Penanganan terhadap gangguan jiwa di zaman modern

Di akhir tahun 1980-an, prosedur lobotomi akhirnya diberhentikan dan dilarang dipraktikkan. Selain itu, pada tahun 1950 pengobatan terhadap gangguan jiwa dengan obat-obatan mulai dikembangkan. Pengobatan baru ini akhirnya berhasil menggeser praktik sadis lobotomi.

Pada zaman sekarang, pengobatan yang ditawarkan bagi ODGJ adalah obat-obatan antidepresan atau antipsikotik, terapi konseling, atau kombinasi keduanya. Meskipun sampai saat ini belum ada obat atau prosedur instan yang bisa menyembuhkan gangguan jiwa, pengobatan modern saat ini jauh lebih efektif untuk mengendalikan gejala-gejala gangguan jiwa sekaligus meningkatkan kualitas hidup ODGJ.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Kita Merasa Mual Saat Sedang Gugup?

Saat harus tampil di depan umum atau mau kencan pertama, tiba-tiba perut jadi sangat mual karena gugup. Mengapa bisa begitu dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 21/06/2020 . 6 menit baca

10 Makanan Terbaik untuk Anda yang Cepat Lapar

Anda sering merasa lapar atau ingin mengunyah sesuatu meski sudah makan? Sudah saatnya mencoba menu makanan berikut ini agar Anda tidak cepat lapar.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 21/06/2020 . 5 menit baca

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Selain itu studi terbaru menunjukkan bahwa berpikir negatif (negative thinking) terus menerus bisa meningkatkan risiko demensia. Apa bisa dicegah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Hidup Sehat, Fakta Unik 20/06/2020 . 4 menit baca

9 Makanan yang Ampuh Mengusir Perut Kembung

Perut kembung atau begah pasti sangat mengganggu. Untuk segera meredakan rasa tidak nyaman, siapkan berbagai makanan berikut untuk mengusir perut kembung.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 20/06/2020 . 6 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

gejala penyakit yang diacuhkan

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 4 menit baca
kacang almond

Khasiat Mujarab Kacang Almond untuk Penderita Hipertensi

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 menit baca
menjaga kebersihan diri

Apakah Anda Termasuk Orang yang Cukup Bersih? Cek Dulu di Sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 5 menit baca
apa itu kolesterol

7 Hal yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Kolesterol

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 5 menit baca